Dulu, ada seorang temanku yang nekat bertapa di Gunung Pogogul. Tujuannya mulia: ingin memperoleh ilmu kebal. Ia bertekad kuat, bersemedi selama 3 hari 3 malam, berharap wangsit datang dari alam gaib.
Benar saja, setelah puas bertapa, ia merasa mendapat petunjuk dan pulang ke kampung dengan penuh percaya diri. Setibanya di rumah, ia mengambil silet golok untuk menguji kesaktiannya. Dengan mantap, ia menyayat sedikit kulit lengannya.
Namun alangkah kagetnya—kulitnya justru tersayat dan berdarah! Kesaktiannya tidak sekuat baja seperti harapannya. Merasa tertipu, ia kembali naik ke Gunung Pogogul untuk mencari penjelasan dari sang pemberi wangsit.
Di tempat ia dulu bertapa, ia duduk bersila dan berseru:
“Wahai penguasa gunung ini! Aku sudah bersemedi selama 3 hari 3 malam untuk memperoleh ilmu kebal. Tapi hanya dengan silet saja kulitku terluka. Mana kesaktianku?”
Tiba-tiba dari balik pohon terdengar suara menyeramkan disertai tawa:
“Wahai anak muda… Aku sudah memberimu ilmu kesaktian sesuai permintaanmu… Hahahaha!”
Temanku kembali bertanya,
“Tapi guru, kenapa tubuhku masih bisa terluka? Dimana ilmu kebalnya?”
Sang sosok misterius tertawa keras dan menjawab,
“Hahahaha! Semua sudah sesuai prosedur dan kemampuanmu!”
Dengan bingung, temanku bertanya,
“Maksudnya bagaimana, guru?”
Lalu terdengar suara terakhir,
“Kesaktianmu sudah lengkap… Namanya ILMU KEBAL NASEHAT! Artinya, nasihat apapun tak akan bisa menembus hati dan pikiranmu. Tapi kalau soal kebal senjata tajam, itu bukan bidangku… Hahahaha!”
Setelah berkata demikian, sosok itu lenyap ditelan lebatnya hutan. Tinggallah temanku sendiri, termenung, merenungi nasibnya yang sudah bersusah payah bertapa demi ilmu kebal…
“yang ternyata hanya kebal dari nasihat”.







