oleh

Diberhentikan Dengan Hormat, Pegawai KPK Tak Dapat Pesangon dan Uang Pensiun

TOPIKTERKINI.COM – JAKARTA | Sebanyak 56 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan diberhentikan dengan hormat per 30 September 2021.mereka diberhentikan setelah dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam tes wawasan kebangsaan ( TWK). sebagai bagian alih status pegawai menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Seperti yang di kutip dari fakta.news.com, bahwa pelaksana tugas juru bicara KPK,Ali Fikri mengatakan KPK tidak akan memberikan uang pesangon dan uang pensiun kepada 56 pegawai ini. kendati demikian mereka tetap menerima Tunjangan Hari Tua (THT).

“Pegawai KPK yang berhenti dengan hormat memang tidak mendapatkan pesangon dan uang pensiun, namun KPK memberikan tunjangan hari tua sebagai manfaat pensiun” ujar Ali, melalui keterangan tertulis,selasa (21/92021).

Ali menambahkan,THT merupakan dana tunai yang diberikan oleh KPK kepada penasihat dan pegawai sebagai jaminan kesejahteraan pada saat berakhirnya masa tugas (purna tugas).

“Serta segala manfaat atau fasilitas lain yang menjadi bagian dari benefit kepesertaan program THT yang besarannya yang ditetapkan oleh KPK dan pengelolaannya dilakukan oleh BPJS ketenagakerjaan serta pihak ketiga yang ditunjuk,”jelasnya.

Ali menjelaskan, pelaksanaan THT tersebut telah diatur secara rinci melalui peraturan komisi Nomor 2 Tahun 2018 tentang Tunjangan Hari Tua Penasehat dan Pegawai serta keputusan Sekertaris Jenderal KPK nomor 390 Tahun 2018, tentang alokasi Iuran Tunjangan Hari Tua untuk Tim Penasehat dan Pegawai KPK

Adapun besaran iuranTHT tiap bulannya yang senilai 16 persen yang dihitung berdasarkan gaji, terdiri dari 13 persen bersal dari APBN dan 3 persen dari kontribusi pegawai.

Menurut Ali, iuran tersebut telah dikumpulkan sejak seseorang diangkat menjadi pegawai.”Pemenuhan hak keuangan ini sebagai bentuk kepatuhan terhadap perundang undangan sekaligus penghargaan atas profesionalitas, jasa dan pengabdian insan KPK selama melaksanakan tugas pemberantasan korupsi di KPK .”kata Ali.

Editor: Muhammad Nasir Ibrahim

Komentar

News Feed