oleh

Polemik di balik Fenomena Industri Fast Fashion di Indonesia

Polemik di balik Fenomena Industri Fast Fashion di Indonesia

Oleh : Nur Azmi
(Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar)

Apasih yang dimaksud dengan fast fashion? Dan bagaimana cara kerjanya? Fast fashion merupakan industri yang didalamnya memiliki banyak permasalahan terkait buruh. Dalam melihat permasalahan ini, pada umumnya terjadi di dalam negara-negara dunia ketiga yang menjadi negara penghasil produksi. Banyaknya industri Fast Fashion yang masuk ke negara dunia ketiga ini memiliki dampak terhadap negara dan juga buruh yang bekerja di dalam industri tersebut.

Tren industri fashion saat ini sedang mengarah ke konsep fast fashion, yaitu produksi pakaian yang langsung siap pakai dengan fasilitas harga terjangkau. Tren ini berlangsung seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Kalangan pebisnis menjual beragam produk fashion dengan harga murah, model terbaru, dan tren yang terus berganti. Beberapa produk seperti ZARA, H & M, dan Uniqlo menjadi fast fashion yang lagi booming saat ini. Sebuah penelitian oleh McKinsey mengungkapkan bahwa 5% pembeli setuju bahwa mereka telah membuat perubahan signifikan pada gaya hidup mereka untuk mengurangi dampak lingkungan. Sedangkan 15% konsumen berharap dapat membeli pakaian yang lebih ramah lingkungan dan sosial.

Namun, dalam perkembangan fast fashion tersebut sebenarnya ada banyak kendala yang hampir ditemui oleh pegiat usaha dalam memasarkan produknya. Seperti adanya oknum-oknum yang menyalahgunakan tren ini dengan menjiblak(plagiat) model yang telah di dirancang sesempurna mungkin oleh desainernya. Kasus plagiat memang selalu menuai masalah di kehidupan masyarakat modern, salah satunya dalam dunia fashion. Mengenai plagiasi diatur dalam undang-undang hak cipta Pasal 2 UUHC, pelaku plagiarisme dapat dijerat dengan ancaman pidana menurut Pasal 72 ayat (1) UUHC dengan dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Dengan demikian, sebagai generasi muda hal yang paling penting yang harus kita lakukan ialah dengan mengembangkan tren slow fashion/sustaianble fashion. Karena melalui tren ini sebenarnya kita dapat berkontribusi untuk mengurangi penggunaan pakaian fast fashion dan mengurangi limbah pakaian yang dapat merusak lingkungan.

Sebagai konsumen kita harus peduli terhadap tren dan isu lingkungan ini sehingga kita tidak lagi membeli secara masif pakaian fast fashion dan menggantinya dengan pakaian ramah lingkungan/membeli pakaian thrift/second yang masih layak pakai. Untuk cakupan yang lebih besar kita juga bisa mengembangkan pengolahan limbah pakaian agar menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Daftar Pustaka

1. Pusparisa, yosepha. 2019. Kontroversi di balik Industri Fast Fashion. https://katadata.co.id/ariayudhistira/infografik/5e9a4c494f4f2/kontroversi-di-balik-industri-fast-fashion (diakses pada 14 Desember 2021)

2. Sharen Meilivia, Gagriella. 2021. Industri Fast Fashion dalam Perspektif Neo-Marxisme: Studi Kasus Buruh Past Fashion di Bangladesh. Jurnal: Repository Pertamina University.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.