Topikterkini.com. LOMBOK TIMUR– Data pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lombok Timur yang mencapai 7,83 persen menuai pertanyaan dari sejumlah kalangan masyarakat.
Keraguan muncul karena Badan Pusat Statistik (BPS) Lombok Timur saat ini masih melaksanakan kegiatan sensus dan pendataan di lapangan.
Bupati dan Sekda baper melihat kondisi angka 7,83% ekonomi di lotim, terlihat masyarakat muli mempeetanyakan fakta realita di lapangan. Banyak nya masyarakat kurang mampu di sisi lain naiknya bahan pokok dan angka PMI melonjat.
Adannya angak ekonoki naik menjadi pertanyaan di belakangan ini.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BPS Lombok Timur, Sri Endah Wardatu, menegaskan bahwa angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis bukan berasal dari hasil Sensus Ekonomi 2026, melainkan dari berbagai sumber data yang dihimpun secara berkala.
“Pertumbuhan ekonomi dihitung setiap triwulan. Untuk Triwulan I, datanya bukan berasal dari Sensus Ekonomi 2026,” kata Sri Endah Wardatu, Minggu (21/6/2026).
Menurutnya, penghitungan pertumbuhan ekonomi dilakukan menggunakan berbagai sumber data, baik dari survei rutin yang dilakukan BPS maupun data pendukung dari lembaga lain seperti Bank Indonesia, lembaga keuangan, organisasi perangkat daerah (OPD), dan sumber resmi lainnya.
“Data pertumbuhan ekonomi kami peroleh dari survei rutin khusus dan sumber lainnya seperti BI, lembaga keuangan, dinas, dan lain-lain,” ujarnya.
Sri menjelaskan, BPS secara rutin melaksanakan berbagai survei sektoral dengan melibatkan petugas lapangan yang bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh BPS RI. Data yang terkumpul kemudian diolah menggunakan metodologi statistik yang berlaku secara nasional.
Ia juga membantah anggapan yang menyebut data BPS tidak akurat atau hanya bertujuan menyenangkan pemerintah daerah. Menurutnya, seluruh proses pengumpulan dan pengolahan data dilakukan secara profesional dan independen.
“Petugas kami turun ke lapangan sesuai SOP. Sumber data kami banyak dan diolah sesuai kaidah statistik,” tegasnya.
Sri menambahkan bahwa perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menjadi dasar pengukuran pertumbuhan ekonomi merupakan proses yang kompleks dan tidak hanya bergantung pada satu jenis data.
“Berbicara mengenai PDRB sangat kompleks, tidak hanya satu sisi data saja. Oleh karena itu sumber data berasal dari internal maupun eksternal,” jelasnya.
Untuk memberikan transparansi kepada publik, BPS Lombok Timur mengimbau masyarakat yang ingin mengetahui lebih rinci terkait data pertumbuhan ekonomi dan metodologi penghitungan PDRB agar mengakses publikasi resmi yang tersedia di laman BPS Lombok Timur.
“Silakan download publikasi kami di website BPS Lombok Timur. Di sana tersedia metodologi penghitungan PDRB yang sangat rinci dan kompleks,” pungkasnya.
Perdebatan mengenai angka pertumbuhan ekonomi tersebut menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap kondisi ekonomi daerah.
BPS memastikan seluruh data yang dipublikasikan telah melalui proses verifikasi dan pengolahan sesuai standar statistik nasional yang berlaku.(TT).











