oleh

Minyak Goreng Dalam Kemasan Langka, Pedagang Dadakan Bermunculan

TOPIKterkini.com–Bantaeng: Kelangkaan minyak goreng di Bantaeng dimanfaatkan sebagian warga untuk meraup fulus, hal ini diungkapkan Kepala dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Diskumdag) Muh. Tafsir di Kantornya Jalan A. Mannappiang, Kamis 17/2/2022.

Kelangkaan Minyak goreng yang menjadi kebutuhan utama Ibu Rumah Tangga (IRT) membuat sebagian warga mengambil kesempatan mendapatkan minyak goreng sebanyak mungkin dengan berbagai cara, saat toko retail menjual minyak goreng kemasan dengan harga eceran tertinggi sesuai yang ditetapkan pemerintah.
“Akibat kelangkaan ini, banyak penjual minyak dadakan bermunculan”, kata Tafsir.

Kepala Bidang Perdagangan, Hj Masyita, mengatakan, pihaknya sudah dua kali melakukan peninjauan lapangan untuk mengecek langsung kondisi ketersediaan minyak.
Kata dia, pertama, tim perdagangan turun lapangan pada 20 Januari dan kedua, 9 Februari 2022. Dalam kunjungan ini, lanjut Masyitah, selain memantau toko-toko grosiran barang campuan dan toko retail.
Hasilnya, kata dia, minyak goreng yang dijual sesuai HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 14 ribu perliter, tidak tersedia. “Begitu minyak goreng yang dijual sesuai HET, langsung diserbu emak-emak. Artinya, tidak tersedia lagi untuk minyak goreng HET”, paparnya.

Selain obyek yang disebutkan diatas, tim perdagangan juga mendatangi penjual minyak goreng dadakan. Mereka ini, menjual dengan harga tinggi, melampaui harga yang ditetapkan pemerintah.
Menurut para pedagang dadakan ini – juga beberapa toko yang menjual di atas HET – mereka memperoleh minyak goreng dari luar kabupaten. Harga pembeliannya juga di atas HET.

“Mereka mengaku membeli dengan harga yang mahal. Jadi otomatis mereka menjual di atas harga pembeliannya”, jelasnya.

Masita juga mengatakan, penetapan pemerintah harga Rp 14 ribu perliter dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI nomor 6 tahun 2022 tentang harga eceran tertinggi minyak goreng sawit.

Terkait penjualan di atas HET, Masyitah mengaku, pihaknya dilematis untuk menindak pedagang. Karena mereka juga membeli dari suplayer dengan harga tinggi.
Padahal, lanjutnya, untuk pedagang yang terlanjur membeli dengan modal tinggi, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan membayar selisih harga sampai batas waktu 31 Januari 2022.

“Seharusnya mereka mengembalikan ke suplayer untuk memperoleh pembayaran selisih harga sebelum batas waktu yang ditetapkan pemerintah”, tandasnya.

Laporan : Armin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed