Site icon Topik Terkini

Dua Begawan Ekonomi, Satu Arah Bangsa: Relevansi Perdebatan Sjahrir–Sumitro bagi Hilirisasi Era Prabowo–Gibran. Oleh: Adi Priyanto, S.H, M.H (Wasekjend DPP Partai Prima).

Perdebatan Klasik yang Membentuk Arah Ekonomi Bangsa

Dalam sejarah awal Republik Indonesia, perbedaan pandangan ekonomi antara Sjafruddin Prawiranegara dan Sumitro Djojohadikusumo menjadi salah satu perdebatan paling intelektual yang pernah tercatat. Keduanya memang tidak masuk dalam Kabinet Sukiman–Suwirjo (1951–1952), tetapi perdebatan terbuka di harian Abadi pada Maret 1952 telah membentuk fondasi pemikiran ekonomi Indonesia hingga hari ini.

Sjafruddin, melalui serangkaian tulisan panjangnya, menekankan pentingnya sektor pertanian sebagai sumber devisa. Menurutnya, negara berkembang tidak dapat meloncat langsung ke industrialisasi tanpa surplus perdagangan luar negeri. Industri yang bergantung pada barang modal impor justru akan menghasilkan produk mahal dan kalah bersaing.

Sebaliknya, Sumitro melalui Rencana Urgensi Perindustrian 1951–1952 mendorong industrialisasi sebagai jalan keluar dari ketergantungan terhadap dunia luar. Fokusnya adalah public utilities, industri pertanahan, dan perluasan industri kecil. Prinsip utamanya: impor substitusi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Perbedaan itu bukan sekadar perdebatan teknokrat, melainkan pertarungan gagasan dari dua kutub politik yang berbeda. Namun tanpa mereka sadari, keduanya sedang menyusun kerangka besar bagi ekonomi Indonesia masa depan.

Inflasi, Defisit, dan Cara Pandang yang Berbeda

Sjafruddin mengkritik defisit APBN 1951–1952 yang ia taksir sebesar Rp 500 juta akibat pembelian beras dengan pinjaman bank sentral. Baginya, situasi tersebut memicu sharp inflation dan melemahkan daya beli masyarakat.

Sumitro membantah. Menurut “Begawan Ekonomi Indonesia” itu, Indonesia justru mengalami deflasi, karena jumlah uang beredar (Rp 4.000 juta) masih jauh di bawah batas lima kali lipat cadangan emas dan devisa (Rp 33.150 juta). Perbedaan pendekatan ini memperlihatkan bahwa kedua tokoh menggunakan kacamata ekonomi makro yang berbeda, tetapi sama-sama relevan bagi kondisi negara yang masih mencari jati diri.

80 Tahun Indonesia: Perdebatan yang Kini Bertemu di Titik Tengah

Delapan dekade setelah perdebatan bersejarah itu, Indonesia memasuki babak baru transformasi ekonomi. Pemerintahan Prabowo–Gibran melalui RPJMN 2025–2029 dan RPJPN 2025–2045 tahap I menetapkan hilirisasi komoditas sumber daya alam sebagai prioritas nasional.

Di sinilah pemikiran Sjafruddin dan Sumitro bertemu:

Kementerian Pertanian mencatat bahwa sektor perkebunan menghasilkan devisa Rp 400–500 triliun per tahun, terutama dari sawit, karet, kopi, kakao, teh, kelapa, dan rempah. Data BPS (2013–2020) juga menunjukkan kinerja ekspor komoditas perkebunan tetap menjadi tulang punggung ekonomi meski fluktuatif.

Hilirisasi: Jawaban Abad ke-21 atas Perdebatan 1952

Hilirisasi yang kini dijalankan pemerintah pada dasarnya merupakan sintesis dari dua kutub pemikiran besar tersebut.

1. Menambah nilai tambah komoditas pertanian (gagasan Sjafruddin)

Komoditas tidak lagi diekspor mentah—seperti pada era kolonial—tetapi diproses menjadi barang setengah jadi atau produk industri. Ini langsung meningkatkan devisa negara dan memperbaiki stabilitas perdagangan.

2. Membangun industri turunan di dalam negeri (gagasan Sumitro)

Sawit saja dapat menghasilkan puluhan turunan: pangan, kosmetik, biodiesel, hingga biofuel. Setiap turunan membuka peluang tenaga kerja, menambah rantai nilai domestik, sekaligus mendorong modernisasi alat pertanian.

Hilirisasi pada intinya menjawab dua tantangan besar Indonesia: ketergantungan impor dan rendahnya nilai tambah komoditas.

Warisan Dua Begawan untuk Masa Kini

Perbedaan tajam antara Sjafruddin dan Sumitro tidak lagi menjadi sekat, melainkan inspirasi kebijakan nasional. Ketika ideologi politik tak lagi mendikte arah ekonomi, maka kedalaman analisis dan kekuatan argumentasi keduanyalah yang kini menjadi rujukan.

Mereka menunjukkan bahwa perbedaan gagasan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk memperkaya solusi.

Hari ini, hilirisasi nasional menjadi bukti bahwa warisan intelektual dua tokoh itu tetap hidup. Indonesia tidak sekadar melanjutkan perdebatan mereka, tetapi menggabungkannya untuk membangun ekonomi yang mandiri, modern, dan berdaulat.

Referensi:

  1. Hendra Esmara, Heru Cahyono. Jejak Perlawanan Begawan Pejuang Sumitro Djojohadikusumo. Pustaka Harapan, Juni 2000.
  2. Direktorat PPH Perkebunan, Kementerian Pertanian.
  3. Badan Pusat Statistik (BPS), Analisis Komoditas Ekspor 2013–2020, dirilis 6 Juli 2021.
Exit mobile version