TOPIKterkini.com – BOMBANA | Forum Pemuda Pemudi Bombana (FPPB) menyoroti kondisi sejumlah lahan persawahan di Desa Tongkoseng, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mulai mengalami kekeringan akibat kemarau berkepanjangan. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan air irigasi berkurang dan berpotensi mengganggu produktivitas pertanian masyarakat.
Dari hasil pemantauan di lapangan, sejumlah area persawahan mengalami kekurangan air. Bahkan, tanah di beberapa titik mulai mengering dan menunjukkan retakan akibat minimnya ketersediaan air. Situasi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman hingga hasil panen petani.
Ketua FPPB, Andi Zulkifli, mengatakan pihaknya telah turun langsung meninjau kondisi persawahan serta berdialog dengan para petani untuk mengetahui persoalan yang mereka hadapi.
“Kami sudah turun langsung melihat kondisi persawahan dan berdialog dengan para petani. Kami melihat beberapa lahan mulai mengalami kekeringan, bahkan tanah sudah mulai retak. Karena itu, kami berharap pemerintah segera hadir melihat kondisi ini secara langsung dan mencari solusi yang dapat membantu para petani,” ujarnya. (7/10/2026).
Menurut Andi, persoalan ketersediaan air di wilayah pertanian membutuhkan perhatian serius agar dampaknya tidak semakin meluas. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bombana, khususnya Bupati Bombana, dapat mengoptimalkan perangkat atau tim terkait yang telah ada untuk melakukan pemantauan dan penanganan di lokasi terdampak.
“Kalau sudah ada tim atau perangkat yang menangani persoalan seperti ini, kami berharap dapat segera diaktifkan dan turun ke lapangan. Yang paling penting adalah bagaimana kondisi petani bisa segera ditangani dan ada solusi terhadap keterbatasan air di persawahan,” ungkapnya.
Selain itu, FPPB juga mendorong Pemkab Bombana untuk memperkuat koordinasi dengan berbagai stakeholder dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), termasuk instansi teknis yang membidangi pertanian, irigasi, dan sumber daya air.
Menurutnya, koordinasi lintas sektor diperlukan untuk memetakan persoalan secara menyeluruh sekaligus menentukan langkah penanganan yang paling memungkinkan dilakukan sesuai kondisi di lapangan.
Andi menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud menyalahkan pemerintah, melainkan mendorong adanya perhatian dan respons cepat terhadap persoalan yang dihadapi para petani.
“Kami tidak sedang mencari siapa yang harus disalahkan. Kami hanya ingin pemerintah hadir bersama-sama mencari solusi. Petani membutuhkan perhatian, terutama ketika mereka menghadapi persoalan air yang dapat berdampak pada hasil pertanian mereka,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret sebelum kondisi kekeringan semakin parah dan berdampak lebih luas terhadap sektor pertanian.
“Ini sejalan dengan pentingnya menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Karena itu, ketika petani menghadapi persoalan seperti kekeringan, pemerintah harus hadir dan memastikan ada langkah penanganan yang nyata,” tutupnya. (D).











