JaDI Kota Baubau Dukung Pengusulan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi Sebagai Pahlawan Nasional

oleh -

TOPIKterkini.com, BAUBAU – Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Kota Baubau, yang merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan (Ormas) mendukung dan turut menggaungkan pengusulan nama Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi sebagai salah satu Pahlawan Nasional di Indonesia.

Dikutip dari tulisan berjudul ‘Jejak Pahlawan di Bumi Negeri Khalifatul Khamis’ karya La Ode Abdul Munafi (Pemerhati Sejarah dan Kebudayaan), mengisahkan bahwa Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi merupakan Sultan ke-20 dan ke-23 yang pernah memimpin Kesultanan Buton pada masa lalu. Oleh masyarakat Buton saat itu, sang Sultan dijuluki Oputa Yi Koo (Sebutan dalam bahasa Wolio, red) yang mengandung arti Sultan di Hutan.

Julukan Oputa Yi Koo (Sultan di Hutan) disandangnya lantaran sang Sultan seringkali berada di hutan bersama pasukannya, sambil melancarkan strategi perang gerilya untuk melakukan perlawanan terhadap campur tangan bangsa Belanda terhadap pemerintahan Kesultanan Buton pada masa itu.

Oputa Yi Koo adalah aktor/pelaku sejarah yang menjadi orientasi/panutan masyarakat Buton, karena nilai-nilai perjuangannya dapat memberi inspirasi dan teladan bagi masyarakat dan bangsa. Ia termasuk salah satu faktor penggerak utama sejarah khususnya di wilayah eks Kesultanan Buton hingga saat ini. Kemudian dalam dimensi inilah, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi tetap memperoleh tempat dalam ruang kognisi (Ingatan kolektif) rakyat Buton.

Kegigihannya melawan VOC/Belanda di Buton bukan saja masih diingat, tetapi tertanam dan terus hidup dalam sanubari rakyat. Nama besarnya yang dimonumentalkan menjadi nama beberapa sarana publik merupakan refleksi penghormatan akan jasa besar yang pernah diukirnya kurang lebih pada tiga abad silam di Negeri Khalifatul Khamis (Julukan negeri Buton sejak zaman Kepemimpinan Sultan Murhum alias Lakilaponto, yang dikandung maksud Khalifah ke-5 paska Khulafaurasyidin). Istilah Khalifatul Khamis sendiri merupakan sebutan yang punya kaitan erat dengan kedatangan Syekh Abdul Wahid asal Arab yang diutus Khalifah pada masa Utsmaniyah untuk melakukan syiar Islam dengan mulai mengislamkan Raja Buton yang saat itu dijabat oleh Lakilaponto (Nama lain Sultan Murhum, red).

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi yang memiliki nama kecil La Karambau adalah putra Sultan Buton ke-13, Liyauddin Ismail Muhammad Saidi. Himayatuddin naik tahta pada tahun 1750 sebagai Sultan Buton ke-20 menggantikan Sultan Saqiuddin Darul Alam (LaNgkariyriy/Oputa Sangia). Sebelum diangkat menjadi Sultan, Oputa Yi Koo menjabat Kapitalau Matanaeo (Panglima Kawasan Timur) yang selama penugasannya berhasil mengkoordinasikan pembangunan benteng-benteng pertahanan dihampir seluruh wilayah Kesultanan Buton.

Dari 37 orang Sultan Buton yang memerintah selama 38 masa pemerintahan yang berlangsung sekitar kurang lebih empat abad (1541-1960), Himayatuddin lah satu-satunya Sultan yang menjabat dua kali. Pada tahun 1750-1752 Himayatuddin menjabat sebagai Sultan Buton ke-20, selanjutnya pada tahun 1760-1763 ia dinobatkan kembali sebagai Sultan ke-23. Dalam dua masa pemerintahannya, bahkan setelah Himayatuddin tidak lagi menjabat Sultan hingga wafatnya, ciri yang cukup menonjol adalah rentetan konflik dan perang yang selalu dikobarkannya melawan VOC/Belanda di tanah Buton.

‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya’, itulah penggalan pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pada peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 1961 lalu. Sudah saatnya bangsa ini mengingat, menghargai, serta belajar dari para tokoh bangsa dimasa lalu untuk membangun karakter generasi muda Indonesia yang lebih baik.

Pidato Founding Father Indonesia (Ir. Soekarno, red) tersebut menjadi salah satu dasar dan rujukan, sehingga masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengusulkan nama salah satu putera terbaiknya, yakni SULTAN HIMAYATUDDIN MUHAMMAD SAIDI (OPUTA YI KOO) guna ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Untuk itu, Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Kota Baubau selaku salah satu organisasi sosial kemasyarakatan yang memberikan perhatian dalam kehidupan berdemokrasi termasuk kehidupan politik, pemerintahan dan pembangunan, turut mengsupport langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, yang kini tengah berupaya agar adanya Pahlawan Nasional dari Provinsi Sulawesi Tenggara.

Presidium JaDI Kota Baubau, Dian Anggraini yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Baubau selama dua periode (2010 – 2018) membenarkan bahwa, Provinsi Sulawesi Tenggara di usianya yang ke-55 tahun sejak terbentuk pada 27 April 1964, hingga kini belum memiliki seorangpun Pahlawan Nasional. Padahal melalui catatan sejarah di negeri ini, ada salah seorang pemimpin negeri yakni SULTAN HIMAYATUDDIN MUHAMMAD SAIDI yang tanpa kompromi menolak kerjasama dengan bangsa Belanda pada masa itu.

“Kamipun sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara, Ali Mazi yang telah berupaya maksimal agar SULTAN HIMAYATUDDIN (OPUTA YI KOO) diusulkan kepada Presiden Republik Indonesia untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dari Provinsi Sulawesi Tenggara,” kata Dian Anggraini dalam press release yang disampaikan kepada TOPIKterkini.com, Senin (27/05/2019)

Dian juga berharap, upaya pemerintah Provinsi dan masyarakat Sultra dalam mengusulkan nama Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi dapat didengar dan direalisasikan oleh pihak pemerintah pusat.

“Semoga, upaya bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang didukung oleh masyarakat dapat membuahkan hasil yang terbaik, sekaligus menjadi kado istimewa bagi rakyat Sulawesi Tenggara pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019 nanti dengan ditetapkannya SULTAN HIMAYATUDDIN (OPUTA YI KOO) sebagai Pahlawan Nasional,” harapnya.

Laporan Jurnalis Sultra: Anton
Publisher: Darman

Loading...