Topikterkini.com.LOMBOK TIMUR— Anggota DPRD Kabupaten Lombok Timur dari Fraksi Demokrat, Amrul Jihadi, menyoroti sejumlah keluhan masyarakat terkait pelayanan dan kondisi lingkungan RSUD dr. Raden Soedjono Selong.
Menurut Amrul, berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat semestinya menjadi bahan evaluasi bagi manajemen rumah sakit maupun pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.
Ia mengatakan, sorotan terhadap RSUD Selong tidak hanya menyangkut aspek pelayanan, tetapi juga kondisi lingkungan rumah sakit, mulai dari kebersihan, keindahan, hingga sirkulasi udara di sejumlah ruangan.
“Kalau berbicara RSUD kan ada Komisi II. Tetapi secara pribadi kalau saya ke RSUD itu, pertama RSUD itu tidak bersih. Kedua, tidak indah,” ujar Amrul kepada Topikterkini.com saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (29/9/2026).
Amrul juga menyoroti keberadaan taman di lingkungan RSUD Selong yang menurutnya belum terawat secara maksimal. Selain itu, ia mempertanyakan kondisi sirkulasi udara di sejumlah ruangan yang disebutnya banyak dalam keadaan tertutup.
“Meski ada taman, tidak pernah disiram. Berikutnya sirkulasi udaranya itu tidak bagus karena banyak ruangan yang tertutup. Bagaimana sirkulasi udara mau bagus?” katanya.
Ia kemudian membandingkan kondisi lingkungan RSUD Selong dengan RS Sanglah di Bali. Menurut Amrul, pengelolaan lingkungan rumah sakit tersebut dapat menjadi salah satu bahan pembelajaran untuk menciptakan suasana rumah sakit yang lebih nyaman bagi pasien dan keluarga.
“Coba RSUD Selong itu belajar, jalan-jalan ke Sanglah Bali. RSUD-nya punya banyak pohon, sirkulasi udaranya bagus,” ujarnya.
Selain persoalan kebersihan dan sirkulasi udara, Amrul menyoroti kondisi fisik sejumlah bagian bangunan RSUD Selong. Ia menyebut terdapat perbedaan material pada sejumlah koridor dan bagian bangunan rumah sakit.
“Koridor lorong-lorongnya beraneka ragam. Lantainya satu sisi pakai keramik, satu sisi pakai karet. Atap sisi lain pakai spandek, sisi lain pakai genteng. Satu sisi bangunan pakai baja, satu sisi bangunan pakai kayu,” katanya.
Menurut Amrul, pembenahan lingkungan rumah sakit tidak kalah penting dibandingkan pengadaan peralatan kesehatan. Ia berharap pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada penambahan alat kesehatan yang diusulkan dalam APBD Perubahan, tetapi juga memperhatikan fasilitas dan lingkungan rumah sakit.
“Ya rapikan itu dulu supaya kita senang ke sana. Sehingga belum diobati kita sudah sehat,” ujarnya.
Ia menilai rumah sakit idealnya memperhatikan tiga aspek utama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, yakni kenyamanan, keamanan, dan keramahan.
“Saya selalu katakan rumah sakit itu harus ada kenyamanan, keamanan, dan ramah. Kalau tidak ada keramahan, tidak nyaman, tidak indah, ya kita akan tetap kalah sama RS swasta,” katanya.
Amrul juga menyinggung persoalan anggaran RSUD Selong. Ia menyebut dalam APBD Perubahan terdapat usulan penambahan anggaran berupa pinjaman untuk pengadaan alat kesehatan (alkes) sekitar Rp27 miliar.
Selain itu, menurut Amrul, RSUD Selong setiap tahun masih melakukan pinjaman dengan nilai yang disebutnya rata-rata sekitar Rp23 miliar.
“Mau surplus mau tidak RSUD tetap minjam, jadi itu juga yang saya tanyakan dalam rapat pembahasan. Kenapa RSUD itu minjam terus setiap tahun, padahal dia surplus, di mana retribusi jasa pelayanan itu bertambah Rp8 miliar dari target,” ujarnya.
Amrul mempertanyakan penggunaan tambahan pendapatan tersebut dan meminta agar peningkatan pendapatan pelayanan juga diperhitungkan dalam upaya mengurangi beban pinjaman rumah sakit.
“Harusnya tambahan Rp8 miliar itu dia rincikan untuk mengurangi hutang. Dari dulu ngutang terus Rp23 hingga Rp30 (miliar),” katanya.
Sementara itu, terkait berbagai sorotan tersebut, pihak manajemen RSUD dr. Raden Soedjono Selong belum memberikan tanggapan dalam bahan keterangan yang diterima.
Amrul menegaskan bahwa peningkatan kualitas rumah sakit menurutnya bukan hanya berkaitan dengan keberadaan dokter dan peralatan medis, tetapi juga menyangkut kenyamanan lingkungan serta sikap pelayanan kepada pasien.
“Meski dokternya sama, tetapi di RS swasta sana mereka tetap senyum. Kalau di sini RSUD tetap mingkem, padahal sama orangnya, sama sumpahnya,” demikian Amrul.
(Harianang).











