KALIMANTAN SELATAN

Mushola Fathul Khoir Terlantar Sejak 1978, Warga Banjarmasin Tengah Minta Perhatian Pemerintah Kota Banjarmasin

0
×

Mushola Fathul Khoir Terlantar Sejak 1978, Warga Banjarmasin Tengah Minta Perhatian Pemerintah Kota Banjarmasin

Sebarkan artikel ini

Kondisi Mushola Fathul Khoir Memprihatinkan, Nasib Marbot dan Rumah Allah Layak Jadi Perhatian Serius

BANJARMASIN, TOPIKTERKINI.COM -Mushola atau Langgar Fathul Khoir yang berlokasi di Kelurahan Banjarmasin Tengah, Kecamatan Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, kini berada dalam kondisi memprihatinkan. Padahal, tempat ibadah ini telah menjadi rumah Allah bagi warga sekitar sejak tahun 1978. Dengan usia hampir setengah abad, langgar tersebut seolah terlupakan dari perhatian pemerintah, baik dari tingkat kelurahan, kecamatan, hingga Pemerintah Kota Banjarmasin. Ironisnya, lokasi mushola berada tepat di samping Bank BRI serta beberapa perusahaan swasta lainnya yang secara visual jauh lebih terawat dan kokoh.

Secara fisik, bangunan Mushola Fathul Khoir menunjukkan kerusakan cukup parah di berbagai bagian. Genteng atap sudah rusak dan berpotensi membahayakan jamaah saat musim hujan. Cat dinding kusam dan memudar, mencerminkan betapa lama tempat suci ini tidak pernah mendapat perawatan layak. Alat penunjang ibadah seperti mikrofon mushola juga dalam kondisi tidak berfungsi dengan baik, sehingga kenyamanan salat berjamaah dan kegiatan keagamaan sangat terganggu. Fasilitas dasar seperti WC, toilet, dan tempat wudu pun tidak layak digunakan, menyulitkan jamaah terutama lansia dan anak-anak.

Kepada jurnalis Topik Terkini, sejumlah tokoh masyarakat membenarkan keluhan warga terkait minimnya perhatian pemerintah. Rusdianto, Ketua RT.09, dan Om Asyura dari RT.05, serta pengurus RW setempat secara tegas menyatakan bahwa pihak kelurahan, kecamatan, hingga Pemerintah Kota Banjarmasin belum pernah memberikan perhatian serius terhadap langgar tersebut. Selama puluhan tahun, Mushola Fathul Khoir seolah hanya menjadi bangunan yang ada tanpa dukungan pemeliharaan dari pihak berwenang.

Kritik pun dilayangkan kepada Pemerintah Kota Banjarmasin dan Kelurhan Banajrmasin Tengah,Serta Kecamatan Banjarmasin tengah,Warga merasa, keberadaan mushola di tengah kawasan yang berdekatan dengan institusi perbankan negara dan perusahaan swasta seharusnya menjadi perhatian lebih, terutama dari sisi keamanan dan kenyamanan lingkungan. Namun faktanya, belum ada program pembinaan maupun bantuan renovasi yang menyentuh Mushola Fathul Khoir hingga saat ini. Polsek Banjarmasin Tengah pun diharapkan dapat turun tangan memastikan kondisi lingkungan sekitar tempat ibadah tetap kondusif dan aman bagi warga.

Nasib marbot atau pengurus mushola menambah derita panjang cerita ini. Selama bertahun-tahun, kesejahteraan kaum mushola tidak pernah didapatkan dari pihak manapun. Untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, marbot terpaksa berjualan di samping mushola. Bahkan, kondisi ekonomi sulit itu dijalani sejak masa hidup hingga akhir hayat mereka. Fakta ini menunjukkan betapa besar ketidakpedulian struktural yang menimpa para penjaga rumah Allah di tengah kota.

Kontras antara Mushola Fathul Khoir dengan bangunan di sebelahnya seperti Bank BRI menciptakan kesenjangan yang menyakitkan. Di satu sisi institusi ekonomi berdiri megah dan terawat, di sisi lain rumah Allah justru terbengkalai. Situasi ini memunculkan pertanyaan moral dan kebijakan, apakah pemerintah kota hanya fokus pada kawasan komersial dan melupakan ruang spiritual warga yang telah bertahun-tahun menjadi penopang kehidupan keagamaan masyarakat.

Namun di balik keterlantaran itu, ada kisah haru tentang ketulusan Alm. Mahyudi, kaum Mushola Fathul Khoir yang wafat pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Semasa hidup, beliau tidak pernah mendapat perhatian dari pihak manapun. Untuk memenuhi kebutuhan mushola, mulai dari memperbaiki genteng rusak hingga membeli mikrofon mushola yang mati, beliau menyisihkan hasil berdagang sendiri dari kios kecilnya yang menjual snack anak, rokok, dan jual bensin eceran di samping mushola. Selain khusyuk menjalankan salat lima waktu dan mengadukan segala derita hanya kepada Allah, Alm. Mahyudi dikenal sebagai pencinta makhluk hidup, utamanya kucing lucu peliharaannya yang ia rawat dengan kasih sayang meniru kecintaan Rasulullah. Ia selalu menyisihkan hasil kios untuk membeli makanan kucing-kucing tersebut dan menitipkannya di mushola. Kini setelah kepergian beliau, tidak ada sepeninggal beliau yang menjaga, baik nasib mushola maupun kucing-kucing lucu yang ia tinggalkan, menyisakan duka dan pertanyaan pilu bagi warga.

*Jurnalis : Danu
*Editor : Muhammad Nanda
*Sumber : KETUA RT,KETUA RW Setempat

Penulis: DanuEditor: Muhammad Nanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *