Site icon Topik Terkini

Anggota DPRD Buol, Abdi Wijaya Ungkap Pentingnya Pendidikan Kebencanaan di Sekolah

Topikterkini.com.Buol – Indonesia merupakan negara yang ditakdirkan rawan bencana alam baik disebabkan faktor geologi maupun meteorologi. Bencana alam geologi karena Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik bumi, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Samudera Pasifik.

Pertemuan tiga lempeng ini menyebabkan Indonesia rawan bencana gempa bumi dan letusan gunung api. Sehingga menyebabkan Indonesia termasuk pada bagian dari Ring of Fire dunia.

Posisi Indonesia yang terletak di daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi sangat berpotensi bencana longsor, banjir, dan angin puting beliung pada musim hujan, dan bencana kekeringan pada setiap musim kemarau.

Dari hasil survey peta bahaya gempa dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Palu, Kabupaten Buol merupakan salah satu dari empat daerah di Sulawesi Tengah. yakni Kabupaten Toli-toli, Buol, Donggala dan Kota Palu yang di kategorikan rawan gempa, mengutip pernyataan kepala seksi data dan informasi BMKG stasiun Geofisika Palu, Hendrik Leopatty.(Antara.com edisi 15/11/2021) lalu.

Menurut anggota Komisi I DPRD Buol asal Partai Kebangkitan Bangsa Dapil II (Bunobogu, Gadung, Paleleh Barat dan Kecamatan Paleleh), Abdi Wijaya S. Koni S.IP, masyarakat harus paham betul terhadap potensi adanya bencana karena kondisi geografi Kabupaten Buol yang rawan bencana alam.

“Persiapkan masyarakatnya dulu agar mereka mengerti tentang kewaspadaan bencana, baik itu gempa, Banjir, tanah longsor, puting beliung, maupun tsunami,” kata Anggota Komisi I DPRD Buol yang akrab dengan sapaan “ABO”, senin (16/05/2022).

Kepada awak media, Menurutnya pemahaman ini merupakan bekal penting ketika masyarakat ingin hidup berdampingan dan bersahabat dengan alam. Menjaga kelestarian dan meminimalisasi kegiatan di zona-zona berbahaya menjadi langkah yang harus ditempuh agar tercipta keselarasan hidup dengan lingkungan. Sehingga penggalakan sosialisasi terkait kebencanaan oleh pemerintah juga harus lebih digalakkan.

Pendidikan kebencanaan dimaksudkan untuk merubah pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik tentang kebencanaan. Perubahan ini meliputi dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu bahwa daerah tempat tinggalnya termasuk kawasan rawan bencana, dari yang tadinya tidak peduli menjadi peduli terhadap upaya pencegahan banyaknya korban jiwa, dari yang tadinya tidak terlatih menjadi terlatih dalam upaya penyelamatan jika terjadi bencana.

“Pemerintah diharapkan lebih intens untuk melakukan sosialisasi. Dari usia dini, anak-anak di sekolah sampai lanjut usia yang sangat rentan terhadap bencana. Intinya, kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif mesti seimbang dan terencana,” ujarnya.

Tidak hanya itu, anggota Fraksi PKB ini, berharap pemerintah juga sadar akan pentingnya pembelajaran kebencanaan di sekolah-sekolah, Agar para siswa sedini mungkin mengerti dan paham ketika hidup di lingkungan yang rawan bencana, sehingga dapat melakukan antisipasi maupun tindakan jikalau bencana itu terjadi.

Posisi Pendidikan Kebencanaan sama persis dengan Pendidikan Lingkungan. Artinya peserta didik bukan hanya dituntut mengetahui dan memahami penyebab bencana atau kerusakan lingkungan, tetapi juga dituntut punya sikap dan keterampilan untuk penyelamatan diri dalam rangka meminimalisir korban jiwa.

“Pendidikan kebencanaan akan berjalan sesuai dengan harapan apabila seluruh komponen pengetahuan, sikap, dan keterampilan dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, keberhasilan Pendidikan kebencanaan hanya bisa dilakukan melalui pembiasaan,”ujar Abdi Wijaya, Legislator parlemen Buol yang dekat dengan masyarakat tani dan pesisir ini.

“Pendidikan kebencanaan saya harap bisa dimasukkan ke sekolah-sekolah mengenal dan bisa tahu apa yang dilakukan jikalau terjadi bencana,” pungkasnya.

Liputan: Husni Sese

Exit mobile version