Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
Seorang pemimpin yang Qur’ani tidak harus melantunkan atau mengucapkan al-Qur’an yang telah dipahaminya dihadapan orang banyak, tetapi dari sosok seorang Deden – Efa, yang kini berjuang di jalan Allah untuk terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat Periode 2024-2029.
Dan terpancar dari semua pemikirannya, sikap dan kebijakannya yang selalu dilandaskan pada al-Qur’an’ sebagai sebuah bentuk keteladanan.
Bagi pasangan nomor urut 3 ini, menjadikan al-Qur’an sebagai landasan pastilah juga mengikuti rasulullah sebagai sang penerima wahyu, bisa dicermati bahwa al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk ta’at kepada ajaran sang Rasul (Nabi Muhammad).
Dengan model kepemimpinan Deden – Efa di setiap kini sektor, dapat dikatakan sebagai pemimpin yang shalih dan shalihah yaitu pemimpin yang bertaqwa kepada Allah SWT.
Seorang pemimpin yang Qur’ani harus memiliki kriteria yang telah disifatkan pada Nabi Muhammad karena Nabi Muhammad adalah teladan pemimpin umat sepanjang zaman, yaitu sifat sidiq, amanah, tablig dan fathanah.
Dan setidaknya apa yang telah kita lihat bersama melalui rekam jejak Deden & Efa, menunjukkan bahwa seorang Ahmad Ali dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ardh, berusaha sebaik-baiknya mendekati kriteria kepemimpinan yang disifatkan dari Rasulullah SAW.
Adalah sifat Siddiq bermakna menjunjung tinggi kebenaran. Sosok Deden – Efa tahu dan memahami betul bahwa wajib mentaati kebenaran sampai kapanpun dan dimanapun, lepas dari sifat ini berarti sudah keluar dari kriteria pemimpin yang Qur’ani.
Sifat ini ratusan tahun yang lalu telah dicontohkan oleh rasulullah dan para sahabat. Lantas bagaimanakah melihat diri kita, para pemimpin-pemimpin kita Indonesia tercinta ini, sudahkah memiliki sifat sidiq ini ?
Mengingat sidiq itu artinya Benar. Jadi bagi Deden & Efa, untuk menjadi pemimpin pantang untuk berbuat dusta, apapun bentuknya bagaimanapun caranya berdusta atau berkata tidak benar bagi pemimpin qur’ani yang mempunyai sifat sidiq ini harus dihindari.
Sebab Deden & Efa memahami bahwa seorang pemimpin yang berdusta berarti berdusta atas orang banyak, jadi pemimpin berdusta itu dosanya lebih besar dibanding pendusta biasa.
Lalu Deden – Efa sangat mengedepankan sikap menjadi pemimpin dengan sifat Amanah artinya dapat dipercaya.
Model pemimpin yang yang memiliki sifat amanah perkataan dan perbuatannya itu selalu dapat dipercaya.
Hakikat amanah itu sebenarnya adalah titipan yang telah dipercayakan kepadamu, yang mana titipan tersebut suatu saat akan di ambil oleh yang telah menitipkan nya serta akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban atas hal yang dititipkan nya itu.
Semua yang ada pada diri kita adalah amanah mata kita, hidung kita, mulut kita, kaki kita, tubuh kita semua adalah amanah, masing masing akan dimintai pertanggungjawaban oleh pemberi amanah yaitu Allah SWT.
Demikian pula seorang pemimpin, kepemimpinan adalah amanah yang sangat besar, karena harus dipertanggungjawabkan dihadapan orang banyak dan kelak diakhirat juga harus mempertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Pemimpin yang amanah pada dirinya akan muncul sifat disiplin dan tanggung jawab, tanggung jawab terhadap amanah yang telah di bebankan kepadanya.
Pemimpin yang amanah tidak suka ingkar janji atau berbohong, karena ia takut kepada Allah, takut atas siksa neraka kelak di akhirat.
Selanjutnya adalah sifat Tablig, secara bahasa berarti menyampaikan yaitu menyampaikan kebenaran, kebenaran yang pernah diterimanya kepada yang dipimpinnya.
Menyampaikan pernyataan sesuai dengan yang ada, menyampaikan pernyataan dengan benar, menyampaikan keputusan yang semuanya dilandasi dengan kebenaran.
Seorang pemimpin yang Qur’ani tidak pernah menyembunyikan kebenaran yang diterimanya namun berani menyampaikan kepada masyarakatnya.
Bukannya yang benar malah ditutup tutupi sedangkan yang salah disampaikan. Pemimpin yang mempunyai jiwa Qur’ani akan menyampaikan kebenaran-kebenaran, menyampaikan kebijakan-kebijakan berdasarkan nilai nilai luhur al-Quran.
Dan dari sifat Tablig inilah, sosok Deden – Efa menjadi leader yang sangat diperhitungkan di kancah Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Cianjur kali ini, dan semakin mempertegas bahwa kebenaran adalah segala-galanya yang harus menjadi pondasi utama seorang pemimpin.
Kemudian Fathanah, secara bahasa berarti cerdas. seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan, kecerdasan intelektual, emosional, dan kecerdasan spiritual.
Dengan kecerdasan intelektual yang dimiliki oleh Deden – Efa sebagai seorang pemimpin akan berpikir untuk kemajuan, berpikir jauh kedepan berdasar tuntutan zaman, tentang teknologi dan membangun peradaban modern yang islami.
Dengan kecerdasan emosional Deden – Efa, dipastikan akan memiliki sifat lebih terbuka dan tidak berfikiran kerdil, mau mendengar dan mempertimbangkan masukan yang lain, mau melihat kondisi dan situasi, mau merasakan keprihatinan yang lain, serta senantiasa berfikir dan melakukan tindakan bijaksana.
Dengan kecerdasan Spiritual Deden – Efa, mereka akan bersifat jujur, adil, dan istiqomah dalam kebaikan, karena pemimpin merasa menyadari tentang pertanggungjawabannya didunia dan akhirat.
“Pertanggungjawaban Seorang Pemimpin”
Dari Ibnu Umar RA, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalian semua adalah pemimpin dan akan di mintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.’” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan memiliki tanggung jawab yang berat. Tidak hanya kepada sesama orang yang dipimpin, manusia, tapi juga kepada Allah Yang Maha kuasa. Begitu besar pahala jika mampu menjadi seorang pemimpin yang diridhai Allah SWT.
Hanya saja, dalam praktiknya, tidak semua orang mampu menjalankan peran kepemimpinan dengan baik.
Ada lima sikap yang harus ditanamkan dalam diri seorang pemimpin.
Pertama, ikhlas menjalankan amanah kepemimpinan, hanya mengharap keridhaan Allah SWT semata. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS an-Nisa: 125).
Seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Yang Maha kuasa, artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah SWT serta mengikuti Rasulullah SAW dan sunahnya.
Kedua, sabar saat ikhlas sudah tertanam dalam hati. “Dan Kami jadi kan di antara mereka itu pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS as-Sajdah: 24).
Ketiga, istiqamah berkaitan dengan perkataan, perbuatan, keadaan, dan niat. Umar bin Khatab berkata, “Istiqamah artinya engkau teguh hati pada perintah dan larangan serta tidak menyimpang seperti jalannya rubah.” Sementara, Utsman bin Affan berkata, “Istiqamah artinya amal yang ikhlas karena Allah.”
Ke empat, ikhtiar yang maksimal. Berusaha sekuat tenaga memberikan pelayanan dan pengabdian terbaik dengan cara-cara yang diridhai Allah SWT. Yakinilah bahwa sekecil apa pun ikhtiar kita, jika dimaksudkan untuk kemaslahatan, Allah akan hadirkan pertolongan-Nya.
Dan ke lima, tawakal secara total. Bertawakal kepada Allah SWT adalah cara terbaik menghadirkan ketenangan dan kasih sayang-Nya. Allah SWT berfirman, “Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali Imran: 159)
Demikianlah lima modal penting dalam proses kepemimpinan. Semua upaya itu adalah ikhtiar terbaik dengan kesadaran bahwa tiada daya dan kekuatan melainkan semuanya berasal dari kemahakuasaan Allah SWT.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya masyarakat Kabupaten Cianjur bersyukur nikmat dengan memiliki Deden & Efa sebagai pemimpin (Bupati dan Wakil Bupati) Kabupaten Cianjur periode 2024-2029, dengan memiliki sikap di atas sebagai bekal menjalankan amanah.
Penulis : Maulana Maududi (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS / Angkatan 18 Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)
BERSAMBUNG

