Assalamualaikum Alaikum wr. wb, salam sejahtera Bagi Kita sekalian, Om Suastiastu Namo Budaya Salam Kebajikan
Sabtu (1/11) di salah satu grup WhatsApp “Perhimpunan Tokoh Daerah Kabupaten Buol se-Indonesia.”Beranggotakan para tokoh Buol mulai dari birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh politik, tokoh pers dan LSM, hingga diaspora. Perbincangan sore itu terasa hangat. Diskusi bermula dari satu pesan singkat yang menohok namun sarat makna:
“Sy heran kenapa diskusi diskusi kita seringkali mengungkit hal-hal yg sdh berlalu dan kecurigaannya pun secara hukum tidak terbukti,”
Sementara Buol ini sangat butuh pemikiran pemikiran positif utk berbenah dan bergeliat menuju kemajuan yg berdampak positif bagi masyarakat.”
Pesan itu mengalir seperti cambuk lembut, mengingatkan semua anggota grup bahwa waktu tidak bisa terus dihabiskan untuk menoleh ke belakang. Ada banyak hal besar yang menunggu dikerjakan salah satunya bagaimana Buol bisa bangkit menjadi daerah yang mandiri dalam pangan dan daging.
Beberapa tokoh kemudian menimpali dengan pandangan yang membangun. Adapula narasi yang kritis, skeptis, diskusi kian menarik terbalut narasi Pro kontra. Namun satu hal setidaknya di pemerintahan sebelumnya melalui program “One Man One Cow dan mini ranch” ada yang mengingatkan bahwa Buol pernah punya cita-cita besar menjadi kawasan pengembangan peternakan sapi potong, namun belum sepenuhnya tercapai karena masalah klasik kurang sinergi, minim perhatian, dan keterbatasan dukungan infrastruktur.
Ada pula yang menambahkan bahwa modal alam Buol padang hijau, lahan luas, serta potensi bahan pakan alami sejatinya sudah cukup kuat untuk menjadi basis swasembada daging lokal jika dikelola dengan visi yang jelas. Perbincangan pun menghangat hingga meriwayatkan proses hukum oleh APH yang hingga kini tidak terpenuhinya unsur yang dapat dianggap merugikan negara atau adanya dugaan perbuatan melawan hukum.
Namun dari percakapan itu, lahirlah kesadaran baru bahwa membangun Buol tidak bisa hanya menunggu pemerintah, tetapi perlu gotong royong seluruh elemen dari petani-peternak di desa, pelaku usaha, akademisi, hingga warga Buol di rantau.
Semua memiliki peran, sekecil apa pun, dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah yang berkeadilan.
Diskusi semakin hidup sebahagian tokoh berharap Jangan biarkan perbedaan pandangan membuat kita kehilangan arah.
Kalimat itu menutup percakapan dengan rasa hangat dan harapan. Dari ruang kecil percakapan digital itu, muncul semangat baru semangat untuk berbuat nyata. Bahwa kemajuan Buol tidak akan lahir dari nostalgia atau saling curiga, tapi dari niat tulus untuk berkontribusi dan saling memperkuat.
Refleksi dari diskusi ini jelas,
Buol memiliki peluang besar untuk menjadi pusat peternakan di Sulawesi Tengah, asal dijalankan dengan kerja sama yang solid, kebijakan yang berpihak, dan inovasi yang berkelanjutan.
Kini saatnya berhenti mengulang kisah lama, dan mulai menulis bab baru tentang Buol yang tangguh, mandiri, Hebat dan mampu memenuhi kebutuhan dagingnya sendiri.
Sebuah obrolan sederhana di grup WhatsApp Perhimpunan Tokoh Daerah Buol se-Indonesia mungkin tampak biasa, tapi dari percakapan semacam inilah sering kali lahir kesadaran kolektif, bahwa cinta terhadap daerah tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam langkah-langkah nyata.
“Kito Tandanio Motorligutat”









