Topikterkini.com-Makassar- Sekelompok alumni lintas generasi Universitas Hasanuddin (Unhas) membentuk wadah baru bernama Solidaritas Alumni Peduli Unhas (SAPU). Gerakan ini lahir dari kegelisahan bersama atas arah masa depan kampus merah yang dinilai perlu kembali meneguhkan jati dirinya sebagai pusat kemerdekaan intelektual.
Deklarasi SAPU dilakukan secara sederhana namun sarat makna di Dawai Coffee, Tamalanrea, Kota Makassar, Rabu petang (15/10/2025). Para alumni yang hadir sepakat bahwa kampus tidak boleh dibiarkan kehilangan ruh akademiknya di tengah dinamika politik dan kepentingan pragmatis yang mulai menyusup ke ruang pendidikan tinggi.
“Kami merasa terpanggil untuk menjaga marwah Unhas sebagai rumah besar ilmu pengetahuan dan nurani akademik. Kampus tidak boleh kehilangan jati dirinya hanya karena kepentingan jangka pendek,” ujar Asri Tadda, salah satu inisiator SAPU.
Asri menjelaskan, nama “SAPU” dipilih bukan semata akronim, tetapi memiliki makna filosofis: membersihkan bengkalai akademik, menyapu kabut kepentingan, dan membuka jalan bagi lahirnya generasi baru Unhas yang berintegritas, kritis, dan berjiwa pengabdi.
SAPU, kata dia, diharapkan menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang konsolidasi bagi para alumni yang memiliki kesadaran moral yang sama, memastikan Unhas tetap tegak di atas nilai kebenaran, integritas akademik, dan kebebasan berpikir.
“Kami ingin Unhas kembali menjadi rahim bagi lahirnya tokoh-tokoh pemikir dan pencerdas generasi bangsa. Melalui SAPU, kami membuka ruang partisipasi dan solidaritas seluas-luasnya bagi alumni yang masih peduli dengan masa depan almamater tercinta,” tegas Ziaulhaq Nawawi, inisiator lainnya.
Gerakan ini membawa semangat “Membersihkan Nalar, Meneguhkan Gagasan”, sebagai simbol komitmen moral alumni untuk menjaga kemurnian nilai akademik Unhas. Para penggagas berharap, langkah ini menjadi awal dari gerakan intelektual yang bukan hanya peduli pada masa lalu dan kini, tetapi juga bertanggung jawab pada arah masa depan universitas yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa tersebut.
Dengan terbentuknya SAPU, para alumni ingin mengembalikan Unhas ke khitahnya, kampus yang tidak sekadar mencetak sarjana, tetapi juga menumbuhkan nalar kritis dan keberanian berpikir bebas demi kemajuan masyarakat dan bangsa.
Laporan: Arief Rahman/Redaksi

