Terkait Dugaan Korupsi Alkes Laboratorium Untad, Ini Penjelasan Kejati Sulteng

Topikterkini.com.Palu – Apa kabar penyidikan dugaan korupsi alat kesehatan laboratorium (Alkes Lab) universitas Tadulako (Untad) oleh Kejaksaan Tinggi sulawesi tengah (kejati-sulteng) ? Apakah masih berlanjut ataukah sudah dihentikan ?

Kasi penkum Kejati Sulteng Laode Sofyan, SH yang di konfirmasi deadline-news.com group detaknews.id, morowalipost.com dan deadlinews.co sesaat sebelum tersangka bawaslu SL di bawa ke mobil tahanan Kamis soret (6/6-2024) sekitar pukul 17:20 wita di kantornya mengatakan hasil ekspose perkara dugaan korupsi proyek pengadaan alat kesehatan laboratorium (Alkes Lab) universitas tadulako (untad) setelah melalui perhitungan kerugian negara ditemukan adanya kerugian negara miliyran rupiah.

“Hasil ekspose perkara dugaan korupsi alkes lab untud ada temuan kerugian negara,” Jelas Sofyan.

Sebelumnya telah diberitakan melalui keterangan pelaksana tugas Kasi penkum Abdul Haris Kiay Selasa 28 November 2023 lalu mengatakan pihaknya telah meminta keterangan sejumlah pihak yakni, AB merupakan Sekretaris Bagian Farmakologi, PS yang merupakan Sekretaris Bagian Patologi Anatomi, MS adalah Pimpinan Laboratorium Microbiologi, DP adalah Pimpinan Laboratorium Histologi, JF yang merupakan Sekretaris Bagian Farmakologi, S adalah Kepala Bagian Skill Lab dan Kepala Bagian Fisiologi.

Sedangkan, katanya, untuk penetapan tersangka masi tersus dilakukan pendalaman. Dan bahkan, kata dia, kemungkinan ada banyak tersangka dalam kasus ini.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya bahwa dugaan korupsi ini terjadi pada periode Prof M menjabat sebagai Rektor. Dimana saat itu ia selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) pada proyek yang kini sedikit lagi terkuak siapa saja dalang di balik dugaan korupsi yang telah merugikan negara hingga Rp.7 Miliar itu.

Sebagaimana diberitakan deadline-news.com Rabu, (2/8-2024) bahwa kuat dugaan semua jenis alat yang diadakan oleh pemenang tender CV. Satria Bayu Aji, Jakarta, telah terjadi penggelembungan harga dengan persentase kenaikan yang sangat fantastik.

Sebut saja sebagai contoh, kata sumber tersebut, alat AUTOCLAVE STD pada paket proyek harga dasar yang dimasukan adalah Rp.194.000.400,-.

Sementara saat dicek pada katalog dengan spesifikasi yang sama, harga dasar yang ditemukan hanya Rp75.000.000, sehingga pada alat itu telah dilakukan mark up sebesar Rp119.000.400, atau terjadi penggelembungan harga lebih dari 100%.

Demikian juga pada alat GET LOGIC READER, di mana pada paket proyek harga dasar yang dimasukan adalah Rp.417.754.750,- dan setelah ditambahkan Overhead 15% (Rp62.663.212,50), Ongkir 5% (Rp20.887.737,-), dan PPh 11% (Rp55.143.624,-) sehingga totalnya Rp. 556.449.327,00.

Sementara pada harga katalog dengan spesifikasi yang sama, ditemukan hanya Rp108.064.715,00, dan setelah ditambahkan Overhead 15% (Rp16.209.707,25), Ongkir 5% (Rp5.403.235,75), dan PPh 11% (Rp14.264.542,38) totalnya hanya Rp143.942.200,38. Dengan demikian, jika dilakukan pengurangan dari harga penawaran Rp556.449.327,- dikurangi harga katalog yang hanya Rp143.942.200,38, maka dugaan penggelembungannya mencapai Rp412.507.127,00. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *