oleh

Babak Baru Penanganan Pasien Covid-19 Pasca Karantina di Kabupaten Jeneponto

Babak Baru Penanganan Pasien Covid-19 Pasca Karantina di Kabupaten Jeneponto. 
Oleh: Haerullah Lodji

Alhamdulillah saya telah menyelesaikan isolasi mandiri di fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Saya salah seorang diantara ribuan peserta yang sudah dinyatakan sehat dan sudah bisa kembali beraktifitas di masyarakat, Sebagai bekal bersosialisasi saya dibekali surat keterangan sehat dengan ditanda tangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Hari itu saya tidak sendiri yang dinyatakan sehat, ada empat orang bersama dengan saya yang kebetulan keempatnya adalah Nakes yang bersamaan dengan saya berangkat menjalani isolasi mandiri.

Setelah dinyatakan sehat, kami dikukuhkan sebagai Duta COVID-19 Sulsel. Program ini juga disebut sebagai wisata covid-19, sebuah inovasi program Gubernur Sul-Sel Nurdin Abdullah dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Semua pasien yang telah menyelesaikan program wisata Covid-19 diserahi tanggung jawab memberikan edukasi pencegahan kepada masyarakat. Ini memang bukan tugas yang mudah tetapi bagi seorang yang pernah terpapar virus tersebut, akan mungkin lebih mudah untuk menyampaikan edukasi sebab kita merasakan langsung baik itu secara psikologis ataupun secara klinis.

Tentu tanggung jawab seperti itu diberikan kepada kami bukanlah tanpa bekal, oleh pelaksana wisata Covid kami diberikan beberapa materi selama masa karantina, salah satu diantara meteri tersebut adalah tentang pencegahan stigma dan diskriminasi bagi mereka korban Covid-19.

Kami merasa bahwa tugas sebagai duta Covid-19 di Jeneponto tentu sangat mulia sekalipun tidak mudah, berbeda saat sebelum kami terdampak Covid-19, saya sebagai salah seorang relawan OMS (Organisasi Masyarakat Sipil) Lawan Covid-19 Kab. Jeneponto merasa cukup mudah dan tidak ada beban saat memberikan edukasi terkait pencegahan Covid-29 kepada masyarakat, demikian pula dengan teman-teman Nakes sangat Enjoi saat memberikan pelayanan kepada masyarakat dimasa pandemi ini.

Tapi dengan status pernah Covid-19 rasanya akan berbeda, kami seperti terbebani bahkan saat ini kami masih di rumah pasca menjalani isolasi mandiri,curhat salah seorang Nake di salah satu layanan kesehatan yang juga menjalani wisata Covid.

Selain karena berstatus pernah Covid-19, kami juga merasa tidak percaya diri kembali bekerja melayani masyarakat di Puskesmas. Mengapa seperti itu?. Hal ini karena pernyataan sehat kami bersamaan dengan berlakunya protokol baru Kemenkes RI tentang perlakuan peserta yang dinyatakan sehat, yang sudah tidak ada lagi PCR bagi peserta/pasien yang sudah dinyatakan sehat.

Berikut penjelasan,
Kepmenkes tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 yang baru (Revisi ke-5),
tanggal 13 Juli 2020.

========================
Dalam kepmenkes ini,
1. Istilah PDP diganti dengan Suspek. Tidak ada lagi istilah ODP.
2. Kasus konfirmasi dibagi menjadi 2 :
a. kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik)
b. kasus konfirmasi tanpa gejala (asimtomatik), dulu disebut OTG.
Dinyatakan Sembuh:

  1. Pasien konfirmasi COVID-19 tanpa gejala/ asimtomatik dinyatakan sembuh tanpa memerlukan pemeriksaan RT- PCR, tetapi cukup dengan menjalani isolasi selama 10 hari sejak dinyatakan konfirmasi melalui pemeriksaan RT-PCR.
  2. Pasien Konfirmasi COVID-19 dengan gejala (simtomatik) ringan dan sedang, dinyatakan sembuh tanpa memerlukan pemeriksaan RT- PCR, tetapi cukup dengan menjalani isolasi selama 10 hari sejak tanggal onset dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.
  3. Pasien Konfirmasi COVID-19 dengan gejala (simtomatik) berat dan kritis, dinyatakan sembuh setelah mendapatkan hasil pemeriksan follow up RT-PCR 1 kali negatif ditambah minimal 3 hari tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

Berdasarkan Permenkes diatas kami tdk lagi PCR/SWAB setelah menjalani karantina dan dinyatakan sehat.

Penanganan pasien pasca perawatan yang tanpa PCR/SWAB, bagi kami tentu tidak menjadi soal, karena secara fisik kami sudah merasa sehat, bugar, tidak ada gejala lagi tapi bagi sebagian keluarga, teman, kerabat, tetangga atau untuk kawan-kawan Nakes yang pernah terpapar mereka cukup sulit menjelaskan pada teman sejawat dan masyarakat mengenai situasi sulit ini agar masyarakat menerima kondisi ini,, sebagaimana yang dialami beberapa teman Nakes.

“Saya sampe hari ini belum berani ke Puskemas, teman sejawat masih belum menerima jika saya belum uji spesiment/Swab,” kata Nakes di salah satu PKM yang juga Korbid di PKM tersebut.

Lain lagi yang dialami salah seorang Pegawai dinas kesehatan katakanlah ibu S ,, karena saudaranya katakanlah Ibu C terkonfirmasi positif yang juga seorang tim TGC, dia malah dijauhi tetangga dan diminta untuk tidak datang sholat berjamaah, padahal Ibu S dinyatakan negatif setelah Swab.

“Saya sedih dengar info dari keluarga, saat mau belanja sesuatu di warung, yang punya warung ketakutan dan minta untuk tidak belanja diwarungnya, ibadah di mesjid, jamah lain tidak mau berdekatan”, begitu Ibu S menuturkan pengalamannya.

Lain lagi dengan pengalaman Ibu Y saat perawatan setelah dinyatakan positif Covid-19, orang tuanya tidak dibolehkan berjulan di pasar, saudaranya diminta untuk tutup warung tidak usah jual.

Mungkin ini bisa dipahami bahwa mereka menstigma dan melakukan diskriminasi adalah orang yang tidak cukup pengetahuan terkait Covid-19, olehnya itu sebaiknya semua pihak harus segera mengambil langkah konkrit untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan akses dari Covid-19 ini, langkah pertama tentu saja bagi mereka yang sudah dinyatakan sehat dari Covid-19, harus mampu lebih bersabar jangan keburu marah dan menyalahkan mereka yang melakukan stigma, dukungan keluarga amat penting, menurut salah seorang dokter di Surabaya yang pernah terpapar Covid-19, kunjungan keluarga amat berarti, kiriman lemon sebagai bentuk dukungan sangat baik untuk meningkatkan imun.

Saya mengalami sendiri, pesan singkat yang memberi semangat tetap sehat, itu benar-benar menjadi mantera penyembuh, relawan juga memiliki peran penting dalam mengedukasi warga atau komunitas, sebagaimana yang dilakukan pegiat PATTIRO JEKA bekerjasama FORUM ANAK TUTATEA menggelar diskusi panel untuk mengedukasi warga dan komunitas dalam rangka Hari Anak Nasional 2020 yang mengangkat tema “Menyikapi Stigma dan Diskriminasi pada Anak Akibat Covid19”, dan tentu saja harapan besar kita ada pemerintah sebagai pemegang kendali, regulasi, anggaran dan sumber daya manusia setiap saat bisa digerakkan

Mencegah dan menghentikan stigma di sekitar kita dapat dengan mudah kita lakukan bila semua pihak bersatu padu dalam berkomitmen untuk tidak menyebarkan prasangka dan kebencian pada kelompok tertentu yang terkait dengan Covid-19. Kita semua, keluarga, relawan, pemerintah dapat ikut berpartisipasi aktif untuk meminimalisir stigma negatif tersebut demi upaya bersama menanggulangi pandemi ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed