oleh

Ini Pandangan Kasmar Hasbur, Atas Pertemuan Kepolisian Resort Bondoala dengan Unsur Pemerintah dan Tokoh Masyarakat

TOPIKTERKINI.COM, KONAWE – Apa yang menjadi perbincangan pada hari-hari belakangan ini di Lingkar Tambang Morosi diwilayah Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), baik itu soal Ummat dan Karyawan serta yang terhangat adalah soal benih- benih Konflik yang mengarah ke unsur SARA.

Menurut kacamata Kasman Hasbur (Pemerhati Masyarakat Susah Lingkar Tambang dan Pemerhati Lingkungan) adalah bias dari akumulasi dan banyaknya persoalan/tuntutan ummat yang tak kunjung terselesaikan serta terkesan di diamkan (Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu) oleh Penguasa dan Perusahaan.

Akhirnya yang muncul adalah SDM (Saling Menyelamatkan Diri Masing-Masing). Persoalan demi persoalan mulai dari pembebasan Lahan Masyarakat yang serba kucing-kucingan cara penyelesaiannya, Pemecatan dan Pemberhentian Karyawan secara sepihak serta Pembangunan tanpa Sosialisasi.

Kemudian, Penyerobotan Hak-Hak Ummat akhirnya menjadi diskursus disegala penjuru kehidupan ummat yang menjadi salah satu pemicu. Ditambah sifat Arogan dari Oknum Aparat yang Pro ke Perusahaan serta penyelesaian masalah dengan menurunkan premanisme adalah bagian dari runtuhnya peradaban Ummat, hingga mengakibatkan lunturnya peradaban Budaya, Nilai dan Norma.

“Akibat dari situasi ini, mau tidak mau Perusahaan telah menciptakan jiwa-jiwa, sifat-sifat Konsumerisme, Hedonisme, dan Kapitalisme dikalangan Ummat dan Generasi,” terang Kasman Hasbur. Jumat, (18/10/19).

Pertemuan yang dilalukan Kepolisian Resort Bondoala dengan mengangkat tema “Bijak dalam Penggunaan Media untuk Menjaga Stabilitas Keamanan demi Keutuhan NKRI” yang dihadiri unsur Pemerintah, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, LSM, Perwakilan Masyarakat di tiga Kecamatan Bondoala, Kapoiala dan Morosi. Hal ini merupakan bentuk yang sangat baik dan bijak atas adanya isyu-isyu hangat belakangan ini yang berkembang dilingkungan Masyarakat sekitar PT. VDNI Morosi Kabupaten Konawe.

“Melihat situasi ini sebaik apapun pertemuan jika semua unsur dan stockholder tidak fokus menjawab tantangan yang sedang berlangsung terutama pihak Perusahaan tidak peka dengan keadaan Ummat dan Karyawannya, maka ketersinggungan terus terjadi dan akan menuai sorotan-sorotan tajam,” ungkap Kasman.

Atas dasar itu, kami dari Pemerhati Ummat dan Lingkungan sekitar tambang telah lama bersuara akan hal-hal diatas, dan apapun bentuk kejadian yang sedang menimpa Ummat dan Karyawan hanya bisa diselesaikan dengan cara sebagai berikut :
1. Penegakan Keadilan.
2. Penguasa harus jadi corong untuk menyelesaikan soal-soal keummatan yang telah dan sedang berkembang.
3. Perusahaan harus menghentikan pola-popa manajemen konflik.
4. Sifat-sifat premanisme di Perusahaan harus ditiadakan.
5. Junjung tinggi peradaban Budaya dengan cara jalin silaturrahmi dan hidupkan nilai nilai keagamaan di Lingkar Tambang Morosi, terapkan tekhnologi ramah lingkungan.
6. Selesaikan persoalan Ummat dan karyawan dengan sebijak mungkin dan buang jauh-jauh sifat manajemen yang egoistik.
7. Perusahaan harus memenuhi akan tanggungjawabnya baik ke Pemerintah maupun ke Masyarakat dalam bentuk CSR yang bermutu.

“Jadi ada 7 hal penting yang harus dijalankan atau ditempuh oleh pihak Manajemen Perusahaan PT. Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dalam menyelesaikan persoalan Ummat dan Karyawan,” pungkas Kssman Hasbur.

Laporan Jurnalis Sultra : Tim

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed