Site icon Topik Terkini

Dari Angin Jeneponto, Menyalakan Energi dan Membangun Manusia

Catatan dari Sambutan Prof. Hamid Awaludin pada Penamatan PAUD Anak Masa Depan Jeneponto

Oleh: Haerullah Lodji ( Anggota Himpaudi Jeneponto)

Ada satu bagian dari sambutan Prof. Hamid Awaludin, Ketua Yayasan Masa Depan Jeneponto, yang cukup lama tinggal dalam pikiran saya.

Pagi itu, Selasa, 14 Juli 2026, kami berada di Gedung Kalabbirang Rumah Jabatan Bupati Jeneponto. Puluhan anak mengikuti Penamatan PAUD Anak Masa Depan Jeneponto Angkatan VIII Tahun Pelajaran 2025–2026.

Suasananya ceria. Anak-anak bernyanyi, bermain angklung, bergerak mengikuti irama dan menunjukkan keberanian tampil di hadapan orang tua serta para undangan.

Namun di tengah kegembiraan itu, Prof. Hamid mengajak kami melihat sesuatu yang lebih besar.
Ia berbicara tentang angin Jeneponto.

“Kalau orang mau melihat kincir angin, tidak usah ke Belanda. Ke Jeneponto saja,” kurang lebih demikian kalimat yang ia sampaikan dan disambut tepuk tangan hadirin.

Kalimat itu memang terdengar ringan. Tetapi sesungguhnya menyimpan sebuah perspektif penting tentang pembangunan daerah : kemampuan mengenali sumber daya sendiri, mengubahnya menjadi nilai ekonomi, lalu memastikan nilai tersebut kembali memberi manfaat kepada manusia yang hidup di atasnya.

Jeneponto memiliki karakter geografis dan sumber daya yang khas. Di wilayah pegunungan Rumbia, kopi arabika tumbuh dan telah menjadi identitas produk daerah. Pada bentang pesisir, terdapat sumber daya kelautan dan ruang ekonomi masyarakat. Jeneponto juga memiliki tradisi peternakan dan budaya berkuda yang kuat.

Di antara seluruh potensi tersebut, ada satu kekuatan alam yang dahulu mungkin kita anggap biasa: *angin*.
Kita merasakannya hampir setiap hari.

Ia berembus di perbukitan, melewati hamparan lahan dan permukiman. Dalam kehidupan sehari-hari, angin mungkin hanya dianggap bagian dari cuaca.

Teknologi mengubah cara kita memandangnya.

Di Kabupaten Jeneponto kini berdiri PLTB Tolo 1 berkapasitas 72 megawatt. Data teknologi sektor ketenagalistrikan Indonesia mencatat pembangkit tersebut menggunakan 20 turbin, masing-masing berkapasitas 3,6 MW. Dokumen itu juga menggunakan asumsi kecepatan angin sekitar 6 meter per detik dalam estimasi produksi listrik tahunannya.

Menurut keterangan resmi Vena Energy, https://www.venaenergy.com/news/vena-energy-announces-the-72mw-tolo-wind-project-achieving-commercial-operation-status-in-indonesia/?utm_source=chatgpt.com), Tolo 1 memiliki 20 turbin dengan menara setinggi 133 meter dan bilah sepanjang 64 meter. Perusahaan memperkirakan proyek tersebut mampu menghasilkan lebih dari 268.300 MWh energi terbarukan per tahun.

Pemerintah juga mencatat nilai investasi PLTB Tolo 1 sekitar 160,7 juta dolar AS. Pembangkit ini menjadi bagian penting dalam perjalanan pengembangan energi terbarukan berbasis bayu di Indonesia.

Data-data tersebut memberi kita sebuah pelajaran. Angin Jeneponto bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah aset daerah.

Dalam teori pembangunan berbasis potensi lokal, keunggulan sebuah wilayah tidak selalu harus diciptakan dari sesuatu yang baru. Sering kali, kekuatan pembangunan justru dimulai dari kemampuan membaca secara lebih cerdas apa yang telah tersedia di daerah itu sendiri.

Jeneponto memiliki angin. Teknologi mengubah angin menjadi listrik. Investasi mengubah potensi menjadi kegiatan ekonomi.

Tetapi bagi saya, cerita terbaiknya justru dimulai ketika manfaat energi itu bergerak lebih jauh : menyentuh pendidikan anak-anak.

PAUD Anak Masa Depan Jeneponto berada di bawah Yayasan Masa Depan Jeneponto dan merupakan binaan PT Energi Bayu Jeneponto–PLTB Tolo 72 MW, bagian dari Vena Energy.

Hingga penamatan Angkatan VIII, PAUD tersebut telah melahirkan 228 alumni. Dalam sambutannya, Prof. Hamid menyampaikan secara terbuka sebuah prinsip yang menurut saya penting dicatat.

“Kami sadar kami mencari rezeki di wilayah Jeneponto. Karena itu, kami harus memberikan sesuatu kepada masyarakat Jeneponto, salah satu bentuknya adalah pendidikan gratis”.

Jika Jeneponto tidak memiliki potensi angin yang layak dikembangkan, barangkali tidak akan berdiri PLTB Tolo dalam bentuk seperti yang kita lihat hari ini.

Tanpa kegiatan investasi energi tersebut, perjalanan sosial yang kemudian melahirkan dukungan terhadap PAUD Anak Masa Depan Jeneponto tentu memiliki cerita yang berbeda.

Karena itu, saya melihat sebuah mata rantai pembangunan.

Angin menghasilkan energi. Energi menarik investasi. Investasi menciptakan nilai ekonomi. Dari aktivitas ekonomi tumbuh tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial kemudian berinvestasi kepada manusia melalui pendidikan.

Inilah yang dalam refleksi saya dapat disebut sebagai *hilirisasi sosial sumber daya daerah*.

Kita selama ini sangat akrab dengan istilah hilirisasi dalam konteks komoditas. Bahan mentah harus diolah agar memiliki nilai tambah.

Namun nilai tambah pembangunan sesungguhnya tidak boleh berhenti pada produk, listrik, pendapatan atau angka investasi.

Hilirisasi tertinggi dari sebuah sumber daya adalah ketika manfaatnya sampai kepada manusia.

Bank Dunia mendefinisikan modal manusia atau human capital sebagai pengetahuan, keterampilan dan kesehatan yang dikumpulkan manusia sepanjang hidup sehingga memungkinkan mereka mewujudkan potensinya sebagai anggota masyarakat yang produktif. Investasi pada pendidikan berkualitas merupakan salah satu fondasi pembentukan modal manusia tersebut. (World Bank)

Dalam konteks transisi hijau, hubungan antara energi dan pembangunan manusia bahkan semakin erat. Bank Dunia menilai manusia yang sehat dan berpendidikan lebih siap bekerja dalam ekonomi hijau, mendorong inovasi dan menghasilkan solusi terhadap tantangan iklim.

Ada pula satu gagasan penting dalam kajian akses energi : keberhasilan pembangunan energi seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah energi yang dihasilkan. Dampaknya juga perlu dilihat dari peningkatan pendidikan, penciptaan pekerjaan, kesehatan dan keluaran ekonomi masyarakat.

Perspektif tersebut sangat relevan untuk membaca apa yang sedang berlangsung di Jeneponto.

Kita tentu bangga melihat 20 turbin raksasa berdiri.

Kita bangga menyebut kapasitas 72 megawatt.

Tetapi kebanggaan pembangunan akan menjadi jauh lebih bermakna ketika kita juga dapat mengatakan : dari kegiatan energi itu, anak-anak mendapatkan akses pendidikan.

Di PAUD Anak Masa Depan, Prof. Hamid tidak sedang membangun anak-anak untuk sekadar cepat membaca dan berhitung.

Ia menjelaskan lima karakter yang sengaja ditanamkan. Kejujuran. Keberanian bertanya dan berpikir kritis. Kemampuan bekerja sama. Kemandirian. Dan kepercayaan diri.

Saya sangat tertarik ketika Prof. Hamid berbicara tentang “anak cerewet”.

Menurutnya, orang tua tidak perlu selalu khawatir ketika anak banyak bertanya. Anak yang bertanya sedang menunjukkan rasa ingin tahu. Dari rasa ingin tahu, pikiran bergerak. Dari pertanyaan, manusia mencari jawaban.

Dalam teori pendidikan modern, rasa ingin tahu memang memiliki tempat penting dalam proses belajar. Pendidikan bukan hanya proses memindahkan jawaban dari kepala guru kepada anak. Pendidikan harus memberi ruang kepada anak untuk bertanya, mencoba, berinteraksi dan membangun pemahaman.

Maka ketika Prof. Hamid mengatakan, “Kalau anak-anak ibu di rumah cerewet, berarti kita sukses mendidik,” saya menangkapnya bukan sebagai kelakar.
Itu adalah pernyataan filosofis tentang pendidikan.

Kita sedang membutuhkan generasi yang berani bertanya. Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menghafal jawaban lama. Masa depan membutuhkan manusia yang mampu mengajukan pertanyaan baru.

Dunia sedang bergerak menuju ekonomi rendah karbon.

Indonesia pun berada dalam arus transformasi tersebut. Pada 2025, Bank Dunia menyetujui dukungan investasi dan kebijakan yang antara lain diarahkan untuk memperluas akses energi bersih serta memobilisasi investasi swasta pada proyek surya dan angin.

Jeneponto sesungguhnya telah memiliki posisi dalam perubahan besar itu.
Pertanyaannya adalah: apakah kita hanya ingin menjadi lokasi turbin berdiri?

Menurut saya, jawabannya harus lebih besar.
Jeneponto harus bertumbuh menjadi daerah yang membangun ekosistem energi terbarukan.

Anak-anak Jeneponto suatu hari harus mengenal PLTB bukan hanya sebagai tempat berfoto.
Mereka harus memahami bagaimana angin dikonversi menjadi energi.
Sekolah-sekolah dapat menjadikannya ruang edukasi.
Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian.
Anak muda dapat diperkenalkan pada green skills.

UMKM lokal harus membaca peluang ekonomi.
Pariwisata dapat mengembangkan narasi edukasi energi.

Pemerintah daerah dapat membangun kebijakan yang memastikan keberadaan investasi hijau semakin memiliki hubungan kuat dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal.

Bank Dunia mengingatkan bahwa kebutuhan terhadap keterampilan rendah karbon atau green skills terus berkembang dan investasi pendidikan menjadi penting untuk menyiapkan tenaga kerja menghadapi ekonomi hijau. ([World Bank Blogs)

Karena itu, bagi saya, PAUD Anak Masa Depan mungkin adalah titik kecil dari sebuah gagasan yang jauh lebih besar.

Hari ini anak-anak belajar jujur.
Mereka belajar bertanya.
Belajar bekerja dalam tim.
Belajar mandiri.
Belajar percaya diri.

Dua puluh tahun mendatang, siapa yang tahu?

Mungkin salah seorang dari mereka akan menjadi insinyur energi.
Peneliti.
Guru.
Pengusaha hijau.
Perencana pembangunan.
Atau pemimpin Jeneponto.

Turbin hari ini menghasilkan listrik. Pendidikan hari ini menghasilkan kemungkinan.

Menemukan Makna Jeneponto Bahagia. Di sinilah saya melihat relevansinya dengan cita-cita pembangunan Jeneponto Bahagia yang sedang didorong Pemerintah Kabupaten Jeneponto di bawah kepemimpinan Bupati Paris Yasir.

Bagi saya, kebahagiaan daerah tidak cukup diterjemahkan sebagai slogan.
Bahagia harus hadir dalam kesempatan.

Kesempatan anak memperoleh pendidikan.
Kesempatan masyarakat mendapatkan pekerjaan.
Kesempatan pelaku usaha bertumbuh.
Kesempatan desa mengembangkan potensinya.
Dan kesempatan setiap warga Jeneponto merasakan manfaat dari sumber daya yang dimiliki daerahnya.

Konsep pembangunan manusia sendiri menempatkan perluasan kemampuan dan kesempatan manusia sebagai inti pembangunan. Dalam kerangka ini, pertumbuhan ekonomi penting, tetapi manusia tetap menjadi tujuan akhirnya.

Karena itu, saya membayangkan Jeneponto Bahagia sebagai sebuah daerah yang mampu membangun siklus kebaikan dari seluruh potensinya.

Kopi Rumbia harus melahirkan kesejahteraan petani dan generasi baru pelaku usaha.

Potensi pesisir harus menguatkan ekonomi masyarakat pantai.

Budaya berkuda dapat tumbuh menjadi kekuatan budaya, olahraga dan pariwisata.

Matahari dapat dibaca sebagai potensi energi.

Dan angin Jeneponto harus terus menghasilkan manfaat yang lebih luas.

Potensi daerah tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan. Potensi harus diubah menjadi kesempatan.

Angin yang Membangun Manusia. Sepulang dari kegiatan penamatan PAUD Anak Masa Depan, saya terus memikirkan sambutan Prof. Hamid Awaludin.
Tentang angin terbaik.

Tentang rencana pengembangan energi bayu.
Tentang pendidikan gratis.
Dan tentang anak-anak yang harus tumbuh jujur, kritis, mampu bekerja sama, mandiri serta percaya diri.

Saya akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan sederhana.
PLTB Tolo bukan hanya cerita tentang energi.

Ia juga dapat menjadi cerita tentang bagaimana sebuah daerah membaca anugerah alamnya.

Lebih jauh lagi, ia memberi pelajaran bahwa investasi terbaik dari sumber daya alam adalah ketika sebagian manfaatnya dikembalikan untuk membangun kualitas manusia.

Ada 20 turbin yang hari ini berdiri di Jeneponto.

Baling-balingnya terus bergerak ketika angin datang.

Tetapi di sebuah ruang kelas PAUD, ada “turbin” lain yang sedang digerakkan.

Namanya rasa ingin tahu.
Namanya kejujuran.
Namanya kemandirian.
Namanya kepercayaan diri.
Dan energi yang menggerakkannya adalah pendidikan.

Maka saya semakin percaya bahwa angin Jeneponto telah membawa berkah dengan caranya sendiri, Ia menyalakan listrik.
Ia menghadirkan investasi.
Ia membuka ruang ekonomi.

Dan melalui komitmen sosial yang dibangun, ia ikut menghadirkan pendidikan bagi anak-anak Jeneponto.

Kini tugas kita adalah memastikan siklus kebaikan itu tidak berhenti.

Pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil dan institusi pendidikan perlu terus duduk bersama. Bukan sekadar membicarakan berapa besar investasi yang masuk, tetapi berapa luas manfaat yang tumbuh dari investasi itu.

Sebab pembangunan berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga alam.

Ia juga tentang memastikan bahwa kekayaan alam hari ini ikut membangun kemampuan manusia untuk menghadapi hari esok.

Dari angin Jeneponto, energi dinyalakan.
Dari energi, nilai ekonomi diciptakan.
Dari nilai ekonomi, pendidikan dihadirkan.

Dan dari pendidikan, manusia masa depan sedang dibangun.

Ketika angin terbaik tidak hanya memutar turbin, tetapi juga ikut menggerakkan masa depan anak-anak Jeneponto. (*)

Exit mobile version