Pelaku Bunuh Istri di Lotim Sesalkan Perbuatanya, Kini Terancam Hukuman Seumur Hidup!

TOPIKTERKINI.Com LOMBOK TIMUR— Polres Lombok Timur (Lotim) ungkap kasus Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang baru saat ini santer menghebohkan masyarakat dimana di ketahui kasus pembunuhan yang di lakukan oleh seorang suami yang tega menghabisi nyawa istrinya dengan cara yang tragis. Kapolres Lombok Timur membeberkan fakta baru dalam press release yang digelar Mapolres Lombok Timur 8/7/2024.

Dari keterangan polisi terdapat fakta baru yang terungkap dari kasus yang menimpa sepasang suami istri atas nama inisial pelaku MNA (30) dan istrinya yang menjadi korban, inisial LS(29).

Berdasarkan penyelidikan polisi berhasil mengungkap bahwa sebelum pelaku membunuh istrinya, Pelaku melakukan tindak kekerasan berupa penganiyaan hingga istrinya meregang nyawa.

Hal itu di buktikan dari jumlah luka yang diterima korban dari sabetan parang yang digunakan oleh pelaku.

Apalagi, sebelumnya, korban dan pelaku di gadang gadang sering cekcok, menguatkan adanya indikasi penganiayaan dilakukan.

Dalam press Release yang dipimpin Wakapolres Lombok Timur, meyampaikan atas Laporan Polisi Nomor: LP/B/63/VI/2024/SPKT/POLRES LOMBOK TIMUR/POLDA NUSA TENGGARA BARAT, Tertanggal 20 Juni 2024.

Kejadian tersebut dilaporkan SUHAELI, (52) yang merupakan ayah dari korban LS (30) seorang Pegawai Honorer yang beralamat di Karang Anyar RT/RW 004/-, Kelurahan Kembang Sari, Kecamatan Selong.

Disampaikan oleh Wakapolres  Polres Lombok Timur, Kompol Radit Suharta, Bahwa dari Kronologis Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Juncto Kejahatan Terhadap Nyawa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 Ayat (3) UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga) Juncto Pasal 340 KUHPidana Subsidier Pasal 338 KUHPidana yang terjadi pada Pada hari Kamis tanggal 20 Juni 2024 sekira Pukul 15.15 Wita. atas nama Korban LILIS SUKMAWATI Alias LILIS.

Berawal dari ibu korban bernama SURIAH menelpon SAPIRIN yang tidak lain adalah paman korban yang menanyakan keberadaan LS, namun di jawabnya tidak ada. Sapirin menuturkan sempat melihat korban LS pagi hari dirumahnya tapi sudah pulang.

Dikatakan paman korban, Tersangka sempat juga menjelaskan sekitar pukul 14.30 wita. Suami dari Korban yang tidak lain juga pelaku MNA sempat datang ke rumahnya untuk meminjam parang tanpa menjelaskan untuk digunakan apa parang tersebut kepada ibu korban.

Hingga sekira pukul 19.00 Wita SUHAILI (orang tua Korban) meminta SAPIRIN untuk mengecek kerumah korban memastikan keberadaannya karena khawatir anaknya mendapat perlakukan yang tidak-tidak dari suaminya karena mendapatkan penjelasannya bahwa suaminya MNA sempat meminjam parang miliknya ditambah suami dan korban saat dihubungi tidak ada yang mengangkat HPnya.

Sekitar Pukul 19.15 wita, saksi SAPIRIN dan NAZRI beserta ibu Korban an. SURIAH mengecek kerumah korban sambil memanggil, karena tidak ada jawaban kemudian saksi SAPIRIN dengan di bantu Saksi NAZRI mencongkel pintu menggunakan linggis kecil dan melihat korban sudah tergeletak bersimbah darah sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

“Selanjutnya saksi atas nama NAZRIN mengambil kain sarung yang ada di sebelah kasur korban kemudian menutup tubuh korban,” ucap Kompol Radit.

Atas kejadian ini Polisi Melakukan Olah TKP, Membuat Adminstrasi Penyidikan, Mengamankan Barang Bukti,Melakukan Otopsi, Melakukan Pemeriksaan Terhadap Pelapor Dan Saksi-Saksi, Melakukan Pemeriksaan Terhadap Tersangka, Melakukan upaya hukum berupa penangkapan dan penahanan terhadap tersangka.

“Rencana Tindak Lanjut atas tersebut Polres Lombok Timur berkoordinasi dengan JPU, Melakukan pemberkasan, Melakukan Tahap I (Kirim Berkas Perkara) Ke Kejari Lombok Timur,” Ketus Kompol Radit.

Di waktu yang sama, Kasat Reskrim Polres Lombok Timur, AKP I Made Dharma Yulia Putra, Menyampaikan Terhadap kejadian ini pelaku dikenakan pasal berlapis, yakni Pasal 44 Ayat (3) UU Nomor 23 Tahun 2004.

“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp 45.000.000,- (empat puluh lima juta rupiah)”.

Pasal 340 KUHPidana. “Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.” Lanjutnya

“Serta Pasal 338 KUHPidana “barangsiapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun,” Tutup AKP Dharma.(TT).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *