oleh

Kuasa Hukum Bambang Sutrisno Bantah Pernyataan La Ndoada Sebagai Pemilik Tanah

TOPIKterkini.com – JAKARTA | Klaim dan mengklaim lahan dengan luas 3,4 hektare yang terletak di Kelurahan Rahandauna, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Kuasa Hukum Bambang Sutrisno, Risman R. Siregar SH angkat bicara.

Risman membantah terkait pembicaraan La Ndoada di media sosial. Sebagai pihak pemilik lahan atau tanah, dan sebagai pengacara perlu menjelaskan terkait lahan yang di klaim La Ndoada tersebut.

Dijelaskannya, jadi awal permulaan tanah itu yang punya adalah bapak Haji Herosi menjual kepada PT Intisikta. Sedangkan PT Intisikta telah memiliki ijin Hak Pengelola Hutan (HPH) yang punya adalah bapak Hashim Djojohadikusumo adik kandung dari Bapak Prabowo Subianto.

“Hashim Djojohadikusumo adalah Direktur Utama dari PT. Intisixta, selanjutnya tanah/lahan itu telah beralih/dijual kepada Bapak Bambang Sutrisno selaku pembeli lahan dan telah bersertifikat HGB No. 903 dan 904,” tutur Risman, (4/8/2022).

Saat itu tanah milik klien kami Pak Bambang Sutrisno ini tidak bisa dijaga karena terkendala pandemi Covid-19. Pada saat pembelian/peralihan tanah tersebut keadaan masih lahan kosong hanya ditumbuhi ilalang.

Namun tiba-tiba di tahun 2021 ada yang namanya La Ndoada mengatakan dan mengaku itu adalah tanah miliknya dengan dasar Surat Keterangan Tanah (SKT) yg diduga Palsu menguasai lahan tersebut tanpa ijin dari Bapak Bambang Sutrisno, saat itu klien kami bingung semenjak kapan itu La Ndoada mengklaim lahan tersebut milik dia.

Dan pada bulan November 2021 saudara La Ndoada telah mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Kendari dengan register perkara No. 50/G/2021/PTUN yang telah bekekuatan hukum tetap (Inkracht van gewijsde) dalam isi putusannya menyatakan bahwa La ndaoda tidak memiliki Legal Standing (kedudukan hukum) untuk menggugat, sebab saudara La ndaoda tidak memiliki hubungan hukum dengan Objek lahan milik klin kami, dan yang lebih parahnya lagi kata Risman Saudara Landaoda mengajukan bukti Surat dalam persidangan di PTUN hanya menunjukkan Surat Keterangan Tanah (SKT) photo copy dari photo copy artinya surat SKT tersebut tidak jelas keasliannya dan diduga palsu.

Lanjutnya, dengan dasar Surat SKT yang diduga palsu tersebut, nah saudara La ndaoda menjual dengan cara mengkapling-kapling ke beberapa orang dengan harga Rp 80jt – 150jt per kavling, sepengetahuan klien kami saudara La Ndaoda telah menjual sebanyak 18 orang mungkin bisa lebih dan dijanjikan akan terbit sertipikat atas lahan tersebut.

Padahal menurut hukum Saudara La Ndoada tidak memiliki hak untuk menjual/mengalihkan atau melakukan perbuatan hukum lain atas lahan tetsebut tanpa ada se ijin dari Klien kami yaitu Pak Bambang Sutrisno.

Lebih anehnya lagi kata Risman, La Ndoada melakukan jumpa pers bahkan lahan seluas 3,4 hektare itu diduga di serobot oleh PT. Intisixta, makanya dia membuat statemen di media sosial, artinya bahwa La Ndoada itu terbeban karena menjual atau mengkapling-kaplingkan kepada beberapa orang dengan harga kisaran Rp. 80jt sampai Rp. 150 juta/perkapling.

Hal itu lantaran yang membeli lahan perkapling itu meminta surat sertifikat tanah yg tidak pernah ada wujudnya, kasihan Masyarakat jika dibohongi dengan cara seperti itu.

Kami selaku kuasa hukum Bambang Sutrisno tidak tinggal diam, pada tanggal 13 mei 2022 kita telah melaporkan Saudara La Ndaoda ke Polres Kendari dengan no. LP – B/542/V/2022/Sultra/Resta Kendari tentang penyerobotan tanah sebagaimana dimaksud dalam pasal 385 KHUP, dalam waktu dekat ini kami juga akan membuat laporan berlapis ke Polresta Kendari terkait pengerusakan papan plang nama dilokasi milik lahan milik klien kami.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah Mafia lahan itu sebenarnya siapa, maka untuk itu perlu kami luruskan biar tidak ada persepsi yang salah di masyarakat.

Laporan: Darman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.