oleh

MAHASISWA JANGAN TAKUT

MAHASISWA JANGAN TAKUT

Oleh: Dr. Sudirman Muhammadiyah, S. Pd.M.Si
LPM UPRI Makassar
(Bagian Kedua habis)

3. Ada yang jauh lebih berharga ketimbang IPK, yaitu pengalaman

Pengalaman dengan teman-teman. via http://admisi.ipb.ac.id

Nilai yang sama bisa kamu dapatkan dimanapun, karena ia hanya angka-angka yang bisa dikendalikan manusia. Namun pengalaman? Pengalaman yang sama tak akan pernah kamu dapatkan di waktu dan tempat yang berbeda.

Jadi, selama berkuliah jangan hanya memikirkan IPK. Nikmatilah masa penuh cerita, derita, dan bahagia selama kamu berkuliah. Mulai dari masa-masa penyesuaian di tahun pertama, susahnya jadi anak kos, pusingnya menghadapi dosen, perjuangan mengerjakan tugas dan praktik, hingga persahabatan yang penuh ujian. Semua itu adalah pengalaman yang sangat mahal. Dan sangat berguna untuk bekal kamu di masa depan.

Meski pun nanti, hasil akhir yang kamu dapatkan tidak sesuai dengan harapan padahal kamu sudah berusaha keras. Jangan kecewa, karena Tuhan sudah menghadiahkan kehidupan yang unik selama kamu berkuliah. Memberikan kamu pengalaman yang luar biasa selama menjadi mahasiswa. Pengalaman adalah pelajaran yang memperkaya jiwa kamu, mendewasakan kamu.

Menjadi dewasa jauh lebih sulit dari pada menjadi pintar, iya ‘kan?

4. Hanya fokus pada IPK, akan membuat hubungan sosial kamu sempit
Jangan cuma berteman dengan buku. via http://micpublishing.co.id

Kurang pergaulan berbeda dengan kurang gaul. Yang dimaksud disini adalah menjadi mahasiswa yang pergaulannya luas, bukan gaul doang, hehe.

Siapa bilang pergaulan luas tidak berguna? Hmm, sering saya lihat, mahasiswa yang terobsesi pada IPK itu pergaulannya sempit. Karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengejar IPK, dan kurang peduli pada lingkungan sekitarnya.

Menjadi mahasiswa bukan berarti kamu harus di Perpustakaan melulu. Mahasiswa juga masih sempat hang out, kok! Siapa bilang nongkrong itu menganggu kuliah? Justru, mahasiswa yang pintar mengatur waktu antara belajar dan bergaul adalah mahasiswa yang hebat.

Bayangkan, apakah IPK tinggi itu yang akan membantu kamu saat kesulitan nanti? Tidak, dia hanya kertas. Justru teman-temanlah yang akan membantu kamu disaat susah. Jika kamu punya banyak teman, tentu banyak juga yang bisa kamu hubungi saat kamu dalam masalah. Apalagi di usia mahasiswa yang rata-rata tujuh belas tahun ke atas, sangat rentan dengan masalah hidup yang pelik.

Tenang, jika kamu pandai bergaul, kamu akan aman.

Ingat! Di dunia kerja nanti, orang yang pandai bergaul lah yang dipertahankan perusahaan.

5. Kamu akan depresi jika prioritasmu cuma IPK
Jangan depresi, mahasiswa! via http://imagemasterkoepink.com

Bayangkan, jika kamu sudah melakukan berbagai cara—mulai dari yang jujur sampai curang—untuk mendapatkan IPK tinggi, tapi hasilnya malah tidak sesuai dengan ekspektasi? Kecewa, sakit hati, depresi? Sering kok, saya temui mahasiswa yang begitu.

Nikmati saja waktu-waktu perkuliahan itu. Kerjakanlah tugas dengan sungguh-sungguh, dengan isi otak sendiri, jangan nyontoh temen apalagi plagiat tugas orang. Toh kalaupun tugas yang dibuat sendiri itu jelek, yang penting ‘kan bikin sendiri? Jauh lebih bernilai—di mata Tuhan—ketimbang tugas orang yang nilainya A, tapi hasil CtrlA-CtrlC-CtrlP.

Kerjakan ujian dengan kemampuan kamu, jangan nyontek mulu. Untuk apa sih gunanya kertas ujian kamu nilainya bagus tapi minjem otak orang?

Intropeksilah diri kamu sebagai mahasiswa. Bagaimana mungkin kamu mau mendapat hasil yang sama dengan mahasiswa yang jujur dan berusaha? Mulailah jadi mahasiswa yang mengandalkan kemampuan sendiri. Jangan terbebani tuntutan IPK hingga kamu menyiksa diri sendiri, melakukan perbuatan curang, dan merusak hati nurani kamu.

Bukannya munafik, tapi saya rasa kuliah itu memang bukan hanya soal IPK. Saya yakin, mahasiswa yang masih bisa berpikir jernih setuju dengan pendapat saya. Semua mahasiswa pasti ingin dapat IPK tinggi, tapi jangan terobsesi. Oke?

Jadilah mahasiswa yang berhati lapang dan berbahagia. Katakanlah pada diri kamu, “Yang penting saya sudah berusaha! Masih banyak hal baik yang saya dapatkan. Seperti pengalaman, teman-teman, dan kematangan mental”. (habis/rk)

Komentar

News Feed