oleh

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Perkapita Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Dalam Pandangan Ekonomi Neoklasik

Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan Perkapita Terhadap Jumlah Penduduk Miskin Dalam Pandangan Ekonomi Neoklasik

Oleh : Dwi Rezki Amalia
Mahasiswi Jurusan Ilmu Ekonomi
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Salah satu permasahan yang paling mempengaruhi pendapatan perkapita adalah pengangguran dan kemiskinan. Banyaknya pengangguran akan menghambat laju pertumbuban perekenomian suatu negara, Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.

Salah satu tujuan pembangunan nasional adalah meningkatkan kinerja perekonomian agar mampu menciptakan lapangan kerja dan menata kehidupan yang layak bagi seluruh rakyat yang pada gilirannya akan mewujudkan kesejahteraan penduduk Indonesia. Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah menurunkan tingkat kemiskinan.

Sebab kemiskinan mampu mengganggu timgkat laju pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2004, kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi seseorang atau sekelompok orang yang tidak terpenuhinya hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.

Hubungan antara pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan telah banyak dilakukan di indonesia.

Terdapat hubungan negatif yang sangat kuat antara pertumbuhan dan kemiskinan. artinya ketika perekonomian tumbuh, kemiskinan berkurang. Namun ketika perekonomian mengalami kontraksi pertumbuhan, kemiskinan meningkat lagi.

Pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil.

Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan, tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya. Produk Domestik ragional Bruto (PDRB) adalah jumlah seluruh nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang beroperasi pada suatu daerah dalam jangka waktu tertentu. Atau apabila ditinajau dari segi pendapatan merupakan jumlah dari pendapatan yang diterima oleh faktor- faktor produksi yang dimiliki oleh penduduk di wilayah tersebut yang ikut serta dalam proses produksi dalam jangka waktu tertentu. Hasil perhitungan PDRB disajikan atas dasar harga berlaku dan harga konstan.

Perhitungan atas dasar berlaku (at currebnt Prince) merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam suatu periode tertentu, biasanya dalam satu tahun yang dinilai dengan harga tahun yang bersangkutan.

Pada perhitungan atas dasar harga berlaku belum menghilangkan faktor inflasi, jadi faktor inflasi masih terdapat didalamnya. Pendapatan perkapita merupakan gamabaran rata-rata pendapatan yang diterima oleh penduduk sebagai hasil dari proses produksi. Pendapatan perkapita sering menjadi tolak ukur kemakmuran suatu negara atau daerah. Pendapatan perkapita pada dasarnya mengukur kemampuan dari suatu Negara.
Teori Harrod-Domar juga menyatakan demikian, dimana untuk pertumbuhan yang tinggi diperlukan akumulasi modal (capital) melalui tabungan (saving).

Komponen masyarakat yang mampu menabung adalah kelompok orang kaya, bukan dari kelompok orang miskin.Sehingga pertumbuhan ekonomi hanya dapat dimotori oleh kelompok masyarakat yang mampu memupuk modal. (Todaro; 2002)

Menurut Nurkse dalam kutipan (Lincolin Arshad; 1999) ada dua lingkaran perangkap kemiskinan, yaitu dari segi penawaran (supply) dimana tingkat pendapatan masyarakat yang rendah yang diakibatkan oleh tingkat produktivitas yang rendah menyebabkan kemampuan masyarakat untuk menabung rendah.

Kemampuan untuk menabung rendah, menyebabkan tingkat pembentukan modal yang rendah, tingkat pembentukan modal (investasi) yang rendah menyebabkan kekurangan modal, dan dengan demikian tingkat produktivitasnya juga rendah dan seterusnya.Dari segi permintaan (demand), di negara-negara yang miskin perangsang untuk menanamkan modal adalah sangat rendah, karena luas pasar untuk berbagai jenis barang adanya terbatas, hal ini disebabkan oleh karena pendapatan masyarakat sangat rendah.
Teori pertumbuhan Neo Klasik, dikembangkan oleh (Solow; 1956) berdasarkan teori-teori klasik sebelumnya yang telah disempurnakannya.

Laju tingkat pertumbuhan yang dapat dicapai suatu negara tergantung kepada tingkat perkembangan teknologi, peranan modal dalam menciptakan pendapatan negara (produksi marjinal modal) dikalikan dengan tingkat perkembangan stok modal, serta peranan tenaga kerja dalam menciptakan pendapatan negara (produktivitas marjinal tenaga kerja) dikalikan dengan tingkat pertambahan tenaga kerja.

Pertumbuhan output selalu bersumber dari satu atau lebih dari tiga faktor yakni kenaikan kualitas dan kuantitas tenaga kerja, penambahan modal (tabungan dan investasi) dan penyempurnaan teknologi.
Tingkat kemiskinan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, inflasi dan Pengangguran. Dalam indikator makro ekonomi ada yang menjadi pokok permasalahan yang terkait dengan masalah kemiskinan, yaitu : masalah pertumbuhan ekonomi

dapat dikategorikan pada angka pertumbuhan ekonominya baik secara positif dan negatif. Masalah ekonomi yang perlu diperhatikan seiring dengan adanya peningkatan pendapatan per kapita adalah permasalahan kemiskinan, gejolak harga/inflasi, pengangguran.

Perekonomian yang baik harus mengalami pergerakan yang bersinergi antara PDRB per kapita dengan permasalahan ekonomi lainnya. Dalam artian, peningkatan PDRB per kapita harus dibarengi dengan penurunan angka kemiskinan, pengangguran dan inflasi yang dapat ditekan.

Masalah Inflasi merupakan indikator perubahan harga barang-barang dan jasa-jasa pada umumnya, yang secara bersamaan juga berkaitan dengan kemampuan daya beli.

Inflasi mencerminkan stabilitas harga dan stabilitas ekonomi.Semakin rendah tingkat inflasi berarti semakin stabil pula harga dan perekonomian suatu negara.Namun masalah inflasi tidak hanya berkaitan dengan melonjaknya harga barang-barang dan jasa-jasa. Seperti itulah pengaruh pengangguran yang menghambat tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita.

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saya menyarankan :
1. Pemerintah harus membuat sebuah kebijakan dan mengambil perananan yang cukup besar untuk dapat mendorong pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih maju dengan menaikkan kapasitas produksi masyarakat agar mengurangi jumlah penduduk miskin.
2. Pemerintah harus membuka lapangan pekerjaan guna menyerap jumlah tenaga kerja yang dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka.
3. Dalam upaya mengurangi jumlah kemiskinan, pemerintah dapat melakukan upaya dengan cara peningkatan sumber daya manusia, sumber daya alam dan meningkatkan teknologi.

Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia maka akan mengurangi jumlah penduduk miskin dan pemerintah dapat melakukan upaya seperti peningkatan fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan dan mengupayakan stabilitas harga, dimana ketiga aspek tersebut merupakan komponen penting dalam mengurangi jumlah penduduk miskin.

Daftar Pustaka

Sumodiningrat, Gunawan, 1998. Membangun Perekonomian Rakyat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.