OPINI

Pemimpin dan Budaya Melempar Kesalahan

10
×

Pemimpin dan Budaya Melempar Kesalahan

Sebarkan artikel ini
Pemimpin dan Budaya Melempar Kesalahan
Foto: Ilustrasi

Pemimpin dan Budaya Melempar Kesalahan

Oleh: Erank

Dalam dinamika pemerintahan dan organisasi, kualitas kepemimpinan sering kali diuji bukan pada saat situasi berjalan baik, melainkan ketika menghadapi kegagalan dan tekanan. Di titik inilah karakter seorang pemimpin terlihat dengan jelas. Sayangnya, masih terdapat fenomena kepemimpinan yang cenderung menghindari tanggung jawab dengan melempar kesalahan kepada pihak lain.

Pemimpin yang gemar mencari kambing hitam sesungguhnya sedang memperlihatkan lemahnya fondasi kepemimpinan yang dimilikinya. Kepemimpinan sejati menuntut keberanian untuk mengakui kekeliruan, melakukan evaluasi, serta mengambil langkah perbaikan secara terbuka dan bertanggung jawab. Tanpa sikap tersebut, kepercayaan publik maupun internal organisasi akan perlahan terkikis.

Budaya menyalahkan pihak lain juga berpotensi menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat. Aparatur dan bawahan akan cenderung bekerja dalam bayang-bayang ketakutan, bukan dalam semangat inovasi dan tanggung jawab. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan sering kali stagnan, minim terobosan, dan jauh dari kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Lebih jauh, sikap pemimpin yang enggan bertanggung jawab dapat berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan publik. Ketika kegagalan program selalu dialihkan kepada faktor eksternal atau pihak lain, maka proses evaluasi menjadi tidak objektif. Tanpa evaluasi yang jujur, perbaikan kebijakan akan sulit dilakukan, sehingga masyarakat berpotensi terus menjadi pihak yang menanggung dampak dari kesalahan yang tidak pernah diakui.

Dalam perspektif kepemimpinan modern, akuntabilitas merupakan salah satu pilar utama tata kelola pemerintahan yang baik. Pemimpin yang berani menyampaikan “saya bertanggung jawab” justru menunjukkan integritas, kedewasaan, dan komitmen terhadap kepentingan publik. Sikap tersebut juga mampu membangun kepercayaan masyarakat sekaligus memperkuat soliditas internal organisasi.

Sejarah kepemimpinan, baik di tingkat nasional maupun global, menunjukkan bahwa pemimpin besar tidak diukur dari seberapa jarang mereka melakukan kesalahan, melainkan dari seberapa besar keberanian mereka memperbaiki kesalahan tersebut. Kepemimpinan yang kuat lahir dari ketegasan dalam mengambil keputusan dan kerendahan hati dalam menerima konsekuensi.

Oleh karena itu, membangun budaya kepemimpinan yang bertanggung jawab menjadi kebutuhan mendesak dalam setiap lini pemerintahan dan organisasi. Tanpa komitmen tersebut, kepemimpinan berisiko berubah menjadi sekadar simbol kekuasaan tanpa makna pelayanan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu berbicara tentang keberhasilan, tetapi juga pemimpin yang berani berdiri paling depan ketika menghadapi kegagalan. Sebab dari sanalah kepercayaan publik tumbuh, dan dari kepercayaan itulah legitimasi kepemimpinan memperoleh kekuatannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *