oleh

IN MEMORIUM – Syaifuddin Bahrum

Rachim Kallo

Ketua Teater Tiga Ke 5 (periode 1984 – 1985), jurnalis, penulis.

TEATER TIGA DI MASA ORIENTASI SISWA.

Pada tahun 1982 di SMAN 3 Makassar aktiv melakukan Masa Orientasi Siswa. Salah satu kegiatan yang wajib diikuti siswa baru. Smaga ketika itu memiliki organisasi ekstra kurikuker ada 11, satu diantaranya Teater Tiga.

Kak Udin nama sapaan akrab Shaifuddin Bahrum Ketua Teater Tiga ke 3 saat itu, memberikan sosialisasi apa dan bagaimana Teater Tiga Makassar di kelas 1-6.

Usai masa orientasi sekolah, saya konsen belajar. Tak disangka, salah seorang senior yang seangkatan Kak udhin menemui saya usai pulang sekolah. Namanya Agus Dwikarna, kebetulan sorenya ada latihan teater tiga di aula sekolah. Berdasar rekomendasi Kak Agus akhirnya saya coba ikut di teater tiga.

Almarhum menggembleng kami di Teater Tiga, ketika itu naskahnya di terima di TVRI Sulawesi Selatan. Karena untuk segmen Drama Remaja, maka kami dilibatkan dan jujur saya akui, itulah pertamakali tampil di depan layar kaca berakting bersama teman-teman.

Hal lain, bagi saya Kak Udhin itu orang bijak. Seingat saya, sewaktu meminta izin untuk bergabung ke Sanggar Merah Putih Makassar dalam persiapan Naskah Perguruan Karya Wisran Hadi dan Sutradara Yudhistira Sukatanya, beliau lapangdada mengizinkan. Padahal ketika itu saya masih aktif di organisasi yang almarhum pimpin. Berkat Almarhum, saya jadi kenal dunia perteateran dan menjadikan teater tempat saya berinteraksi lebih luas.

Selamat jalan kak udhin, pertemuan kita di malam pemutaran perdana Film Atiraja di Studio XXI Mall Panakukang adalah pertemuan terakhir, pun bersama kawan-kawan dari Lapakss bercengkerama di JCO usai menyaksikan karyamu.

Semoga engkau khusnul khotimah, Alfatihah, Amin YRA.

Dari adikmu,

Rachim Kallo (Raka)

Ancu amar
*Prolog*
sejumlah judul essai yg sudah saya tulis. Jumlah essai tentang tubuh dan kehancurannya. Sebagian mungkin bisa saya tulis menjadi artikel2 pendek, sebagian mungkin bisa saya rekam melalui clip2/video pendek, atau mungkin ungkapan rasa sakit melalui suara2 dan gambar. Tolong bantu saya untuk mewujudkan, utk merekam dan audio visualnya…. Udin Bahrum)

*Epilog*
Sekian hari kita begitu kehilangan, itu pasti!
Sama dengan keniscayaan akan kematian.
aku mengudak-udak sesuatu yang emosional tentang Kau dan aku,
nyaris tak ada!
Itu kenapa tidak ada hal yang bisa kutuliskan beberapa hari setelah kau kembali.
Bagiku bukan kisah-kisah, kenangan, atau kehilangan yang membuatku entah beberapa hari terakhir. Melainkan memulai segalanya dari “awal”. Awal untuk tahu kita tidak lagi bisa bersama, awal untuk tidak lagi bisa “bertengkar” untuk sekian mimpi-mimpi kita.

(Ada angka-angka yg muncul dari sekian alat yg melilit tubuhmu. Aku cemas entah kenapa!
Dasar orang yg penuh kelakar;
“Bagaimana kalau angka-angka itu tidak lagi ada? Tidak muncul?
“Kau menjadi tak terhingga…”
Lirihku)

Kau Selalu muncul tiba-tiba!
Mengabarkan kebahagiaan
Kebanggaan akan istri dan anak-anakmu,
Sekian ide,
Segenap kegelisahan,
Melanggar disiplin kesehatan lewat makanan-makanan enak,
Sakitmu,
Keluhmu,
Kerinduanmu,
Tertatihmu melawan,
dirimu yang kembali!

(Ketika senja itu datang,
ia sudah lahir kembali,
ia telah datang hari ini
segera pulang hari ini.
Yang lahir hari ini,
hancur sudah hari ini.
Dan janganlah kau datang,
ingat hari ini kembali lagi.
Menangkap senja yang turun hari ini
begitu berat.
Namun begitu,
sudah ada yang selalu menantikan dipenghujung setiap senja.
Namun dia tidak datang
kecuali hari ini
Ayo datang datanglah yang kunanti,
senja hari yang terakhir)

Senja merambat,
aku yang tertambat
pada waktu melambat.
Di depan bujur tubuhmu,
jalan hidup kita tak sepakat.
Ada yang lepas dari tubuhmu dan kembali ke pangkuanNYA.
Sampai bertemu kak Shaifuddin Bahrum (tentu saja)
Beberapa Hari ke depan, aku akan repot untuk segala yang awal tentang kita.

(Ini malam yang kesekian,
dengan segenap rindu
yang tertunda,
aduku malam itu,
kau kembali menohokku;
Tuntaskan satu tanya,
sambil kau sembunyikan jawab.
Maka rindu akan terbang
datang padamu….)

Sapa kita di Januari

Merangkum: Andi Agung Iskandar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed