oleh

Jacob Ereste : Klaim Nadim Spiritualitas Pelajar Kita Tinggi, Tapi Pendidikan Pesantren Terkesan Diabaikan

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek),  Nadiem Makarim, mengungkapkan bahwa pelajar Indonesia dari tingkat SD sampai SMA atau sederajat, memiliki karakter spiritualitas yang tinggi. Namun, di sisi lain pelajar di Indonesia ternyata memiliki tingkat toleransi dan kemandirian yang rendah. (Bergelora.Comm, 1 April 2022).

Kebanggaan Mendikbud Ristek ini sekedar melaporkan saja hasil penelitiannya tanpa perencanaan program untuk menindaklanjuti hasil penelitian tersebut. Sehingga ada capaian yang ideal untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi anak didik hingga bisa dominan takaran kualitas maupun kuantitasnya di masa depan.

Berdasarkan hasil survei tentang asesmen profil pelajar Pancasila yang dilakukan oleh Kemendikbud Ristek, secara berurut dari SD sampai SMA, pelajar Indonesia memiliki nilai tingkat spiritualitas sebesar 43 persen, 32 persen, dan 49 persen.

Tingkat spiritualitas pelajar Indonesia menurut dia juga memiliki tingkat kreativitas yang tinggi, secara berurut dari SD sampai SMA pelajar Indonesia memiliki tingkat kreativitas sebesar 55 persen, 35 persen, dan 45 persen.

Lalu mengapa ada kecenderungan menurun kualitasnya untuk mereka yang ada di Sekolah Lanjutan Tingkap Pertama (SMP) ?

Tak ada jawaban yang pasti, karena memang hasil penelitian itu tampaknya hanya sebatas penelitian semata, bukan untuk mengupayakan pengembangannya yang maksimal, sehingga tingkat kualitas maupun kuantitatisnya mencapai angka bilangan yang maksimal.

Demikian juga pengujian terhadap hasil penelitian itu, apalagi kemudian mengklaim bahwa para pelajar kita dan sekolah kita sangat kuat dalam bidang iman, takwa, dan akhlak mulia, jadi spiritualitas moralitas, dan juga dalam aspek kreativitas ini dua hal yang tertinggi,” kata Nadiem Makarim dalam acara Peluncuran Rapor Pendidikan Indonesia yang diadakan secara daring, Jumat, lada 1 April 2022.

Demikian juga pernyataan pada sisi lain yang mengatakan bahwa pelajar Indonesia memiliki kelemahan pada aspek kemandirian dan toleransi.

Dari aspek kemandirian, Nadiem mengatakan banyak pelajar Indonesia tidak bisa memotivasi dirinya secara independen karena tidak mendapatkan ruang yang cukup untuk memotivasi diri. Tentu saja — jika kesimpulan ini dapat dianggap benar — lalu apa jalan keluarnya yang harus dilakukan, setidaknya untuk kalangan pendidik serta pihak orang tua untuk menutupi kekurangan tersebut.

Jika pun aspek kemandirian ini sangat sulit untuk diupayakan  peningkatannya tanpa adanya guru dan lingkungan belajar yang bisa mendorong kemandirian siswa dan pembelajaran sepanjang hayat, lantas jalan lain yang harus ditempuh perlu ditawarkan, sehingga dapat memberi peluang pada pihak terkait ikut mendorong atau memberi memotivasi agat dapat ikut memperbaiki kondisi yang runyem ini.

Disebutkan juga aspek lain yang paling lemah dari pelajar Indonesia adalah aspek kebhinekaan global atau toleransi. Dan sekali lagi — jalan keluar untuk nemperbaiki kondisi tersebut perlu pemaparan yang rinci. Sebab tanggung jawab terhadap pendidikan tidak bisa sepenuhnya mengandalkan dari lembaga pendidikan formal belaka. Toh, lembaga pendidikan formal yang ada tak cukup mumpuni untuk mencetak, mendidik maupun rongga intektual — apalagi spiritual anak-anak — yabg sangat diharap menjadi generasi penerus bangsa dan negara yang semakin berat menghadapi masa depan dari desakan dan persaingan yang bersifat global.

Secara berurut
dari SD sampai SMA, nilai pada aspek (sikap) kemandirian pelajar Indonesia lebih  memprihatinkan karena hanya berkisar pada persentase 10 persen, 15 persen, dan 30 persen. Sedangkan untuk aspek kebhinekaan global yang mencakup toleransi lebih rendah lagi, secara berurut dari SD sampai SMA hanya sebesar 5 persen, 13 persen, dan 24 persen.

Jadi kalau cuma slogan untuk beragam aspek dalam kebhinekaan dan kerukunan antar berbagai macam aspek kebhinekaan — seperti sikap dan sifat dari nasionalisme, toleransi yang juga harus ditingkatkan, sepatutnya ada rinciannya yang pasti, sehingga dapat diikuti oleh segenap pihak yang merasa berkepentingan untuk ikut membangun dan mengembangkan segenap potensi yang dimiliki anak bangsa untuk menerima warisan dari  generasi hari ini guna menyambut masa depan dengan kemenangan dan  kegemilangan yang dapat dibanggakan dalam persaingan maupun pertarungan pada era global sekarang ini

Adapun dua aspek lain yang juga dinilai dari survei ini, yaitu nalar kritis dan gotong royong yang secara berurut mulai pelajar SD hingga SMA memiliki nilai nalar kritis sebesar 51 persen, 18 persen, dan 33 persen. Adapun untuk gotong royong sebesar 24 persen, 16 persen, dan 30 persen, idealnya dapat disertai hasil  analisis yang jitu untuk ditawarkan pada semua pihak yang merasa berkepentingan untuk ikut memperbaiki dan meningkatkan kualitas maupun kuantitas dari  bilangan yang penuh — full — sehingga tidak lagi ada generasi yang masih terbilang dalam kondisi yang tertinggal pada hari ini maupun nanti.

Puja-puji terhadap laporkan maupun survei karakter yang dilakukan ini, boleh saja disebut baik — meski sesungguhnya tak elok untuk memuji diri sendiri –karena yang penting memang sepantasnya indeks karakter pelajar akan menjadi makin baik bila capaian literasi dan numerasi dari semua itu dapat dilihat dari sejumlah sekolah yang punya capaian karakter tinggi itu, ternyata juga memiliki capaian literasi dan numerasi yang jauh di atas sekolah dengan indeks karakter yang rendah.

Agaknya, jadi berlebih atau jumawa untuk disimpulkan bila semuanya  nyambung, memiliki korelasi yang meyakinkan bahwa antara karakter yang baik dan pencapaian literasi numerasi yang baik, tidaklah begitu ideal. Sebab padanan bagi rumah kita yang baik itu mesti dapat disandingkan dengan rumah tetangga yang tidak lebih baik dari rumah kita.

Lagian, yang lebih penting adalah upaya merumuskan cara untuk mencapai kualitas serta kuantitas yang maksimal serta  dari aktivitas program dan perencanaan  pendidikan kita yang masih belum merata dinikmati oleh segenap warga masyarakat nun jauh di pelosok sana, seperti ketimpangan kesejahteraan bagi guru honor yang dominan tetap diabaikan dan terabaikan. Apalagi kemudian, lembaga pendidikan model pesantren jadi makin terkesan dipinggirkan.

Banten Timur, 2 April 2022

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.