Menjelang Pilkada Serentak 2024, Ahmad Ali selaku Calon Gubernur Sulawesi Tengah Periode 2024-2029 mengimbau masyarakat agar menghindari politik uang dan ujaran kebencian selama proses dan tahapan pemilihan berlangsung.
Ahmad Ali menegaskan, baik pemberi maupun penerima politik uang akan dikenakan sanksi pidana.
Menurut Ahmad Ali, sekarang, baik pemberi maupun penerima politik uang akan dikenai pidana. Masyarakat harus benar-benar memahami ini dan tidak terlibat dalam praktik seperti itu.
Ahmad Ali juga mengajak warga Sulawesi Tengah untuk mengikuti seluruh proses Pilkada dan menyimak visi-misi dari setiap pasangan calon.
Ahmad Ali yakin warga Sulteng akan menjadi pemilih yang cerdas dalam menentukan pilihannya nanti dengan menomor satukan kualitas Calon Gubernur Sulawesi Tengah mendatang.
Ahmad Ali pun mengimbau masyarakat untuk mengambil informasi resmi seputar tahapan Pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah melalui akun official KPUD Sulawesi Tengah agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Calon Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) nomor urut 1, Ahmad HM Ali, juga menekankan agar masyarakat Sulawesi Tengah untuk bijak dalam mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan digelar pada 27 November 2024 mendatang.
Dalam kunjungannya ke Luwuk, Banggai, Rabu (23-10-2024), Ahmad Ali meminta warga agar tidak terpengaruh oleh kandidat yang menggunakan cara-cara curang, seperti praktik politik uang yang sering disebut serangan fajar.
“Jangan pilih kandidat yang bermain uang, yang melakukan serangan fajar. Masyarakat harus pintar. Jika ada kandidat yang memberi uang, terima saja, tapi jangan pilih mereka,” ujar Ahmad Ali.
Ahmad Ali menegaskan, menerima uang dari kandidat yang tidak jujur bukanlah sebuah dosa, namun masyarakat harus memberikan pelajaran kepada mereka yang merusak moral dan demokrasi dengan politik uang. Ahmad Ali bahkan menyebut bahwa tindakan menerima uang itu dapat dianggap sebagai sedekah, tetapi pilihan politik harus tetap jujur.
“Kita kasih menangis mereka yang main serangan fajar itu. Karena politik uang itu merusak moral dan demokrasi kita,” tambahnya dengan tegas.
Sebagai mantan Anggota DPR RI dua periode, Ahmad Ali mengingatkan bahwa kandidat yang terlibat dalam politik uang biasanya akan berusaha mengembalikan modal yang mereka keluarkan setelah terpilih, yang dapat merugikan masyarakat.
“Yang pertama akan dilakukan kandidat itu adalah mengganti uang pinjaman tersebut jika terpilih,” ujarnya.
Ahmad Ali menyampaikan komitmennya untuk tidak mengecewakan rakyat jika terpilih. Ia menyatakan bahwa dirinya telah selesai dengan urusan pribadi dan tidak akan mengambil uang rakyat. Fokus utamanya, menurutnya, adalah mensejahterakan warga dan membangun Sulteng.
“Saya sudah selesai dengan urusan pribadi dan urusan keluarga saya. Alhamdulillah, rezeki yang Allah SWT titipkan kepada saya, cukup untuk saya gunakan secara pribadi mau pun keluarga. Saya tidak akan mengambil uang rakyat,” katanya.
Dalam Pilkada kali ini, Ahmad Ali berpasangan dengan Abdul Karim Al Jufri sebagai calon wakilnya. Duet ini didukung oleh koalisi 10 partai besar, termasuk NasDem, Gerindra, Golkar, PAN, PSI, PKB, Perindo, PPP, PKS, dan Prima. Dengan dukungan tersebut, Ahmad Ali dan Abdul Karim optimistis memenangi kontestasi politik di Sulteng.
Oleh : Maulana Maududi (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS / Angkatan 18 Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)
BERSAMBUNG

