oleh

RTG di Lombok Timur Diduga Sarang Pungli Oleh Oknum

Topikterkini.com.Lombok Timur—Pada tahun 2018 lalu, terjadi gempa dahsyat di Nusa Tenggara Barat dan titik pusatnya berada di Lombok.

Akibat gempa tersebut, mengakibatkan ratusan rumah rusak, mencapai 216.519 ribu unit dan menyebar di seluruh NTB.

“Jumlah itu terdiri dari 75.318 unit rumah rusak berat, 33.075 rusak sedang, dan 108.306 rumah rusak ringan,” Ucap, Pengacara Muda, Yuza, Kamis,21/10/2021.

“Sementara di Kabupaten Lombok Timur sendiri jumlah kerusakan rumah masyarakat akibat bencana gempa bumi sebanyak 27.619 unit,” Jelas, Yuza.

“Terdiri dari Rumah Rusak Berat berjumlah 10.266 unit, Rumah Rusak Sedang berjumlah 4.772 unit, dan Rumah Rusak Ringan berjumlah 12.581 unit,”Katanya.

“Untuk mengatasi persoalan tersebut, dua hari sebelum masa tanggap darurat berakhir, tepatnya pada 25 Agustus 2018 lalu, Presiden Jokowi memberikan perhatian khusus ke warga terdampak,” Ujarnya.

” Perhatian pemerintah tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2018 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana NTB,” Beberanya.

Yuza Juga mengatakan, Presiden Joko Widodo mengucurkan bantuan 50 juta rupiah bagi setiap rumah rusak berat; 25 juta rupiah untuk rumah rusak sedang; dan 10 juta rupiah bagi rumah rusak ringan.

Kucuran bantuan dana ini merupakan perintah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Bencana bahwa Pemerintah wajib membantu perbaikan rumah yang terdampak.

Masih kata Yuza,Sebagai bentuk realisasi Intruksi Presiden, Kementerian Keuangan sebagai Bendahara Negara mengalokasikan bantuan dana berdasarkan usulan dari pemerintah daerah setelah diverifikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebelum diteruskan ke rekening warga, warga yang berhak.

“Terlebih temuan di masyarakat menyebutkan ada praktek pungli dan berbagai persoalan didalamnya,” Tegasnya.

“Semrawut RTG di Lombok Timur Memasuki tahun ketiga penanganan RTG di Lombok Timur berbagai persoalan muncul, mulai dari praktek pungli, endapan dana RTG, mangkraknya pembangunan RTG akibat dibawa kabur oleh aplikator pelaksana. Saat ini saja penanganan RTG di Lombok Timur (Lotim) masih menyisakan 4.650 ,” Paparannya.

Rumah Tahan Gempa (RTG) yang belum selesai dikerjakan. Rinciannya, untuk rusak berat 578 unit, rusak sedang 639 unit, dan rusak ringan 3.433 unit. Tidak sampai disitu, praktek pungli bagi korban penerima bantuan RTG juga marak terjadi di berbagai wilayah terdampak, diantaranya di wilayah Sembalun, Sambelia, Pringgabaya, Pringgasela dan beberapa wilayah terdampak di Lombok.

Melihat pola yang di terapkan antara kecamatan yang satu dengan yang lain.

Praktiknya sama yaitu sama-sama melakukan pemotongan terhadap para korban. Sepertinya tindakan ini terencana, karena kejadiannya terstruktur, sistematis dan

” Lalu pertanyaanya adalah siapa pelaku pemotongan ini? Kemana aliran uang tersebut? Disamping itu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI juga pernah meminta Pemerintah Kabupaten Lombok Timur untuk mengembalikan Rp 2,7 miliar,” Tanya ,Yuza.

hasil pembayaran lebih bantuan Rumah Tahan Gempa (RTG) untuk pembayaran 104 unit rumah, namun uang tersebut enggan dikembalikan.

Sampai hari ini belum ada progres yang jelas, maka dari itu kami yg tergabung dalam aliansi masyarakat lotim menggugat akan segera menggelar aksi untuk mempertanyakan kejelasan kasus ini di depan kejaksaan tinggi di NTB

Penggelapan dana RTG ini adalah kejahatan yang luar biasa , karna uang yang di bawa kabur adalah uang untuk masyarakat yang tekena dampak gempa
Kita harus tetap suarakan dan kita tidak perlu maafkan kejahatan ini.

Ia menuntut untuk mengusut oknum oknum pejabat Lombok timur dalam kasus korupsi RTG, adili bupati Lombok timur sesuai UUD tindak pidana korupsi, KPK RI dan KEJATI NTB harus mengusut tuntas semua yang terlibat dalam kasus RTG.

Liputan: RL

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed