oleh

Perokok Paling Rentan Dengan Resiko Jantung Koroner

Bantaeng-TOPIKterkini.com- Penyakit jantung dan pembuluh darah yang menjadi penyebab kematian peringkat pertama di Indonesia, hal ini disampaikan dr. Almudai, didepan jajaran Polres Bantaeng peserta sosialisasi pengenalan dan pencegahan Penyakit jantung koroner yang digelar di Aula Endra Dharmalaksana Mapolres Bantaeng, Kamis 27/2/2020.

Pada kesempatan itu dr. Almudai yang tampil sebagai pembawa materi mengatakan bahwa Penyakit jantung koroner atau biasa disingkat PJK merupakan kondisi ketika pembuluh darah jantung (arteri koroner) tersumbat oleh timbunan lemak. Bila lemak makin menumpuk, maka arteri akan makin menyempit, dan membuat aliran darah ke jantung berkurang.

Peserta melakukan simulasi pertolongan pertama kepada penderita serangan jantung yang dipandu langsung dr. Almudai, Sp. Pd., Sp. JP.

 

Lebih jauh dikatakan dokter ahli penyakit jantung RSUD Prof Anwar Makkatutu Bantaeng ini memperkenalkan Penyakit kardiovaskuler yaitu penyakit non-menular yang meliputi penyakit jantung dan pembuluh darah yang menjadi penyebab kematian peringkat pertama di Indonesia, paparnya.

Dokter Ai’ sapaan akrab Almudai juga ahli penyakit dalam, juga membeberkan bagaimana mencegah penyakit yang mematikan itu.

Pencegahan penyakit kardiovaskuler: Pengecekan kesehatan secara berkala, berhenti merokok, Diet yang sehat dan seimbang, Aktivitas fisik, Istirahat yang cukup Tidak mengkonsumsi alkohol, Kelola stres, dan Memperhatikan pola makan, papar dr. Ai’.

Lebih jauh dikatakan Dokter Ai’ Faktor resiko penyakit jantung rentan bagi pria yang telah berusia lebih dari 40 tahun, Perempuan lebih 50 tahun, Perokok, Diabetes, Hipertensi, Kolesterol tinggi, Kurang olahraga dan juga Genetik / keturunan.

Dibagian akhir pemaparannya dr. Almudai mensosialisakan Tahapan pertolongan jika diantara peserta menghadapi korban dengan tahapan : 1. Memastikan lingkungan sekitar penderita aman untuk dilakukan pertolongan, dilanjutkan dengan memeriksa kemampuan respons penderita, sambil meminta pertolongan sistem gawat darurat. 2. Selalu melakukan pemeriksaan sebelum melakukan tindakan.
3. Pengecekan pernafasan dan denyut nadi
4. Kompresi dada dengan frekuensi 100 x /menit atau 30 : 2 dan memberikan bantuan pernafasan mouth to mouth.

Usai menyampaikan materinya dr. Ai’ mengajak peserta melakukan simulasi penanganan Korban Serangan Jantung. Adapun langkah – langkah yang dilakukan jika menemukan korban serangan jantung yaitu :
1. Cek respon
2. Menghubungi Dinas Kesehatan / Tim Respon cepat kesehatan / Puskesmas
3. Periksa nadi
4. Lakukan pijatan sebanyak KL 30 pijatan pada dada korban di posisi tengah ( ulu hati ) sembari melihat respon Pasien. Maksimal waktu 30 menit atau sampai Tim kesehatan tiba.

Kapolres Bantaeng AKBP Wawan Sumantri, ditempat yang sama mengakui kegiatan ini sangat penting terutama kepada jajaran Polres.

“Pengenalan penyakit jantung ini bukan hanya berguna untuk diri sendiri, sebagai aparat Kepolisian yang berinteraksi dengan masyarakat, kita dapat mengetahui bagaimana tindakan pertama terhadap masyarakat atau rekan yang terkena serangan jantung, pungkas Wawan. (Ar)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed