oleh

Galeri Kebaya Makassar Memburu Koleksi Sampai Malaka dan Tiongkok Daratan

Galeri Kebaya Makassar Memburu Koleksi Sampai Malaka dan Tiongkok Daratan

Oleh: Goenawan Monoharto

Tak sebesar dugaan penulis ruang yang dipakai menyimpan mendisplai koleksi pada galeri Kebaya Makassar. Lantai satu ruang sebesar garasi mobil pada rumah di perumahan PURI MUTIARA di jalan Monginsdi Baru Makassar.

Masuk pada pintu Galeri Kebaya, sebelah kiri dan kanan terdapat jejeran sarung halus kembang-kembang berbagai corak warna. Hal tersebut menandakan bahwa Arwan Tjahyadi dan isteri pemilik galeri tersebut adalah pengemar pakaian Tionghoa Peranakan di Makassar pada tahun 1940 an ke atas adalah kebaya dan sarung. Menurut Arwan yang juga pemilik Hotel Losari Beach ( beberapa hotel di Makassar dan Jakarta), sarung Tionghoa Peranakan yang di Makassar senang dengan sarung batik dengan corak khas dan halus.

Galeri Kebaya Makassar didirikan April 2018 dengan upaya bagaimana menyimpan menyelamatkan kebiasaan Tionghoa Peranakan di Makassar dalam daur hidup dari kelahiran sampai kematian. Tentunya juga dalam berbusana sampai, memakai perlengkapan rumah tangga.

Manuskrip Aksara Lontara

Sore yang gerah itu, tanggal 30 Juni 2021 di Galeri Kebaya Makassar, akan mengadakan acara serah terima manuskrip sebanyak 47 buku cerita dalam tulisan Aksara Lontara yang masih ditelusuri siapa penulisnya.

Sangat Ketahuan, kata Husnul dari Balai Peneneliti Agama Sulsel, bahwa penulisnya dipastikan seorang Tionghoa yang mahir menulis aksara Lontara pada masa tahun 1880. Tulisan aksaranya di atas kertas tipis dan sangat halus menorekan pena dan tintanya sehingga apik. Ada beberapa tulisan Tionghoa terselip pada buku tersebut yang tak dapat di terjemahkan dalam Lontara, khusus nama-tokoh-tokoh cerita dalam buku itu.

Husnul yang juga Ketua Dream Sea (panding dari Jerman yang melestarikan khusus manuskrip yang terancam hilang atau punah) di Indonesia Timur mengatakan dari 47 buku, hanya bisa didigitalkan dalam buku elektronik sebanyak 44 buku. Buku yang ditulis sesuai lini masa dalam buku itu tercatat 1879 -1880 semuanya dalam cerita Tiongkok klasik Sam Kok (tiga Negara) Sie Djieng Kui dan Jenderal Kwang Kong. “Kita masih meneliti dan telusuri dan ini merupakan kerja yang membutuhkan waktu yang lama, “ kata Husnul, saat itu menyerahkan lemari kaca dua buah pada galeri Kebaya Makassar sebagai penyimpangan manuskrip itu.
Ternyata Manuskrip tersebut, setelah ditemukan penulis Tionghoa menulis Lontara Lie Keng Tjong nanti pada tahun 1927.

Jadi koleksi Arwan Tjahjadi jauh lebih dulu di tulis. 140 tahun lalu. Penulis melihat kertasnya masih bisa bertahan sampai 100 tahun kemudia, hanya kerapuhan ada tinta yang mulai memudar. “Makanya, selekasnya mesti direkam kembali secara digital. Alat-alatnya cukup ribet milik Lektur Agama di Jakarta. Untung banyak anak-anak muda mau menjadi frontier dalam mengerjakan perekaman buku itu.

Salokkoa Peralatan Korongtigi

Tenyata ruang yang di pakai untuk menyimpan koleksi Galeri Kebaya ada pula di lantai dua. Di ruang itu berbagai koleksi terpajang, Lemari Konde, Kepala Naga, Alat elektronik masa lalu, lampu Peang-peang, penerang sebelum listrik masuk di Makassar.

Koper tua dan Kotak Kayu antik dan berukir khas Tionghoa banyak menyimpan koleksi. Dalam sebuah lemari kaca, terdapat beberapa jenis kasut (sepatu) yang dipakai Gadis Tionghoa, salah satunya adalam sepatu sangat kecil (seperti sepatu anak-anak) dipakai gadis Tionghoa yang dipingit. Bila di Makassar dikenal sebagai nona caddi bangkeng (gadis kaki kecil)

Menurut Arwan, beberapa kasut itu dibeli di Malaka, namun itu barang baru. “Bahkan ada di anataranya di beli di Tiongkok Daratan ketika plesir bersama istri pada waktu itu, sebelum pandemik. Berapa harga? Arwan hanya tersenyum, Menurut bocoran, koleksi Galeri Kebaya yang ada ratusan jenis itu, ada yang dibeli sangat mahal sampai puluhan juta rupiah yang dihibahkan keluarga, kerabat yang merasa aman bahwa hanya di tangan Arwan pusakanya terpelihara.

Ada yang menarik di sebagai koleksi langka di Galeri Kebaya, adalah peralatan Korongtigi pengantin Perempuan. Sejenis penutup kepala penuh manik-manik berwarna ceria dipakaikan pada Pengantin Perempuan pada malam sebelum pernikahannya. “ Ini dihibahkan seorang kerabat yang berprofesi sebagai Anrong Bunting, adalah seorang wanita yang mengurus penganting. “ Kodong (kasihan), beliau baru saja meninggal dalam usia hamper seratus tahun. “ kata Arwan sedih mengenang pemberian Salokkoa di Jakarta. Koleksi seperti ini paling banyak hanya satu atau dua buah ada di Indonesia.

Gelisah dan Kuatir.
Perburuan kolek Galeri Kebaya Makassar, merupakan salah satu titik focus seni kota di Makassar, kata Arwan, ada diburu sampai tempat sampah. Seperti Patung Singa sebanyak dua buah sudah ditemukan di tempat sampah di Klenteng Maco di jalan Sulawesi Makassar, pasca kerusuhan 1998, ketika pihak klentang melakukan pembenahan dua patung Singa sudah dibuang di tempat sampah.

Informasi yang didapatkan di temannya tentang buangan tersebut, Arwan tidak mengambil waktu banyak langsung memungut dan seekor Naga yang nyaris hancur lebur. Dari tempat sampah itu dua ekor Singa dan seekor Naga dibawa pulang ke rumah. Kemudian mengundang seniman lukis Jendri Pasassang merestorasi patung itu. Hasil restorasi “seniman artisan” Jendri Pasassang, tersebut berhasil membuat bagus, indah dan berjiwa. Arwan puas. Singa tersebut ada di depan Hotel Losari Beach dan kepala Naga ada di Galeri Kebaya Makassar.

Museum milik kota Makassar yang berdomisili di Jalan Balai Kota Makassar, pernah “meminang” pada Arwan mantan Anggota DPRD Makassar juga pernah meraih sertifikat MURI atas Museum BECAK-nya di BLOK M Jakarta, agar koleksinya di serahkan pada museum Kota Makassar dan diberikan satu ruang untuk koleksinya Namun Arwan masih menampik pinangan itu. “ Biarlah saya mememilihara dulu sendiri. Kalau sampai waktu, bagaimana pun juga diserahkan. Saya hanya kuatir tidak ada anak cucuku (generasiku) yang mau tertarik mengurus harta pusaka ini.
Menyusuri kolek-koleksi Galeri Kebaya Makassar, selain kegembiraan menyaksikan “Pusaka” Tionghoa Peranakan di Makassar, juga ada kesesakan di hati, Koleksi-koleksi itu mesti diberi ruang besar dan pantas dan mendisplay secara profesional sehingga menarik untuk disaksikan. “Arwan jadikan Galeri Kebaya Makassar sebagai museum Tionghoa Peranakan di Indonesia Timur, kata Baba Ronny kerabatnya.

Borong Raya 31 Juli 2021
Penulis Fotografi dan Senirupa

Komentar

News Feed