Site icon Topik Terkini

Aib Keluarga Patutkah Diumbar?

Aib Keluarga Patutkah Diumbar?

Aib Keluarga Patutkah Diumbar?

Catatan Pinggir:
Dr.Hj.Hukmiah Husain , Lc, M, Ag
WK. 1 BAZNAS Kabupaten Bone

Bismillah…
Ceramah ustadzah OSD yg sudah beberapa hari belakangan viral dan kontroversial, cuitan, komentar dan tanggapan berbagai pihak masih didendangkan diberbagai media. Diantara pernyataan yg menarik buat saya pernyataan Prof. Kamaruddin Amin, dan perwakilan MUI, keduanya lebih netral dalam mengomentari beberapa sisi dari kisah yang diutarakan OSD.

Apa yang dihadapi oleh OSD itu merupakan bagian dari tantangan para da’i da’iyah di era digital.

Ada beberapa hal yang menurut saya patut digaris bawahi

– Kisah yang disampaikan oleh ustadzah OSD bagian dari ibrah, (terlepas kejadian itu benar adanya atau tidak) Adalah pembelajaran dalam berkeluarga, bahwa dalam mengarungi rumah tangga ada suka dan ada duka yang menyertai, ada ketenangan dan ada kegaduhan, ada riak kecil, dan tidak menutup kemungkinan ada ombak yang menggulung, ada rintik, terkadang juga ada hujan lebatnya. tidak melulu suka atau sebaliknya.

Kasus pemukulan yang dialami oleh seorang perempuan sebagi korban KDRT oleh suaminya dan kasus itu disimpan rapat, tidak serta merta diceritakan ke orang tuanya yang pada saat bersamaan sedang berkunjung ke rumah si anak & menantu, boleh jadi karena pertimbangan sbb;

– Orang tua itu adalah orang istimewa yang selalu berharap anaknya baik-baik saja bersama keluarga kecilnya, dan harapannya itu melampui harapan “baik-baik saja” untuk dirinya. Kebahagiaan anak adalah hal utama baginya.

– Apa yang dilakukan sang istri ini sebenarnya ia lagi mentaushiyah dirinya sebagai bentuk kesabarannya menghadapi hal perih yang tak pernah diharap oleh perempuan mana pun dan juga “terutama” mentaushiyah suaminya sebagai pelaku kekerasan, bahwa aku punya cara menyembunyikan aibmu, aku mampu bersandiwara demi kamu dan keluarga kita.

– Si istri memberi pertimbangan bagi dirinya, bahwa ada saat ia harus mengkomunikasikan duka laranya kepada orang yang tepat, situasi yang sesuai, serta tempat/media yang benar. “Berusaha cerdas” mempertimbangkan segala kemungkinan² mana yang terbaik walaupun pahit.

Walau kita semua tidak ada yang melegitimasi KDRT, tapi saya kira kita tidak akan serta merta melaporkan kondisi buruk yang dialami ketika orang tua bersilaturrahim dan ingin memastikan anak menantunya baik-baik saja.

Tidak bisa di bayangkan, jika si istri saat membuka pintu, menyambut orang tuanya dan memeluknya disertai deraian air mata dengan aduan ia telah dipukul oleh suaminya dengan kasar.

Tentu ia tidak menginginkan jika orang tuanya tetiba mengalami heart attack (serangan jantung) atau cardiac arrest (henti jantung). Kondisinya lebih buruk kan?

– Pertimbangan maslahah, pertimbangan fiqh prioritas, taqdimul aham ‘alal muhim (mendahulukan yang terpenting dari yang penting), dan yang terpenting saat itu bagi si istri adalah menyembunyikan dukanya melalui suka cita menyambut orang tua.

– Sebagai bentuk menjaga rahasia keluarga yang masih dicintainya.

Semoga Allah menganugerahi kita keluarga yang menyayangi dan mencintai sepenuh hati, tidak melakukan KDRT baik psikis maupun fisik, verbal maupun non verbal.

Kita pun demikian wahai para istri, karena KDRT merupakan perilaku yang tidak selalu dilakukan oleh suami, akan tetapi hal yang sama juga bisa dilakukan oleh istri. Atau salah satu dari keduanya menjadi pemicu terjadinya KDRT. Maka berusahalah untuk tidak menjadi pemicu terjadinya KDRT dan tahan dirilah untuk tidak menjadi pelaku KDRT.

#Muhasabah

Rasulullah bersabda,
“Janganlah seorang mu’min laki-laki memarahi seorang mu’minah. Jika ia merasa tidak senang terhadap satu perangainya, maka ada perangai lain yang dia sukai.” (HR Muslim).

Dalam Kitab mau’idzhatul Hasanah diungkapkan;

“Betapa banyak didapati seseorang pria tatkala bertemu dengan sahabatnya di tempat kerja maka ia akan bersifat mulia dan lembut, namun jika ia kembali ke rumahnya maka ia berlaku pelit, keras, dan menakutkan. Padahal orang yang paling berhak untuk ia lembuti dan ia perlakukan dengan baik adalah istrinya”.

So … Berbaik²lah pada istrimu, karena Rasulullah manusia terbaik pada istri-istrinya. Itu Sunnah ya!

Bagaimana dengan poligami, sunnahkah? Itu pembahasan di media lain🤭 biar pakarnya yang mengupas tuntas.

Exit mobile version