Saya Petani, Saya Penjaga Kehidupan
Oleh: Erank
Di tengah geliat pembangunan dan derasnya arus modernisasi, ada satu profesi yang sering luput dari perhatian, namun sesungguhnya menjadi penopang utama kehidupan: petani. Saya adalah petani. Lebih tepatnya, saya petani dari Jeneponto, dan saya percaya bahwa petani bukan sekadar profesi – kami adalah penjaga kehidupan.
Jeneponto dikenal sebagai daerah agraris. Sawah, ladang jagung, kebun, dan ternak adalah denyut nadi kehidupan masyarakat. Dari tanah kering yang kami olah dengan kesabaran, lahirlah bahan pangan yang menghidupi ribuan bahkan jutaan orang. Setiap butir nasi yang dimakan, setiap jagung yang direbus, setiap sayuran yang terhidang, adalah hasil dari kerja panjang petani Jeneponto yang penuh keringat dan pengorbanan.
Namun, menjadi petani hari ini bukan perkara mudah. Kami berhadapan dengan cuaca ekstrem, keterbatasan air, serangan hama, hingga harga hasil panen yang sering tidak berpihak. Di Jeneponto, tantangan itu terasa lebih berat karena kondisi alam yang kering dan infrastruktur pertanian yang belum sepenuhnya memadai. Meski demikian, petani tetap bertahan. Bukan karena hidup kami mudah, tetapi karena kami sadar: tanpa petani, kehidupan akan kehilangan pijakan.
Ironisnya, perhatian terhadap petani masih sering sebatas janji dan slogan. Regenerasi petani melemah karena anak-anak muda mulai menjauh dari dunia pertanian yang dianggap tidak menjanjikan. Jika ini terus terjadi, siapa yang akan mengolah sawah-sawah di Jeneponto kelak? Siapa yang akan menjaga ketahanan pangan daerah?
Petani sejatinya adalah garda terdepan ketahanan pangan. Ketahanan pangan Jeneponto adalah bagian dari ketahanan pangan nasional. Karena itu, sudah seharusnya petani ditempatkan sebagai subjek pembangunan. Dibutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak, akses teknologi pertanian yang merata, pendampingan berkelanjutan, serta jaminan harga hasil panen yang adil.
Saya Petani
Saya Penjaga Kehidupan.
Selama tanah ini masih bisa ditanami dan benih masih bisa tumbuh, saya akan terus bertahan. Bukan hanya untuk diri saya, tetapi untuk masa depan generasi Jeneponto dan Indonesia.

