oleh

Bahasa Daerah Terancam Punah, Alternatif Pelestarian dan Pengembangan Oleh: Mochtar Marhum

Prof. David Crystal, seorang Guru Besar Universitas Oxford Inggris pernah menulis sebuah buku yang merupakan hasil penelitiannya. Buku itu itu berjudul Language Death (Kematian Bahasa) yang terbit pertama pada tahun 1997.

Beliau katakan dalam waktu 50 tahun ke depan ada sekitar 50 % bahasa-bahasa di dunia akan mati (dead) atau punah (extinct).

Beliau katakan jika bahasa-bahasa daerah punah, maka generasi penerusnya akan kehilangan identitas budaya dan jati diri mereka. Dan itu merupakan suatu tragedi sosial yang patut disesali.

Terjadinya kepunahan bahasa daerah bisa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain generasi penerus tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya karena generasi tua tidak mengajarkan sikap positif penggunaan bahasa daerah yang terampil dan berkelanjutan, banyak terjadinya pernikahan antara suku yang berasal dari latara belakang bahasa dan budaya yang berbeda.

Adanya bahasa dominan yang dikategorikan sebagai bahasa pembunuh (Killer Languages) yang membunuh bahasa-bahasa minoritas dengan pengaruhnya yang kuat menyebabkan penutur bahasa lokal secara perlahan tapi pasti meninggalkan bahasa asli mereka (indigenious languages) dan beralih kebahasa dominan tersebut.

Kebijakan bahasa makro yang sangat dominan dan tidak populer juga disinyalir bisa berpengaruh terhadap eksistensi bahasa daerah. Dan juga belum adanya kebijakan bahasa yang memihak pada upaya pelestarian dan pengembangan bahasa daerah setempat.

Menurut Prof. Nikolaus Himmelman, seorang Peneliti dan Guru Besar Linguistics di University of Cologne Jerman dalam penelitian Linguistik khususnya terkait kosa kata bahasa daerah menemukan ada bahasa daerah di wilayah Sulawesi Tengah yang telah punah (extinct), terancam punah (endangered) dan berpotensi akan punah (Moribund) di Sulawesi Tengah dan bahasa daerah tersebut terdapat di Kabupaten Tolitoli, Donggala dan Parigi Moutong.

Dalam Ethnologue: Languages of the World, Referensi lengkap bahasa-bahasa di dunia terkenal sejak tahun 1951 melaporkan jika penutur bahasa kurang dari 200.000 orang penutur maka bahasa tersebut masuk kategori bahasa yang terancam punah.

Di Indonesia terdapat 718 bahasa dan kebanyakan bahasa tersebut terdiri dari bahasa daerah. Dan bahasa daerah paling banyak di Papua lebih dari 400 bahasa daerah.

Hingga 2019, Badan Bahasa mencatat ada 21 bahasa daerah yang dipertuturkan di Sulawesi Tengah.

Saat ini generasi muda khususnya pengguna Sosial Media (Netizen) di dunia maya sangat sering menggunakan kosa kata dan jargon atau istilah dari bahasa asing dalam hampir setiap cuitan di Twitter, Status di FB, text di instagram dan WhatsAp. Disamping penggunaan bahasa Indonesia dengan dibumbui dialek Jakarta, Jawa dan Sunda. Namun, kerap masih ada juga masyarakat netizen yang menggunakan kosa kata dan dialek bahasa lokal setempat.

Dalam konteks pengaruh dominan penggunaan istilah bahasa asing di Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi bahasa yang paling dominan di masyarakat Indoneaia.

Kata-kata seperti “Hi Guys yang berasal dari bahasa Inggris diucapkan “Hai Gais” sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia.

Kata Laundery yang berasal dari bahasa Inggris justru lebih populer dibandingkan kata Binatu yang berasal dari bahasa daerah dan telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Terkait dengan isu Kebahasaan (Linguistics) khususnya pengembangan Kosa Kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) selama ini kosa kata Bahasa Indonesia diperkaya oleh dominasi Bahasa Melayu sebagai sumber utama asal Bahasa Indonesia dan juga terdapat Kosa Kata dari Bahasa di luar Bahasa Melayu (Bahasa Asing) yang cukup dominan terutama kosa kata (Vocabulary) dari Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Belanda, Bahasa Portugis dan Bahasa China.

Kosa kata Bahasa unsur serapan (Borrowing Words) itu telah lama dimasukkan sebagai kata serapan atau kata pinjaman (Loan Words) ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan kini telah diakui sebagai kosa kata bahasa Indonesia.

Namun, terdapat pula banyak kosa kata bahasa daerah yang telah dimasukkan ke dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan selama ini kosa kata bahasa daerah yang dimasukkan ke dalam KAMUS Besar Bahasa Indonesia kebanyakan berasal dari bahasa daerah yang dominan dan dari etnis majoritas.

Bahasa-bahasa daerah tersebut dalam ilmu Sosiologi Bahasa Makro (Macro Sociolinguistics) dianggap sebagai bahasa yang kuat dan dominan (Strong Ethnic Languages) termasuk bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Minang, bahasa Bugis, bahasa Makasaar, bahasa Bali, bahasa Minahasa dan masih ada lagi beberapa daerah lainnya yang belum sempat disebutkan.

Nasib bahasa daerah di luar bahasa yang paling dominan disebutkan di atas mungkin masih kurang mendapat perhatian luas karena penuturnya di samping relatif lebih sedikit dan kurang berpengaruh, Kosa kata bahasa daerah yang dimaksud belum ada yang masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) walaupun Komisi Bahasa Daerah di Provinsi masing-masing telah mengusulkan untuk memasukkan beberapa Kosa Kata bahasa daerah ke daalam KBBI dan dinyatakan dalam verifikasi dan validasi.

Masuknya bahasa daerah ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah dasar dan sekolah menengah di sejumlah wilayah Indonesia, dibuatnya Kamus bahasa daerah, buku pelajaran bahasa daerah dan upayah merekam bahasa daerah, seringnya diadakan lomba penulisan dan pidato menggunakan bahasa daerah, release lagu-lagu bahasa daerah, adanya koran berbahasa daerah serta adanya media Televisi lokal yang program siarannya menggunakan bahasa daerah merupakan upaya nyata dalam program pelestarian dan pengembangan bahasa daerah di Indonesia.

Penulis: Akademisi UNTAD pada Jurusan Bahasa dan Seni, Prodi Pend. Bhs Inggris FKIP, Penulis Freelance (Freelance Columnist), Pegiat Jurnalisme Warga dan Media Sosial, pengajar dan penanggung jawab mata kuliah Translation and Interpretation, Sociolinguistics dan Cross Culture Understanding, menyelesaikan S2 (Masters) dan S3 (PhD) dalam bidang Language Policy and Education di Flinders University, AUSTRALIA .

Palu, 16 Juli 2022.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *