Topikterkini.com. LOMBOK TIMUR – Dugaan kasus perundungan yang terjadi di salah satu sekolah dasar di Kecamatan Pringgabaya mendapat perhatian serius dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Lombok Timur.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, menegaskan bahwa kasus perundungan merupakan persoalan serius yang harus menjadi tanggung jawab bersama dan tidak boleh terjadi, khususnya di lingkungan pendidikan.
“Kasus perundungan adalah tanggung jawab bersama yang harus terus kita hilangkan, terlebih di dunia pendidikan,” tegas M. Nurul Wathoni kepada media ini, Rabu (4/2/2026).
Ia menyampaikan bahwa setiap dugaan perundungan harus menjadi atensi serius pihak sekolah. Oleh karena itu, seluruh elemen sekolah, mulai dari guru, pengawas, komite, wali murid, hingga pihak terkait lainnya, harus memiliki komitmen bersama untuk mencegah terjadinya perundungan.
Menurutnya, penegasan terkait pencegahan perundungan telah disampaikan jauh sebelum adanya dugaan kasus tersebut. Pada pertengahan Januari lalu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh sekolah agar menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi peserta didik.
“Termasuk di dalamnya bagaimana warga sekolah memaksimalkan tugas piket guru, baik saat pagi hari maupun pada kegiatan ekstrakurikuler, agar lingkungan sekolah tetap berada dalam pengawasan,” jelasnya.
Ia menambahkan, langkah tersebut merupakan salah satu upaya konkret untuk mencegah terjadinya kasus perundungan di lingkungan sekolah.
Terkait dugaan kasus di Kecamatan Pringgabaya, M. Nurul Wathoni menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan pihak sekolah, sebelum kejadian, pada Rabu pekan lalu, sekolah sedang melaksanakan kegiatan gotong royong membersihkan kelas bersama wali kelas karena adanya bangkai tikus di ruang kelas.
Setelah kegiatan selesai, wali kelas membagikan es kepada seluruh siswa. Hingga waktu pulang sekolah, tidak ada laporan terkait adanya pemukulan atau kekerasan antar siswa.
Namun, pada hari Sabtu, pihak guru menerima informasi bahwa salah satu siswa jatuh sakit dan mengaku telah ditendang oleh temannya. Saat dirawat di klinik, siswa tersebut menyebut nama salah satu temannya berinisial MK.
Menindaklanjuti hal tersebut, guru bersama orang tua MK langsung menjenguk siswa yang sakit di klinik. Dalam pertemuan tersebut, MK menyatakan tidak pernah melakukan pemukulan. Pihak sekolah kemudian melakukan konsultasi dengan dokter psikolog yang menangani siswa tersebut dan saat ini masih dilakukan proses screening.
“Hasil screening awal menunjukkan bahwa kejadian tersebut diduga terjadi setelah pulang sekolah atau di luar lingkungan sekolah. Selain itu, ada juga keterangan dari teman sekelas yang menyebut korban sempat naik ke atas bangku dan terjatuh,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya masih menunggu hasil screening lanjutan untuk memastikan kronologi kejadian yang sebenarnya.
“Karena ini siswa kelas 1, proses pendalaman memang tidak mudah. Saat ini masih dilakukan screening baik terhadap korban maupun MK, sehingga kejadian sebenarnya belum dapat disimpulkan,” pungkasnya.(TT).

