oleh

Sapi di Ujung Malam

Sapi di Ujung Malam

Catatan Pinggir:
Bahtiar Parenrengi

Ngopi pagi ini terganggu dengan bau yang kurang sedap. Bau yang tentunya mengalahkan aroma kopi hitam.

Aroma itu tentu lain. Bukan aroma parfum pasaran, yang harganya murahan. Bau itu, aroma bau kotoran sapi disepanjang jalan tempat kami ngopi.

Kotoran sapi itu memang baunya sangat mengganggu.
Menurut penikmat kopi disampingku, sapi itu sering hadir diujung malam. Sapi itu bergerombol, bak komplotan manusia malam mencari rejeki.

Kotoran sapi, hadiah diujung malam. Pun baunya dinikmati di pagi hari. Bisa menjadi pupuk tanaman ketika kering. Banyak yang minat. Termasuk saat sekolahan dijaman 70-80an, kita mendapat titah dari guru untuk membawa kotoran sapi kering ke sekolah.

Tentu bukan untuk dijadikan bahan praktikum. Tetapi untuk dijadikan pupuk tanaman diseputaran sekolah.

Tapi kalau kotoran sapi belepotan di jalanan, tentu menjadi lain. Menjadi bahan cemohan. Menjadi bahan perbincangan di warung kopi atau di media sosial.

Penertiban hewan dalam kawasan kota, tentu sudah digelar. Himbauan untuk tidak melepas hewan juga sudah digalakkan. Walau disertai ancaman denda lewat Perda, namun pemilik hewan terkadang kurang memiliki kesadaran.

Penegak Perda bakal jadi bulan-bulanan jika hewan, seperti sapi dan kambing senjadi tak terkendali keliling kota.

Tanpa kesadaran, niscaya akan terwujud sebuah keteraturan. Dan ketika Penegak Perda bertindak, para pemilik hewan menganggapnya keterlaluan.

***
Sapi, kini harganya mulai meroket. Harga tak seperti bulan-bulan sebelumnya. Ada pergeseran naik karena moment Idhul Qurban semakin dekat.

Biasanya, harga sapi telah bergeser dari harga sebelumnya, kisaran 500 ribu hingga 1,5 juta setiap ekornya ketika menjelang Lebaran haji. Itulah dinamika bisnis yang oleh para pelakunya, tentu mengharapkan untung yang tak sedikit.

Kekurangan sapi? Itu mustahil. Karena Kabupaten Bone menjadi salah satu daerah pemasok sapi dan daging sapi yang cukup besar di Sulawesi Selatan. Bahkan beberapa daerah, seperti Sulawesi Tengah dan Kalimantan mendapatkan pasokan bibit sapi dari Kabupaten Bone.

Kontes sapi juga menjadi acara tahunan yang sering mendapat perhatian khalayak. Tak heran, kontes sapi ini pernah mendapat penghargaan dari MURI.

Soal bantuan sapi, juga sayup terdengar. Sering terdengar dan menjadi bahan perbincangan warga. Walau mungkin ada yang bernada sumbang, namun bantuan sapi untuk warga tersebut tetap berjalan aman.

Harga daging sapi juga terkadang ikut meroket. Penyebabnya, karena banyak konsumen memboyong daging sapi jelang lebaran Idhul Adha.

Daging sapi merupakan salah satu jenis bahan masakan yang paling disukai banyak orang. Karena makanan ini, banyak mengandung zat besi, protein dan kebutuhan nutrisi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita.

Daging sapi memiliki kandungan nutrisi yang ada di dalamnya.
Keunggulan dari kandungan daging sapi adalah kadar sodiumnya yang rendah. Selain itu daging sapi juga merupakan sumber dari protein, vitamin B3, vitamin B6, vitamin B12, zinc, selenium, dan fosfor.

***
Tentang sapi, juga sering menjadi kiasan. Seperti ungkapan, jangan menjadi Sapi Perahan. Ungkapan ini sering didengar, bahkan terkadang bisa menjadi trending topik.

Wayne Rooney dalam berbagai ulasan dibeberapa media menyuarakan soal sapi perahan. Seperti yang ditulis sindonews.com bahwa Wayne Rooney
terus saja membuat pernyataan kontroversial di tengah pandemi virus corona. Setelah dengan tegas ia mengatakan tak mau dipotong gajinya, kali ini Rooney mengatakan kalau pesepakbola hanya jadi sapi perahan di saat virus mematikan menyebar di Inggris.

Di negara kita, sapi perah juga sering disimbolkan sebagai “Orang yang dimanfaatkan secara terus-menerus oleh orang lain.” seperti yang diungkapkan oleh Analis Politik dari Universitas Islam Indonesia (UII), Geradi Yudhistira. Geradi mengaku memiliki harapan besar kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dapat menghilangkan stigma BUMN sebagai sapi perah parpol.

Seperti yang ditulis di warta ekonomi.co.id Geradi menegaskan, “Saya punya harapan dengan Pak Erick. Kita awasi bareng-bareng, Erick Thohir itu kan lepas dari partai. Kan selama ini BUMN jadi sapi perah parpol.”

Semoga kita tak berada pada zona seperti ini. Menjadi Sapi Perah yang bikin malang. Karena kelak akan menjadi preseden buruk untuk si pemerah dan yang diperah saat aromanya tercium.

Sapi Perah jauh lebih beresiko. Sapi Perah bisa bikin malang dibanding sapi yang berkeliaran diujung malam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed