Lsm-Lepham Konut : Derita Warga, Musim Hujan Jadi Kolam & Kemarau Dipenuhi Debu.

oleh -

TOPIKterkini.com, Konut – Sepanjang jalan trans sulawesi, tepatnya di Desa Tondowatu dan Desa Kapolano, Kecamatan Motui, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra). Jalan tersebut dikeluhkan warga setempat dan sangat memprihatinkan pengguna roda dua dan roda empat.

Pasalnya, akses yang setiap harinya di lintasi itu sudah beberapa tahun terakhir rusak parah. Kalau musim penghujan menjadi kolam dan berlumpur sedangkan kalau musim kemarau dipenuhi debu.

“Warga yang menggunakan jalan tersebut pun mengeluhkan tebalnya debu yang beterbangan di kala musim kemarau sehingga membuat susah bernafas. Sangat terganggu sekali. Debunya itu buat nggak tahan. Apalagi sekarang ini, jalan tersebut berlubang dan berlumpur”

Hal itu, diucapkan salah satu Lembaga Pemerhati Hak Asasi Manusia (LSM-Lepham) Kabupaten Konawe Utata (Konut), Jumhar, SH. Saat ditemui awak media TOPIKterkini.com. Kamis, 20/6/19.

Akses trans sulawesi rusak parah, di akibatkan atas aktifitas perusahaan tambang galian ‘C’ di Kabupaten Konawe Utara khususnya Kecamatan Motui dan sekitarnya. Dimana kendaraan perusahaan tersebut lalu lalang terus aktif untuk pemuatan batu gamping yang mengakibatkan badan jalan rusak parah dan berlumpur serta berdebu saat musim kemarau hingga menimbulkan dampak polusi terhadap warga. tutur Lsm-Lepham Konut, Jumhar.

Hal tersebut bukan saja terjadi di Desa Tondowatu dan Kapolano Kecamatan Motui Konut, kejadian serupa terjadi di sepanjang jalan Desa Paku Jaya, Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, jalan yang menghubungkan antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah tersebut sudah diderita masyarakat sejak bertahun tahun lamanya terhadap masyarakat Konawe dan Konawe Utara. Masyarakat setempat berharap jalan tersebut segera ada penanganan dari Balai Bina Marga Provinsi Sulawesi Tenggara. tutur Jumhar.

“Berdasarkan data medis Puskesmas Motui Konut, bahwa masyarakat telah terserang penyakit yang cukup drastis seperti batuk khususnya bagi anak-anak maupun bayi, Ini terjadi sejak adanya perusahaan tambang batu beroperasi di konut,” ungkap Jumhar.

Lanjutnya, selain menimbulkan dampak penyakit terhadap warga tersebut, juga terjadi kerugian pada Negara, di mana banyaknya alat berat yang di gunakan diduga tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM) Indusri bahkan perusahaan diduga tidak memiliki izin penampungan BBM.

“Kerugian Negara di sektor penjualan BBM Industri mencapai milyaran rupiah jika di presentase dari hasil penjualan BBM, yang seharusnya mengalami peningkatan penjualan ketimbang penjualan petralite dan premium. Namun, justru berbanding terbalik, di mana hasil penjualan BBM Industri lebih rendah,” ungkap Lsm Lepham Konut Jumhar.

Kondisi ini cukup memprihatinkan, seharusnya Intansi terkait turun memantau secara langsung di lapangan, namun sejauh ini baik pemerintah maupun penegak hukum diduga terkesan tutup mata. Bagaimana tidak, di lingkup perusahaan pun di duga ada oknum yang ikut bermain apakah itu BBM atau pemillk perusahaan yang nota bene di belakang layar. pungkasnya

Laporan Jurnalis Sultra : Endran
Publisher : Darman

Loading...