oleh

DI DUGA RUGIKAN RATUSAN PEDAGANG ONLINE HINGGA 60 M, WARGA BUKITTINGGI DI POLISIKAN

Topikterkini.com.Pekanbaru – Kamis (02/12/21) Lawyer Mirwansyah S.H., M.H., mendatangi Mapolda Riau untuk membuat laporan atas kasus yang menimpa klienya sebanyak 6 orang, di Gedung Sarana Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Jalan Patimura Pekanbaru.

Tutup tahun 2021 terjadinya kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan sesuai pasal 372 dan 378 KUHP memakan korban sebanyak 6 orang ini antara lain Yuliana, Ale Ardilla, Rahmi Pertiwi, Novi Delfita, Ermanelis, dan Fitria Darlis Semua korban berdomisili di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya.

Tak lama Setelah laporan diterima Mapolda Riau dengan nomor laporan ; LP/B//482/XI/2021/SPKT/POLDA RIAU Lawyer Mirwansyah S.H., M.H., melakukan Konferensi Pers langsung dihadapan para media yang sudah menunggu ingin meminta keterangan terkait kasus yang tengah menimpa klienya.

“Hari ini laporan kita sudah diterima oleh Polda Riau terkait dugaan investasi bodong terbesar, termasyhur di akhir tahun 2021 di Provinsi Riau”, ungkap Mirwansyah geram.

“Modus operandinya adalah menawarkan bisnis sosis dan klenzer. Jadi dia mencari donatur atau pemodal dan klien kita ini kurang lebih ada 6 orang, selain 6 orang ini masih ada 200 orang lagi yang juga menjadi korban investasi bodong ini, total kerugian klien kita hampir 60 M”, jelas pengacara muda berkacamata ini.

“Terakhir kita sudah menjumpai MA ini di Bukit Tinggi, ternyata dia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita terkait dengan kontrak, pengiriman produk sosis kenzler ini dari pabrik ke rute-rute yang sudah ditentukan dia berdasarkan Excel tersebut”, imbuhnya lagi.

Kelihatanya terlapor merupakan orang yang sudah ahli dibidang nya ini terlihat jelas dengan cara-caranya dalam menjalankan bisnis perdagangan tanpa berbadan hukum dan melebarkan sayap di dalam dan luar negri seperti keterangan kuasa hukum berikut ini bahwa “Modusnya jadi begini pola nya, ada pengiriman produk ini didalam dan luar negri, contoh ke Malaysia, itu modalnya Rp 1,3 juta per box selama 25 hari akan cair, keuntungannya hampir 45 persen”, terang Pengacara yang baru-baru ini memenangkan kasus di Pengadilan Negeri Pekanbaru.

Dengan masih banyaknya korban-korban diluaran sana yang telah dirugikan dan belum melaporkan kasusnya Pengacarcseklaigus kuasa hukum Mirwansyah S.H., M.H., berpesan kepada pihak penegak hukum bahwa “Harapan kita ini menjadi atensi bagi Bapak Kapolda Riau, Kapolri agar kemudian praktek investasi bodong ditindak dan dihukum seberat-beratnya”, ucapnya.

MA ini perseorangan bukan berbadan hukum. Jadi kita lampirkan 6 barang bukti, yaitu bukti rekening, bukti transfer, bukti percakapan WA juga ada cek kosong di kontrak bodong, dan lainnya sudah kita lampirkan.

Dalam kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan ini ada alat bukti yang diserahkan kuasa hukum antara lain bukti transfer bank, print out percakapan chat whatsapp, bukti Excel terkait permintaan barang, dan bukti kerjasama.

Sementara itu ditempat terpisah korban para pedagang online yang hadir mendampingi kuasa hukumnya menyampaikan kepada awak media bahwa mereka merasa tertipu atas bujuk rayu terhadap bisnis yang ditawarkan terlapor Mega Amelia.

“Mulanya bisnis ini berjalan lancar sejak kami gabung di bulan Maret lalu”, kata Ale yang sudah setor ratusan juta rupiah ke rekening terlapor.

“Hanya saja pada bulan Agustus -sekarang terjadi ketidakmampuan bayar atas keuntungan yang sudah dijanjikan oleh terlapor hingga mulailah timbul kecurigaan”, ungkap Ale.

Lain lagi tanggapan Erma pedagang online yang pertama sekali kenal dengan terlapor yang juga mengenalkan bisnis ini ke rekan-rekan sesama pedagang online mengatakan bahwa bisnis ini awalnya karena saling percaya dan hubungan pertemanan.

“Sebenarnya Saya yang pertama kali bertemu dengan Meganya, dia teman baik saya sejak 2018 dia suka beli dagangan buah saya hingga 80 juta nilai transaksi kami ini berjalan baik-baik saja, karna itu saya percaya aja pas ditawarin bisnis sosis dan klenjer sepertinya untungnya menggiurkan lah”, kata Erma panjang lebar.

Kisah korban lainya sebut saja Ana menyampaikan kepada awak media bahwa “Saya harap Mega mau mengembalikan uang teman-teman Saya sebanyak 800 juta rupiah yang telah disetorkan bukanya untung malah saya yang buntung, Saya ga tahan dengan ancaman-ancaman yang ditujukan ke Saya jika uang mereka tidak dapat dikembalikan”, kata Ana putus asa dan kelihatan tidak semangat sama sekali.

“Selama dua tahun belakangan Saya jadi penjual buah online banyak untung dan banyak relasi baru kali ini Saya rugi besar dan hidup tidak nyaman lagi”, keluh Ana gusar.

Pada minggu sebelumnya awak media beruntung bisa menemui terlapor Mega Amelia di Kota Bukittinggi, dan berhasil dimintai keterangannya.

Ketika bertemu langsung saja awak media mencecar Mega Amelia dengan berbagai macam pertanyaan.

Pertama sekali tentunya dipertanyakan keberadaan kantor dari usaha bisnis perdagangan sosis dan klejer yang menghebohkan serta meresahkan ini.

Terkait pertanyaan ini Mega Amelia tidak mampu memberikan jawaban tegas dan pasti bahwa “Usaha dagang jual-beli sosis dan klenjer ini tidak ada kantor pusatnya”, sampai Mega.

Awak media juga meminta terlapor Mega Amelia untuk menjelaskan bisnis apa sebenarnya yang sedang di kembangkan kepada teman atau kolega.

Dijelaskan oleh Mega Amelia bahwa “Ini semacam usaha dagang biasa yang barangnya adalah sosis dan klenjer dikembangkan berdasarkan kepercayaan, hubungan pertemanan dan bukan investasi”, jelasnya.

Ketika ditanyakan apakah puluhan milyar uang para korban dialirkan kemana? Mega Amelia berdalih bahwa “Benar uang itu ditransfer ke rekening Saya tapi saya kirim langsung ke orang diatas saya lagi (sari-red)”, jawabnya.

Ada yang ganjil disini Ketika ditemui di kantornya tempat terlapor bekerja menurut para korban terlapor pernah mengakui bahwa dia bekerja di perusahaan tempatnya bekerja saat ini sebagai Komisaris, namun pada saat awak media datangi dan bertanya kepada salah satu karyawan mengatakan bahwa terlapor hanyalah staf biasa.

Bisnis ini berawal dari perkenalan para korban dengan terlapor pada awal Februari silam yang menawarkan bisnis jual – beli sosis dan klenjer dengan sistem kepercayaan dengan berdalih ini bukan bisnis investasi.

Kemudian terlapor menawarkan keuntungan setiap 1 duz sosis dan klenjer dari total pengiriman Rp.1.350.000, – mendapatkan keuntungan Rp. 1 juta, karna keuntungan yang menggiurkan ini kemudian para korban tertarik untuk ikut membantu menalangi kekurangan dana yang harus ditanggung terlapor dengan mentransfer sejumlah uang sesuai permintaan yang dikirimkan dimana jelas disitu tertulis jumlah barang yang akan dikirim, rute pengiriman dan tentu tidak ketinggalan jumlah keuntungan yang didapat, permintaan ini berupa lembaran kerja spredsheets Excel.

Saat berita ini di turunkan keberadaan terlapor dikabarkan tidak jelas.

Laporan : teti guci

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed