TAKALAR, Topikterkini.com — Stunting masih menjadi tantangan besar di Indonesia karena berdampak pada tumbuh kembang anak, baik fisik maupun kecerdasan. Di Kelurahan Pallantikang, Kabupaten Takalar, sejumlah dosen dan mahasiswa dari program S1 Keperawatan STIKES Tanawali Takalar berinisiatif melakukan program pemberdayaan masyarakat dengan menghadirkan aplikasi INZTING (Ikhtiar MenZerokan Stunting), Selasa (15/7/2025).
Berbeda dengan cara lama yang hanya mengandalkan sosialisasi, program ini mengajak warga khususnya 23 ibu dengan anak stunting dan 28 anggota kelompok dasawisma untuk belajar menggunakan aplikasi digital. Lewat pendekatan Asset Based Community Development (ABCD), masyarakat diajak mengenali potensi lokal dan terlibat langsung dalam pencegahan stunting.
Dalam kegiatan ini, peserta menerima berbagai materi edukatif yang disampaikan oleh narasumber Dr. Hj. Salmah Arafah, S.Kep., Ns., M.Kes dengan judul materi sosialisasi tentang pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) dan penggunaan aplikasi INZTING sebagai media pencatatan dan pemantauan stunting berbasis komunitas. Materi ini menekankan pentingnya menggali potensi lokal serta memanfaatkan teknologi sebagai solusi strategis dalam penanggulangan stunting di tingkat rumah tangga dan masyarakat.
Selanjutnya, materi tentang “Optimalisasi Peran Keluarga dalam Upaya Pengendalian Stunting melalui Pendekatan ABCD Berbasis Aplikasi INZTING” disampaikan oleh Dr. Risnah, S.Kep., Ns., M.Kes dan Harmawati, S.Kep., Ns., M.Kep. Materi ini memberikan pemahaman mendalam tentang peran keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki peran penting dalam memastikan tumbuh kembang anak optimal. Peserta diajak untuk memahami keterkaitan antara pola asuh, asupan gizi, lingkungan, dan pentingnya keterlibatan aktif keluarga dalam pencatatan tumbuh kembang anak melalui aplikasi INZTING.
Sebagai bagian dari penguatan kegiatan, dilakukan pula forum evaluasi secara berkala melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan tokoh masyarakat, 35 kader kesehatan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), dan kelompok dasawisma. Forum ini menjadi wadah strategis dalam mengevaluasi implementasi program, mengidentifikasi kendala, serta menyusun rencana tindak lanjut berbasis musyawarah warga.
Materi yang paling mudah dipahami oleh peserta selama kegiatan adalah pedoman gizi seimbang, tanda dan penyebab stunting, serta dampak jangka panjang dari stunting terhadap tumbuh kembang anak. Sementara itu, beberapa peserta memerlukan pendampingan tambahan untuk memahami fitur teknis dari aplikasi INZTING, terutama peserta yang belum terbiasa menggunakan perangkat digital.
Secara keseluruhan, kegiatan ini membuktikan bahwa kombinasi antara edukasi kesehatan, pelibatan keluarga, digitalisasi pencatatan, dan pemberdayaan komunitas berbasis pendekatan ABCD merupakan strategi yang komprehensif dan efektif dalam mendorong penurunan angka stunting di Kelurahan Pallantikang secara berkelanjutan.
Hasilnya cukup menggembirakan, Pengetahuan ibu tentang stunting meningkat dari 52% menjadi 90%, sementara pemahaman kelompok dasawisma soal penggunaan aplikasi naik dari 40% menjadi 95%. Warga semakin paham tentang gizi seimbang, penyebab stunting, serta cara mencegahnya.
Program ini membuktikan bahwa ketika teknologi sederhana dipadukan dengan kekuatan masyarakat, hasilnya bisa lebih efektif. Aplikasi INZTING bukan hanya membantu warga Pallantikang memantau tumbuh kembang anak, tetapi juga bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mencetak generasi sehat dan kuat.
Adapun pelaksanaan kegiatan terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari perencanaan hingga evaluasi pasca kegiatan, yang didukung oleh rangkaian kunjungan lapangan secara intensif.
1. Tahapan Persiapan dan Pra-Kegiatan
Sebagai tahap awal, dilakukan serangkaian kunjungan sebanyak 6 kali ke lokasi sasaran sebelum pelaksanaan kegiatan utama untuk memastikan kesiapan teknis dan sosial. Rincian kunjungan pra-kegiatan adalah sebagai berikut:
• Kunjungan 1 (3 Juni 2025): Koordinasi awal dengan kelurahan, puskesmas, dan tokoh masyarakat mengenai tujuan dan rencana kegiatan.
• Kunjungan 2 (6 Juni 2025): Survei dan pemetaan aset komunitas menggunakan pendekatan ABCD, termasuk identifikasi kelompok ibu dan dasawisma.
• Kunjungan 3 (10 Juni 2025): Pengumpulan data awal dan validasi sasaran penerima manfaat (23 ibu dengan anak stunting dan 28 anggota dasawisma).
• Kunjungan 4 (17 Juni 2025): Sosialisasi program dan pengenalan awal aplikasi INZTING kepada calon peserta.
• Kunjungan 5 (24 Juni 2025): Simulasi penggunaan aplikasi INZTING dan penguatan pemahaman peserta terhadap fungsinya.
• Kunjungan 6 (10 Juli 2025): Finalisasi persiapan teknis kegiatan, termasuk logistik, lokasi, dan pembagian peran fasilitator.
2. Pelaksanaan Kegiatan Utama
Kegiatan inti dilaksanakan pada tanggal 15 Juli 2025, melibatkan 23 ibu yang memiliki anak stunting dan 28 anggota kelompok dasawisma. Kegiatan meliputi edukasi tentang stunting dan gizi, pelatihan penggunaan aplikasi INZTING, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta.
3. Tahapan Pendampingan dan Pasca-Kegiatan
Pasca kegiatan utama, dilakukan kunjungan lapangan sebanyak 3 kali sebagai bentuk pendampingan dan evaluasi keberlanjutan implementasi aplikasi:
• Kunjungan 7 (20 Juli 2025): Monitoring awal implementasi mandiri penggunaan aplikasi oleh peserta.
• Kunjungan 8 (27 Juli 2025): Evaluasi lanjutan dan penguatan materi melalui diskusi kelompok dan pendalaman materi gizi.
• Kunjungan 9 (5 Agustus 2025): Dokumentasi akhir, wawancara peserta, dan pengumpulan data untuk penyusunan laporan kegiatan.***

