oleh

Dampak Pandemi Covid 19 Terhadap Ekonomi Dan  Perspektif Neomarxisme

Dampak Pandemi Covid 19 Terhadap Ekonomi Dan  Perspektif Neomarxisme

Oleh: Fatahillah
(Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alauddin Makassar)

Tahun 2020 dunia dikejutkan dengan menyebar luasnya Covid-19. Virus yang penyebarannya begitu cepat ini membawa berbagai dampak bagi berbagai negara tak terkecuali Indonesia. Tak hanya membawa dampak bagi aspek kesehatan, Covid-19 turut memberikan dampak ekonomi maupun sosial bagi Indonesia maupun Global. Pada tahun 2020-2021, dana APBN Indonesia untuk prioritas penanganan kesehatan masyarakat sebesar Rp 169,7 triliun. Tak hanya itu, pada tahun 2020 selama 3 kuartal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia berada pada angka negatif. Badan Pusat statistik melaporkan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III-2020 minus 3,49 persen (dilansir dari kompas.com). Berbagai negara merespon dengan cepat dampak yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini, dengan mengeluarkan berbagai kebijakan-kebijakan untuk memutus mata rantai Covid-19.

Mulai dari kebijakan pembatasan sosial hingga stimulus bagi masyarakat yang terkena dampak Covid-19. Dampak besar yang telah ditimbulkan Covid-19 membuat berbagai negara gencar membuat produk biologi (Vaksin) yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh manusia agar terhindar dari Covid-19. Berbagai jenis vaksin telah diciptakan oleh berbagai negara, namun keberadaan vaksin sebagai produk biologi menjadi incaran banyak pihak terutama bagi negara maju. Akibatnya, akses terhadap vaksin tidak merata bagi seluruh masyarakat. Sejak pengembangan vaksin dilakukan, banyak negara-negara kaya yang telah memburunya (dilansir dari CNBC Indonesia). Negara yang memiliki sumber daya seperti modal, teknologi, dan manusia yang dapat meneliti vaksin dan menggunakan hasil produk vaksinnya untuk warga negaranya terlebih dahulu. Sementara itu negara yang tidak dapat memproduksi vaksin hanya dapat menunggu pasokan vaksin dari negara produsen yang mengarah pada ketimpangan pendistribusian vaksin. Kita bisa lihat bahwa israel sebagai salah satu negara produsen vaksin telah berhasil memvaksinasi 56,9 persen rakyatnya (Ourworldindata 2021)., sedangkan beberapa negara Benua afrika seperti chad belum mendapatkan satu pun vaksin (Larson 2021). Neomarxisme berasumsi bahwa negara akan mempertahankan struktur internasional yang eksploitatif. Dilihat dari keadaan tersebut maka negara produsen vaksin melakukan eksploitasi pendistribusian vaksin  terhadap negara dependen yang hanya mengharapkan pasokan vaksin.

Pandemi covid 19 bisa dikategorikan sebagai masalah karena berdampak diseluruh negara di dunia. Masalah global seharusnya diatasi secara bersama dengan melibatkan seluruh aktor yang ada dalamsistem internasional. Namun, kelas negara produsen dan pengembang vaksin memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat dominasinya. Negara produsen vaksin ingin memperkuat dominasinya dengan mematenkan vaksin yang mereka kembangkan. Hal tersebut terlihat dari usaha AS dan negara UE (Uni Eropa) untuk mematenkan vaksin yang dikembangkannya. Meskipun ada usaha dari AS untuk mencabut sementara paten vaksin, pemimpin negara UE banyak yang tidak setuju (Amaro 2021). Mereka menganggap bahwa usaha terbaik saat ini adalah meningkatkan ekspor vaksin dari negara pengembang dan produsen vaksin. Pencabutan paten vaksin akan mengurangi keuntungan penjualan vaksin dan mendorong negara produsen dan bahkan nonprodusen vaksin untuk memproduksi vaksin sendiri sehingga melepaskan ketergantungannya terhadap negara pengembang dan produsen vaksin. Hal ini sesuai dengan preposisi neomarxisme yang beranggapan bahwa kelas negara dominan akan selalu mempertahankan posisinya dengan mengorbankan negara lain.

Negara dominan pengembanag dan produsen vaksin akan terus memproduksi dan menjual vaksin kepada negara dependen nonprodusen vaksin untuk memperkuat ekonominya.  Negara dependen produsen dan nonprodusen vaksin juga tidak punya pilihan lain selain membeli vaksin yang diproduksi negara dominan pengembang dan produsen vaksin karena vaksin yang di produksi secara domestik tidak cukup. Tiongkok sebagai negara produsen vaksin terbesar dengan total produksi 141 juta vaksin tetap harus mengimpor 100 juta vaksin BioNTech yang berasal dari Jerman (McCarthy2021; Arbar 2020).  Negara dependen nonprodusen juga terpaksa menginpor vaksin dari negara dominan pengembang dan produsen vaksin. Ekuador mengalokasikan dana setidaknya 200 juta dolar untuk mengimpor 10 juta dosis vaksin dari 3 perusahaan farmasi  yaitu covaxx, Pfizer dan AstraZeneca(Reuters, 2021). Hal ini sesuai dengan proporsi teori sistem dunia yang mengatakan adanya pertukaran tidak seimbang (unequal exchange), yaitu transfer surplus secara sistematis dari sektor penghidupan (kesehatan) negara periphery dan semi periphery ke negara core yang memiliki tingkat teknologi dan industri yang maju (Wallerstein 1979 salam Burhanuddin 2015).

Namun, berbagai negara saat ini mulai berbenah dengan mulai beradaptasi kembali. Adanya pandemi membuat manusia semakin beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.