Site icon Topik Terkini

Bullying Bukan Lagi Hal Yang Asing Dalam Dunia Pendidikan

Bullying Bukan Lagi Hal Yang Asing Dalam Dunia Pendidikan

Andi Nurul Kharimah Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar

“Bullying Bukan Lagi Hal Yang Asing Dalam Dunia Pendidikan”

Oleh: Andi Nurul Kharimah
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Bahasa dan Sastra
Universitas Negeri Makassar

Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang terjadi pada seseorang atau sekelompok orang. Bagi beberapa pelaku tentunya bullying ini merupakan hal yang sangat memuaskan untuk dilakukan secara terus-menerus. Meskipun mereka tahu hal tersebut adalah hal yang sangat tidak terpuji, tetapi itu tetap saja mereka lakukan demi kepuasan diri sendiri.

Masalah bullying paling banyak terjadi di dunia pendidikan, terutama pada kesenioritasan. Mereka yang menganggap dirinya tertua merasa berhak untuk menindas yang lebih muda. Padahal yang seharusnya, yang tualah yang harus menjadi contoh yang baik bagi junior-juniornya.

Untuk seorang anak yang tidak menyukai keramaian tentu akan menjadi sasaran yang empuk bagi para pelaku kekerasan karena mereka tahu bahwa seorang anak yang pendiam tentu akan tetap diam meskipun dia diberlakukan dengan tidak baik.

Untuk para korban bullying ini tentunya akan memberikan rasa takut dan trauma untuk bertemu kembali dengan para pelaku, namun hal ini cukup sulit untuk dihindari karena masalah bullying yang paling banyak terjadi itu ada di kawasan sekolah bahkan ada yang hanya satu kelas antara pelaku dan korban bullying.

Korban  bullying akan rentan mengalami masalah pada kesehatan fisik maupun mental, seperti jika kejadian itu terjadi terus-menerus maka akan membuat korban menjadi gangguan mental. Bullying pada anak tentunya akan memicu perasaan rendah hati, depresi, cemas, serta anak akan kesulitan tidur dengan nyenyak karena akan terus dihantui rasa takut untuk memulai hari kembali. Kondisi ini juga tentunya akan membuat anak memiliki keinginan untuk menyakiti dirinya sendiri.

Alasan mengapa bullying ini terjadi karena bisa disebabkan ketika pelaku pernah menjadi korban kekerasan baik di sekolah maupun di keluarganya sendiri. Karakter pelaku mulai terbentuk atau terpengaruh apabila ia menyaksikan secara langsung perkelahian orang tuanya, maka ia akan beresiko melakukan hal yang sama atau bullying kepada temannya di sekolah sebagai bentuk pelampiasan amarahnya.

Pada usia anak yang masih remaja tentunya akan mudah terpengaruh oleh keadaan yang pernah ia alami, baik itu berasal dari apa yang mereka lihat maupun apa yang langsung mereka dapatkan dari pertemanan yang mereka jalin selama bersekolah.

Kurangnya pengawasan dan bimbingan orang dewasa terutama pada dunia pendidikan tentu menjadi penyebab anak memilih hal yang negatif untuk melepaskan stress mereka. Maraknya genk atau kelompok pertemanan menjadi salah satu penyebab faktor adanya bullying di sekolah.

Biasanya kelompok pertemanan ini terdiri dari anak-anak yang memiliki banyak kesamaan, jadi untuk anak yang berbeda dengan yang lain tentu akan dikucilkan dari kelompok. Hal ini tentu harus menjadi perhatian bagi seorang tenaga pendidik, sebagai Guru tidaklah benar jika terlalu cuek dengan masalah-masalah yang dihadapi anak didiknya.

Namun ada beberapa tenaga pendidik yang justru merasa bodo amat karena merasa itu bukanlah urusannya. Padahal seorang Guru memiliki kewajiban menjaga kesejahteraan mental anak-anaknya agar merasa nyaman dalam melakukan pembelajaran.

Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya bullying tentu haruslah mempunyai solusi yang tepat, solusi utama haruslah berawal dari lingkungan terdekat korban tersebut yaitu dari lingkungan keluarga. Peran keluarga dalam masalah ini sangatlah berpengaruh karena keluargalah yang paling dekat bahkan paling sering bertemu dengan anak, entah itu ia pelaku ataupun korban.

Sebagai keluarga yang baik haruslah memperlihatkan hal-hal yang baik pula agar anak bisa mengikuti hal baik tersebut, bukan malah menunjukkan kekerasan di depan anak yang tentu mudah untuk terpengaruh. Setelah keluarga, peran penting yang kedua yaitu melibatkan sekolah sebagai cara mencegah terjadinya bullying.

Alangkah baiknya lagi jika setiap sekolah mempunyai Guru BK yang tentu lebih paham tentang permasalahan yang terjadi di sekolah. Para Guru di sekolah haruslah memberikan penjelasan tentang buruknya tindakan bullying, buatlah para pelajar paham bahwa apapun yang berkaitan dengan kekerasan itu tidaklah terpuji.

Selain memberikan penjelasan, Guru juga boleh memberikan hukuman atau sanksi terhadap pelaku bullying jika memang itulah satu-satunya cara untuk membuat para pelaku merasa jera melakukan bullying.

Solusi yang lain juga bisa dengan cara membangun rasa percaya diri sang anak, memupuk keberanian dan ketegasan anak serta mengembangankan kemampuan anak untuk bersosialisasi agar tidak menjadi ketertarikan untuk di bully. Mengajarkan etika terhadap sesama manusia agar saling menghargai tanpa melakukan kekerasan.

Sebagai seorang Guru, berikanlah teguran yang mendidik kepada anak didik jika ia melakukan kesalahan. Meskipun akan susah dan butuh waktu, setidaknya ada upaya yang dilakukan untuk mengurangi terjadinya bullying baik itu di lingkungan luar maupun dalam sekolah.

Exit mobile version