oleh

Dari De Toeng “Mentari Sumber Konflik”

Topikterkini.com-Makassar-Usai menyaksikan Film De Toeng, kemarin (17/02/2021) menjadi perbincangan di antara para seniman, budayawan dan akademisi maupun masyarakat umum.

Ada beberapa tanggapan yang awak media jadikan catatan tanpa menyebutkan nama kecuali Syahril Patakaki (ulasan) pada tulisan terpisah, dengan harapan menjadi apresiasi pun masukan-masukan sebagai bahan koreksi, untuk film-film ke depan jika memang masih konsen pada tema-tema muatan lokal Sulawesi Selatan.

Bermula di Bukit Toeng, saat Dokter Zaldi (Sean Hasyim) akan datang bersama istrinya bernama Hanum (Kartika Waode) dan anaknya bernama Rania (Reysha Nafisa Zildjiani) yang akan menempati Villa itu sebagai rumah dinasnya. Dg. Maga (Jamal April Kalam merangkap koordinator talent) dkk warga setempat di perintahkan oleh Kepala Dusun (Andi Agung Iskandar) untuk membersihkan rumah sebelum keluarga dr
Zaldi datang dari Makassar.

Dg. Maga sebagai leader pembersihan karena cerita-cerita yang beredar di masyarakat disana – bukan rahasia lagi bahwa Villa Bukit Toeng berhantu. Kisah Misteri Nenek Toeng – Roh gentayangan Karaeng Intang (Melyasari) bersama cucunya Bagaskara mendiami tempat itu.

Awal kedatangan dokter Zaldi bersama keluarganya disambut sukacita Pak Kardus dan para warga yang bermukin disana. Termasuk Rania anak dokter Zaldi mampu melihat roh Bagaskara di belakang rumahnya. Mereka berbincang seakan-akan dunia nyata pun keduanya berkenalan dan berteman.

Beberapa malam Rania selalu terbangun dari tidurnya, karena mendengarkan nyanyian dari seorang nenek yang sedang mengayunkan cucunya. Lagi-lagi Rania mampu melihat roh Karaeng Intang. Hanum- ibunya terkejut ketika Nenek Toeng itu memperlihatkan wujudnya, sebelumnya dia seakan tidak percaya. Kaget ketakutan sampai dr. Zaldi meminta Pak Kardus agar melakukan ritual barazanji, hingga mendatangkan sanro (diperankan Ishakim – seniman perupa).

Lagi-lagi ritual itu tak mampu mengusir roh Karaeng Intang dan bagaskara dari Villa Bukit Toeng – rumah dinas dr. Zaldi. Ketika Pak Kardus flashback menceritakan kronologis peristiwa nenek toeng (di paragraf berikutnya akan diceritakan).

Adalah Amin terdengarnya Aming (diperankan Ridho) tokoh bisu-gagu, anak dari pembantu Karaeng Ledeng dan Karaeng Intang, bernama Dg. Tino. Aminglah yang mampu mengajak kompromi Karaeng Intang (nenek toeng) sewaktu raga Hanum kerasukan roh Karaeng Intang.

“Aming, kamu anak yang baik. Sampaikan Karaengmu (karaeng ledeng), agar datang kepusaraku”, kata Nenek Yoeng. Pun roh bagaskara yang masuk di tubuh Rania yang hendak mencekik dr. Zaldi. Dia seperti super hero. Ridho (tokoh amin) mampu mengidupkan cerita De Toeng. Amat kuat memberi konstribusi karakter dalam menghidupkan suasana adegan. Pemunculannya menarik. Anak ini memiliki bakat bintang yang bagus.

Mentari sumber konflik

Pak Kardus bercerita kronologis peristiwa, saat mentari silariang dengan kekasihnya. Karena Karaeng Ledeng tidak sudi menerima lamarannya. Lelaki itu bukan dari golongan Karaeng. Dia hanya seorang anak juragan garam.

Kata salah satu sumber mengatakan ada hikmah kesombongan akan menimbulkan penyesalan kemudian. Itulah yang terjadi, hingga secara diam-diam Karaeng Intang menengok mentari dan cucunya. Sampai pada puncaknya, Karaeng Ledeng mengusir istrinya dari rumah. Hingga di atas pusara istri dan cucunya, dia menyesali sikap angkuh dan kesombongannya.

Terbersit pertanyaan “Silariang” bagi orang j
Jeneponto itu adalah “Tumasirikna”, tentu nyawa taruhannya. Lantas Karaeng Intang selalu menjenguk cucunya dalam cerita. Hal ini bertetangan dengan tradisi. Apakah hanya rekayasa skenario atau memang kejadian kisah sesungguhnya.

Apapun itu, film De Toeng layak di tonton. Sebuah karya dari Sutradara Bayu Pamungkas. Producer Asmin Amin dan Musik Jamal Gentayangan, bagus disaksikan bagi anak Makassar. Menonton film ini tidak perlu merasa takut karena gendre horror.(***) 

Laporan : Rachim Kallo

Komentar

News Feed