Topikterkini.com. Artikel/LOMBOK TIMUR — Ketegangan politik mulai terasa di lingkaran kekuasaan Lombok Timur pasca-Pilkada 2024. Para tokoh dan tim sukses yang selama ini dikenal gigih mendukung calon terpilih, kini justru mengaku tak lagi mendapat ruang komunikasi maupun apresiasi yang layak dari pihak yang kini berkuasa.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat yang secara terang-terangan berjuang di barisan pendukung calon pemenang, mulai kehilangan akses dalam lingkar kekuasaan.
Komunikasi yang dulunya intens, kini disebut-sebut mengalami kebuntuan. Para pendukung merasa perjuangan mereka telah “dipetik” oleh pihak-pihak yang sebelumnya tidak terlihat dalam gelanggang perjuangan politik.
Mereka yang turun langsung ke masyarakat, menyumbang dana, tenaga, bahkan reputasi kami untuk kemenangan. Tapi sekarang justru yang diakomodasi adalah orang-orang yang tak terlihat saat perjuangan dan terlihat justru di abaikan begitulah sebaliknya.
Fenomena ini menimbulkan kekecewaan di kalangan loyalis yang merasa tersisih. Mereka menilai adanya praktik politik transaksional pasca-kemenangan, di mana jabatan, proyek, hingga akses politik justru dinikmati oleh aktor-aktor baru yang dinilai “bermuka dua”,30/06/2025.
Pecah Kongsi Politik SMART, Di bawah kepemimpinan pasangan pemenang yang dikenal dengan jargon SMART, indikasi pecah kongsi mulai terlihat. Ketidakseimbangan dalam pembagian kekuasaan seperti jatah jabatan dan proyek pembangunan daerah ditengarai menjadi pemicu utama. Kelompok-kelompok yang merasa berjasa mulai menunjukkan sikap frustrasi dan kecewa.
SMART seharusnya bijak dalam merangkul semua unsur pendukung. Politik itu soal komitmen dan loyalitas.Terlihat sampai kekuasaan ini memicu konflik internal hanya karena kesalahan dalam manajemen pasca-kemenangan.
Para tim hanya bisa berdoa agar ke pemimpian SMART sesuai dengan Vidi dan Misinya. Memperdulikan masyarskat miskin dan jangan hanya omong – omong saja.
Dalam konteks demokrasi, dinamika ini bukanlah hal baru. Namun jika tidak ditangani dengan arif, ketegangan ini bisa berkembang menjadi konflik yang lebih besar dan merugikan roda pemerintahan serta stabilitas daerah.
Pilkada telah usai, namun konsekuensinya masih bergulir. Para pemimpin terpilih dihadapkan pada tantangan menjaga soliditas dan kepercayaan dari para pendukungnya. Jika suara-suara kekecewaan terus menguat tanpa tanggapan, bukan tidak mungkin dukungan yang dulu solid berubah menjadi resistensi politik di masa mendatang.











