TOPIKterkini.com- KONAWE SELATAN | Persoalan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) kembali menjadi keluhan masyarakat Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
Di wilayah yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan akses transportasi dan kondisi geografis yang tidak mudah, BBM bukan sekadar kebutuhan untuk kendaraan. Bagi masyarakat Laonti, bensin dan solar menjadi penopang utama aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Mayoritas warga menggantungkan penghasilan sebagai nelayan dan petani. Perahu nelayan membutuhkan BBM untuk melaut, sementara mesin pertanian membutuhkan bahan bakar untuk menunjang pekerjaan di kebun dan ladang.
Ketika BBM sulit diperoleh, dampaknya pun langsung terasa. Aktivitas mencari nafkah ikut terganggu, mobilitas warga terbatas, sementara biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan bahan bakar semakin membebani masyarakat.
Kondisi tersebut membuat warga berharap pemerintah daerah tidak melihat persoalan BBM semata-mata sebagai masalah distribusi, tetapi sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Mantan kepala desa di wilayah Laonti, Yupa, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ia meminta pemerintah daerah mencari solusi yang disesuaikan dengan kondisi geografis Laonti.
“Kami turut prihatin melihat kondisi masyarakat Laonti saat ini. Pemerintah daerah harus memikirkan solusi yang benar-benar bisa menjawab kebutuhan masyarakat, karena BBM bagi masyarakat Laonti merupakan kebutuhan utama untuk mencari nafkah,” ujar Yupa, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah perlu membangun komunikasi dengan pihak Pertamina untuk mencari pola penyaluran BBM yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
Salah satu opsi yang dinilai dapat dibahas adalah menghadirkan fasilitas penyaluran BBM di wilayah Laonti, baik berupa SPBU maupun SPBN, khususnya untuk mendukung kebutuhan nelayan dan petani.
“Kalau memang memungkinkan, pemerintah daerah harus berkomunikasi dengan Pertamina agar di Laonti ada SPBU atau SPBN yang bisa melayani kebutuhan masyarakat. Jangan sampai masyarakat yang hidup dari laut dan pertanian justru kesulitan mendapatkan BBM untuk bekerja,” katanya.
Persoalan BBM juga disebut semakin dirasakan oleh masyarakat yang belum memiliki barcode atau akses pembelian sesuai sistem yang diterapkan di SPBU.
Dalam kondisi tertentu, warga yang tidak memiliki barcode mengaku mengalami kesulitan memperoleh BBM. Persoalan tersebut menjadi semakin berat karena masyarakat Laonti harus menghadapi jarak dan keterbatasan transportasi ketika mencari bahan bakar.
Bagi masyarakat di wilayah dengan akses yang mudah, berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain mungkin menjadi pilihan. Namun kondisi tersebut tidak mudah dilakukan warga Laonti.
Jarak, biaya transportasi, kondisi geografis dan keterbatasan akses membuat pilihan masyarakat menjadi jauh lebih terbatas.
Ketika BBM tidak tersedia atau sulit diperoleh, dampaknya bukan hanya pada kendaraan. Nelayan bisa kesulitan melaut, petani terkendala menjalankan mesin, sementara aktivitas transportasi dan perdagangan masyarakat ikut terdampak.
Karena itu, masyarakat berharap persoalan BBM di Laonti tidak hanya dilihat dari sisi penerapan sistem dan aturan distribusi, tetapi juga mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.
Kecamatan Laonti selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah di Konawe Selatan yang memiliki tantangan aksesibilitas.
Pembangunan jalan darat memang mulai membuka konektivitas Laonti dengan wilayah lain. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap transportasi laut.
Dalam sejumlah kebutuhan, masyarakat masih menggunakan jalur laut untuk menuju Kota Kendari maupun wilayah lainnya.
Kondisi geografis tersebut membuat ketersediaan BBM menjadi kebutuhan yang sangat vital.
Saat pasokan bahan bakar tersendat, yang ikut tersendat bukan hanya kendaraan, tetapi juga aktivitas ekonomi masyarakat.
Nelayan yang tidak memiliki bensin atau solar tidak bisa begitu saja mengganti sumber penghasilannya. Laut menjadi salah satu tumpuan utama kehidupan mereka.
Hal serupa dialami petani yang menggunakan mesin untuk mendukung pekerjaan. Ketika bahan bakar tidak tersedia, pekerjaan dapat tertunda dan pendapatan keluarga ikut terancam.
Yupa berharap pemerintah daerah tidak menunggu persoalan tersebut berkembang menjadi beban yang lebih besar bagi masyarakat.
Menurutnya, perlu ada komunikasi lintas pihak antara pemerintah daerah, Pertamina dan pemangku kepentingan terkait untuk merumuskan pola distribusi BBM yang sesuai dengan karakteristik wilayah Laonti.
“Masyarakat Laonti tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin mendapatkan akses terhadap kebutuhan yang sangat penting untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarganya,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah menghadirkan kebijakan yang mempertimbangkan perbedaan kondisi setiap wilayah, terutama daerah yang masih memiliki keterbatasan akses seperti Laonti.
Sulitnya memperoleh BBM dikhawatirkan semakin mempersempit ruang gerak masyarakat Laonti yang selama ini telah menghadapi berbagai persoalan, mulai dari jarak, transportasi, infrastruktur hingga keterbatasan akses menuju pusat pemerintahan dan pusat ekonomi.
Kini, ketika kebutuhan utama nelayan dan petani juga sulit diperoleh, beban masyarakat semakin bertambah.
Harapan warga sebenarnya sederhana: mendapatkan BBM dengan mudah, aman dan sesuai aturan tanpa harus mengeluarkan biaya serta menempuh perjalanan yang terlalu membebani.
Bagi masyarakat Laonti, satu liter bensin atau solar bukan sekadar bahan bakar.
Di dalamnya ada harapan nelayan untuk melaut dan membawa pulang hasil tangkapan. Ada perjuangan petani menghidupi keluarga. Ada kebutuhan anak-anak yang harus dipenuhi dan dapur rumah tangga yang harus tetap mengepul.
Karena itu, persoalan BBM di Laonti diharapkan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bukan hanya melalui imbauan, tetapi melalui solusi konkret yang benar-benar menyesuaikan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.
Ketika akses jalan darat perlahan mulai terbuka, masyarakat berharap akses terhadap kebutuhan dasar lainnya juga ikut mendapatkan perhatian.
Jangan sampai masyarakat yang telah lama berjuang keluar dari keterisolasian justru kembali menghadapi hambatan baru berupa sulitnya mendapatkan BBM.
Kini, warga Laonti menunggu kehadiran pemerintah untuk duduk bersama Pertamina dan pihak terkait guna mencari solusi agar kebutuhan BBM nelayan, petani dan masyarakat dapat terpenuhi secara layak, teratur dan sesuai ketentuan. (D).











