Site icon Topik Terkini

Merkantilisme Adalah Sebuah Kekayaan dan Kemakmuran sekaligus Awal Kegagalan Pasar Ekspor Benih Lopster di Indonesia

Merkantilisme Adalah Sebuah Kekayaan dan Kemakmuran sekaligus Awal Kegagalan Pasar Ekspor Benih Lopster di Indonesia

Lilis Ibrahim (Mahasiswi Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar)

Merkantilisme Adalah Sebuah Kekayaan dan Kemakmuran sekaligus Awal Kegagalan Pasar Ekspor Benih Lopster di Indonesia

Oleh: Lilis Ibrahim
(Mahasiswi Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar)

Sejatinya merkantilisme merupakan sebuah julukan yang diberikan oleh adam smith kepada orang-orang lapangan, kaum praktisi, baik sebagai politikus, negarawan ataupun pedagang. Mereka ini tidak menganggap dirinya sebagai suatu aliran tersendiri, apalagi menyusun suatu teori yang lengkap dan ilmiah. Merkantilisme mengandung arti menyamakan kebijakan suatu bangsa atau Negara dengan kebijakan seorang pedagang yang berusaha mendapatkan hasil yang lebih besar pada waktu menjual dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan pada saat membeli.

Indonesia merupakan negara eksportir utama benih lobster pada negara-negara produsen lobster di dunia. Penetapan Permen KP Nomor 12 Tahun 2020 menjadi titik balik dengan asumsi kesejahteraan nelayan, peningkatan ekonomi, dan devisa menjadi dalih utama dalam proses penetapannya. Kausalitas yang dihasilkan dari penetapan Permen KP Nomor 12 memicu terjadinya suatu aksi tragedi sumber daya kepemilikan bersama yang dimanfaatkan sebagai
lahan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya yang mencerminkan suatu paham Merkantilisme.

Doktrin aliran mekantilisme yang terkenal adalah pandangan bahwa suatu  Negara menjadi kaya hanya dengan mengorbangkan Negara lain. Salah satu dalil merkantilisme adalah masa bodoh dengan Negara lain yang penting Negara senduri menjadi makmur.

Seperti yang dikutip oleh Thomas Mun atau akrab disapa mun, seorang anggota kelompok ekonomi pedang di inggris dengan karya pertamanya yang berjudul “ A Discourse of trade from England auto eats indies” merupakan pembelaannya terhadap perusahaan east india company terhadap kritik dari berbagai kalangan yaitu :

“cara-cara yang wajar untuk meningkatkan kemakmuran dan kekayaan kita adalah dengan berdagang diluar negeri dimana kita harus memperhatikan aturan : menjual lebih banyak ke pihak asing daripada komsumsi kita terhadap barang mereka, bagian dari persediaan kita yang tidak kembali ke gudang kita harus di bawa pulang dalam bentuk kekayaan”

Permasalahan lain terkait kondisi lingkungan yang tak kalah penting adalah keberadaan lobster
merupakan salah satu sumber daya yang terbatas jumlahnya jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi masyarakat yang terus bertambah. Lobster termasuk dalam kategori plasma nutfah yang secara genetik keberlanjutannya belum bisa direkayasa oleh manusia. Aktivitas penangkapan dan ekspor benih lobster pun masif berlangsung tanpa pengawasan sehingga dalam
jangka panjang dapat menyebabkan kepunahan secara signifikan

Akibat kehidupan ekosistem laut terancam akibat ekspor benih lobster yang tidak bersifat ekonomi berkelanjutan. Selain itu, ekspor benih lobster juga dipandang hanya menempatkan nelayan sebagi buruh karena keuntungan yang didapat terlalu kecil.

Pertimbangan teknologi seharusnya menjadi fokus utama dalam budi daya lobster, selain itu keberlanjutan sumber daya harus berbanding lurus dengan kesejahteraan lintas generasi sehingga negara harus menjamin untuk melindunginya.

Referensi :

 

Exit mobile version