oleh

Pilkada Butur 2020 “Menyoal Mandat Rakyat”

TOPIKTERKINI.COM, BUTUR – Pemilihan kepala daerah yang digelar pada tahun 2020 mendatang, terkhusus di Kabupaten Buton Utara (Butur), kini menjadi perbincangan hangat oleh warga tentang pemilihan “Bupati”. Gemanya terasa hingga dimana-mana.

“Semilir angin utara telah membawa perbincangan hangat itu ke banyak sudut kampung. Pelopornya mulai dari para penggiat politik, emak-emak kampung, kalangan mahasiswa dan juga tak lupa kaum netizen sebagai pengamat dadakan tiap menjelang pesta demokrasi”

Perhelatan Pilkada memang selalu seru untuk dinantikan sebab moment ini merupakan ajang adu kuat para pendekar kampung. Namun, bukan pendekar kampung yang suka mabuk-mabukan lalu adu otot tapi pendekar yang dimaksud yakni mereka yang memiliki secerca visi cemerlang untuk mengantarkan daerahnya menapaki keadilan sosial dan kesejahteraan rakyatnya.

“Pasca 98, Konfigurasi perpolitikan daerah memang mengalami banyak penataan. Konstruksi politik kita ibarat dunia yang penuh pertempuran wacana. Sistem Seleksi kepemimpinan hanya menghendaki the Man of fighter. Sehingga setiap politisi menyiapkan Kantong Tebal dan aktor think tank yang tepat mengendalikan semua arus harapan rakyat”

Ditahun-tahun mendatang, politik akan menjadi arena terbuka yang tidak bertuan. Politik kita juga penuh dengan metafor, sarat akan simbol-simbol. Inilah peluang emas yang ditunggu semua partai politik agar mereka bisa merangsak maju untuk memasuki arena. Mengajukan kader masing-masing bertarung di arena politik demi meraih kursi orang nomor satu di Butur.

Seiring berjalannya waktu muncul figur-figur kawakan lagi potensial. Banyak orang sudah memperkenalkan diri sebagai bakal calon. Meski Beberapa orang disebut-sebut maju mewakili klan atau keluarga tertentu dengan baground berbeda-beda. Mereka bergerak mengelilingi pelosok perkampungan, tentunya sembari menyapa dan menebarkan senyum khas layaknya Pemimpin.

Disamping itu, Abu Hasan bertindak selaku petahana masih duduk manis sambil menakar Konstelasi yang berkembang. Lalu Tokoh senior Rukman Basri juga digadang-gadang basis pendukungnya. selain itu ada pula mantan bupati sebelumnya Ridwan zakaria yang kembali manaruh kepercayaan kepada masyarakat, serta para praktisi hukum Berbakat seperti Afirudin Matara dan Muhammad. hingga Heroisme Bung Aswadi Adam, komandan gerakan masyarakat peduli Buton Utara (GEMPUR) yang tiba-tiba saja masuk mengebrak kesadaran rakyat di Negeri TinadeaKono sara itu.

“Demokrasi era sekarang memang memberikan ruang penuh bagi warga negara yang ingin mencalonkan diri. Tapi dengan ruang terbuka ini lah mestinya berbanding lurus dengan Tabungan ide besar apa yang hendak disodorkan oleh setiap Bakal Calon kepada konstituen.?? Bukan uang yah.!!”

Satu hal yang selalu mengganjal dalam gerilya politik figur itu adalah hilangnya ide-ide besar ke mana wilayah itu hendak dibawa. Kita belum menemukan satu gagasan besar apa yang hendak diterapkan. Kebanyakan hanya masuk pada isu-isu populis dan perdebatan seberapa tebal uang yang anda siapkan mengarungi kompetisi.

Diumur yang cukup dewasa ini. Rakyat harus menjadikan cerminan utama, perjalanan panjang perjuangan pemekaran Buton Utara sampai dua periode pilkada terdahulu. Dalam banyak soal, masih banyak catatan perbaikan bagi pemerintah daerah Butur terutama infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Kemudian penempatan ibu kota yang belum juga menemui titik terang.

Dalam suatu diskursus, saya teringat penuturan senior saya Karmidin. Seorang Cum Laude Magister Sosiolog pembangunan kampus Muhammadiyah Malang itu menuturkan bahwa, persoalan otonomi daerah kekinian adalah bagaimana merealisasikan Poltical Will Pemerintah. Menurutnya, Resistensi kepercayaan publik terjadi akibat ketidak seimbangan antara Agenda prioritas pemerintah dan Aspirasi Masyarakat.

Pada prinsipnya, keterlibatan Rakyat secara aktif di Pilkada adalah keharusan yang tidak bisa di kesampingkan. Sebab, esensi demokrasi menempatkan rakyat pada postur utama dalam pengambilan kebijakan. Maka ada beberapa hal yang perlu penulis gambarkan ;

Pertama, open ground artinya Membuka Ruang Selebar-selabarnya bagi figur yang ingin menawarkan programnya jika terpilih nanti. disini, ada peran the power full rakyat untuk menyalurkan masukan soal nasib mereka sendiri. Rakyat menjadi raja dari dirinya sendiri. lewat tatap muka kita dapat Meminimalisir politik ingkar janji. menyaring dengan jernih siapa saja berkompeten merealisasikan ucapannya.?

Kedua, Menghindari segala bentuk politik uang yang bisa mempengaruhi pilihan politik. Krena menerima uang sama halnya dengan mengadaikan cita-cita luhur pembangunan. Tanpa kita sadari, Dominasi Money politik sumber degradasi moril generasi. Pemicu konflik horizontal sesama keluarga yang telah lama Ditenun dan lebih parah lagi melebarnya jurang ketimpangan sosial ditengah teriakan kebutuhan dasar fasilitas publik. Sebab penguasa butuh pengembalian modal. No free lunch laee guys.!

Ketiga, Menolak Tegas Dinasti politik.
Tidak ada kompromi pada Kekuasan yang hanya sibuk membenahi istana pasir tempat berlindung keluarga dan kroni-kroni fanatis pemuja nikmatnya APBD. Rakyat harus berdiri membendung Siklus koalisi yang berujung pada bagi-bagi kursi. Apalgi pada mereka yang krisis gagasan dan bermental korup.

Lihat saja, sepanjang tahun 2018 ada 21 kepala daerah yang di OTT oleh KPK. dua diantaranya kepala daerah asal sultra (Buton selatan dan kota kendari). Menurut ketua KPK pak Agus Rahardjo, Salah satu penyebab Maraknya OTT adalah dinasti politik Sebagai Ancaman nyata Bagi sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Diatas kertas, elit memaknai politik sebagai perjuangan dan pembumian gagasan ideologis. Tapi pada praktiknya, elit politik mengejar kepentingan sektoral sesaat demi keuntungan sebesar-besarnya di masa kini dan masa depan.

Kata ilmuwan Harold Lasswel “Politik adalah siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana” sebab elit politik kita tetap pragmatis. Benar juga ada ungkapan bahwa rakyat selalu menjadi pihak yang kalah.

Menarik untuk dinantikan, Siapa yang akan tampil sebagai oase ditengah gurun pasir.
Mungkin saja orang -orang beranggapan petahana masih kuat berkat keberhasilannya meyakinkan elit DPP PDI-Perjuangan untuk melanjutkan kepemimpinan Ir. Hugua di DPD I sultra. Ataukah para praktisi meja hijau akan tampil meyakinkan rakyat bahwa untuk mencapai cita-cita perjuangan rakyat, langkah awal adalah dengan membenahi sektor hukum Buton utara.

Disisi lain Ridwan Zakaria dan Rukman Basri boleh dibilang mereka satu klan keluarga, juga satu jejaring pendukung. mampukah mereka membangun kembali basis akar rumput seperti aksi fenomenal sepuluh tahun lalu yang mengejutkan itu. Lalu Dimana kah posisi Si super Hero Aswadi Adam Berpijak. Bisakah ia merebut Hati Rakyat Buton Utara dengan kemurahan hati dan ketampanannya..??

Kita akan jadi saksi dari sejarah keshahihan Mandat Rakyat. Selamat menyimak..

Oleh : Pratno Kurniawan

Laporan Jurnalis Sultra : Darman

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed