“Kita sedang mencari pemimpin untuk masyarakat sehingga tidak pantas kita menggunakan politik identitas. Saya juga mengimbau kepada semua simpatisan dan pendukung pasangan BERAMAL (Bersama Ahmad Ali dan Abdul Karim Al Jufri) untuk tidak memfitnah dan mencaci kandidat lain, karena sesungguhnya semua kandidat adalah putra terbaik Sulawesi Tengah yang ingin membangun daerah ini,”.
Dalam setiap pertemuan, Ahmad Ali kerap berulang kali menyampaikan hal itu. Termasuk saat menggelar kampanye dialogis di Desa Wana Mukti Utara, Kecamatan Bolano Lambunu dan Desa Palapi, Kecamatan Taopa, Parigi Moutong pada Kamis (10-10-2024).
Ungkapan harus berpolitik riang gembira, dan itu harus kita implementasikan, yang meluncur dari lisan seorang tokoh nasional sekaliber H Ahmad H. M Ali atau kerap disapa Mat Ali, dan kini beliau berjuang untuk memenangkan pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah Periode 2024-2029 dengan nomor urut 1 berpasangan bersama Abdul Karim Aljufri.
Tentu saja menjadi spirit yang sangat-sangat memacu adrenalin buat digerakkan sebagaimana mestinya.
Makna besar yang terkandung tentunya menjadi inspirasi yang sungguh kreatif dalam rangka membangun adaptifitas memobilisasi kekuatan inheren maupun koheren di blantika perpolitikan republik ini.
Maka tatkala pengimplementasian politik riang gembira dimaksud menjadi peluru kendali Mat Ali sebagai salah satu kekuatan yang dapat memberikan ruang kesahajaan di masyarakat yang kompleks dengan berbagai dinamika sosial, diyakini mampu terartikulasi menuju Sulteng Sejahtera.
Dan jika kemudian Mat Ali beserta pasangannya terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulteng, tentu saja langkah dan langgam yang dimainkan sejak saat ini, demi mempengaruhi pilihan masyarakat Sulteng terhadap dirinya dan pasangannya, harus tetap seirama dalam menjalankan pemerintahan provinsi Sulawesi Tengah mendatang.
Adalah bidang pertanian yang menjadi salah satu fokus Mat Ali saat terpilih di era kepemimpinannya sebagai Gubernur Sulteng mendatang, Sulteng harus bisa berkontribusi untuk ketahanan pangan yang membawa nilai lebih untuk para petani maupun masyarakat.
Fokus untuk pertanian adalah keniscayaan. Bagaimana kemudian pertanian bisa tersenyum, bagaimana kemudian pertanian tidak lagi dihantui oleh gagal panen, yang bagaimana pertanian tidak lagi dihantui dengan tengkulak.
Tentu saja hal ini menjadi sangat seksi sekali. Di tengah-tengah kekayaan sumber daya alam Sulteng yang melimpah ruah, kokohnya pondasi hidup demi menopang kehidupan, benar-benar dirasakan masyarakat manfaatnya dengan stabilisasi sektor pertanian dimaksud.
*Konsolidasi bernas politik riang gembira*
Pendekatan persuasif terhadap berbagai kini sektor lapisan masyarakat, merupakan kenyataan tak terbantahkan yang secara marathon harus dilakukan sesuai situasi dan kondisi di tiap-tiap daerah yang ada di Sulteng.
Kembali kepada kesejahteraan masyarakat, Mat Ali berharap kedepannya, masyarakat Sulawesi Tengah harus hidup lebih baik daripada hari ini. Sulteng ini adalah daerah kaya, tapi sayangnya masyarakat kita masih banyak yang hidup miskin.
Kesejahteraan masyarakat bisa lebih baik jika daerah ini dikelola dengan baik, terutama dengan adanya sinergi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten.
Apalagi pemerintah daerah bisa mendorong masyarakat untuk meningkatkan perekonomian dengan memanfaatkan potensi di sektor-sektor padat karya, pertanian dan perikanan, tidak lagi bergantung pada pertambangan yang dampaknya tidak signifikan untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.
Masyarakat bisa sejahtera dengan mengelola potensi yang ada, ada perikanan, dan banyak potensi yang bisa dikelola, bukan bergantung pada tambang.
Maka, Sulteng sangat butuh pemimpin yang tidak lagi berfikir untuk memperkaya diri sendiri, tapi memikirkan kesejahteraan rakyat.
Salah satu cara untuk mensejahterakan masyarakat nelayan misalnya, dengan memastikan jaminan sosial para nelayan dibiayai oleh pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi.
Apalagi setiap keluarga nelayan yang pergi melaut kedepan harus memiliki jaminan risiko, sehingga ke depan nelayan harus di-cover asuransi.
Oleh : Maulana Maududi (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS / Angkatan 18 Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta)
(BERSAMBUNG)











