ARTIKEL

Hancur Leburnya Sportivitas dan Fair Play di Arena Sepak Bola PON XXI

101
×

Hancur Leburnya Sportivitas dan Fair Play di Arena Sepak Bola PON XXI

Sebarkan artikel ini

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Betapa miris saat kita menyaksikan berbagai tayangan melalui media sosial, sangat-sangat jelas dan faktual mempertontonkan betapa bobroknya mentalitas wasit sebagai juru adil di lapangan dan kedewasaan para pemain dalam permainan sepakbola.

Alih-alih ingin menyaksikan tontonan permainan yang berkualitas, tampak jelas dari berbagai cuplikan di berbagai chanel youtube yang beredar, para pemain team sepakbola PON Aceh yang merasa dilindungi oleh wasit plus bermain di kampung sendiri, benar-benar mempertontonkan kualitas dan mentalitas kampungan.

Berbagai tindakan kasar dan menjurus sadis yang dipertontonkan para anak muda Aceh di pertandingan sepakbola level PON XXI kali ini.

Yang tidak lagi segan-segan bahkan dengan segala melakukan tindakan kasar dengan tendangan bahkan dengan sengaja melakukan sikutan kepada pemain lawan.

Dan celakanya, wasit tidak ambil peduli dan seolah-olah menganggap jeritan dan erangan hingga menggelepar di lapangan para pemain Sulawesi Tengah di setiap tindakan terjangan dan pukulan dari pemain Aceh, hanya dianggap sebuah lelucon dan sama sekali tidak diperdulikan.

Puncaknya, kesabaran pemain Sulawesi Tengah telah habis dengan prilaku wasit Eko yang diduga telah menerima siap dari pihak tuan rumah, mendapatkan karma akibat kesengajaan melakukan pembiaran akan kesadisan para pemain Aceh kepada anak-anak Sulawesi Tengah.

Diawali diving pemain PON Aceh di kotak pinalti, lantas sang wasit dengan pongahnya berlari menunjuk titik putih.

Namun tanpa disadarinya, salah seorang pemain Sulawesi Tengah telah siap memberikan kado indah berupa bogem ke wajah wasit yang kasat mata dapat dinilai telah melakukan kecurangan secara masif dengan merugikan team sepakbola PON Sulawesi Tengah.

Dan akibat dari bogem itu, wasit Eko merasakan akibatnya hingga tak sadarkan diri sehingga langsung diangkut ambulance menuju Rumah Sakit.

Drama terus berlanjut, hingga pada akhirnya official team sepakbola Sulawesi Tengah memutuskan WO akibat dari atmosfer yang dipertontonkan team tuan Aceh beserta wasit pengganti tetap menzhalimi para pemain Sulawesi Tengah.

Beranjak dari kejadian tersebut, tentu saja hal ini menjadi tamparan keras dunia olahraga nasional umumnya dan cabang olahraga sepakbola pada khususnya.

Sah-sah saja jika kemudian, PSSI sebagai induk olahraga sepakbola melakukan langkah tegas dengan memberikan sanksi kepada wasit dan pemain yang melakukan pemukulan.

Namun bukan bermaksud untuk memberikan pembelaan secara sepihak, PSSI juga harus mengusut tuntas mafia sepakbola yang mengitari arena PON XXI kali ini.

Sehingga memunculkan arogansi wasit yang dengan semena-mena dalam mengambil keputusan dan melakukan berbagai kecurangan dalam melakukan pembiaran terhadap aksi sadis para pemain Aceh yang dengan membabi-buta menendang kaki para pemain Sulteng lagi menggiring bola bahkan juga dengan sengaja mendatangi dan menyikut wajah dan badan para pemain Sulawesi Tengah yang sudah terjatuh kesakitan.

Jelas sebagai pengamatan yang menorehkan tinta pengamatan dari kejadian tersebut, penulis sangat menyesalkan berbagai aneka kejadian sepanjang pertandingan itu.

Dan jika sama-sama ditonton bersama hasil rekaman secara keseluruhan pertandingan itu, mayoritas jutaan penduduk di negeri ini yang menontonnya akan sepakat mengatakan bahwa suasana pertandingan itu menunjukkan puncak kegagalan Aceh selaku tuan rumah PON XXI kali ini.

Betapa tidak, tuan rumah Aceh berhasil mempertontonkan berbagai tingkah dan pola kampungan dalam berolahraga.

Sportivitas yang seharusnya dijunjung tinggi, tidak lagi menjadi tolak ukur tuan rumah Aceh dalam merajut persatuan dan kesatuan bangsa.

Bagi panitia PON dari tuan rumah Aceh, sangat jelas ingin menunjukkan ketidakmampuan mereka bersaing secara kualitas dalam bermain sepakbola, namun dengan hasrat ingin meraih kepingan emas di arena PON ini.

Tuan rumah Aceh disinyalir melalui team sepakbolanya ditopang dengan aneka kecurangan yang dilakukan wasit, berhasil memporak-porandakan fair play sekaligus menunjukkan kepada ibu Pertiwi bahwa segala cara dapat dihalalkan untuk meraih sesuatu walaupun dengan cara mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa. Na’uzubillahiminzalik…

Sementara manager Sepakbola Sulawesi Tengah, Susik, meminta maaf kepada warga Indonesia terkhusus di Aceh soal pemukulan wasit Eko Agus Sugih Harto dalam laga kontroversi antara Aceh melawan Sulawesi Tengah pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024.

Menurut dia, tindakan dari pemain Rizki Saputra dalam laga itu merupakan spontanitas dan bentuk protes kepada wasit yang dinilai tidak fair dalam laga tersebut.

Saya mewakili ASPROV Sulawesi Tengah menyampaikan permohonan maaf, seluruh masyarakat Aceh, seluruh masyarakat yang ada di Indonesia, dengan pemukulan yang terjadi bukan dilakukan dengan direncanakan atau disengaja,” kata Susik, saat ditemui di Banda Aceh, Ahad, 15 September 2024.

Dia menjelaskan, kondisi saat laga tersebut sangat tidak dapat dikontrol, ditambah beberapa kali keputusan wasit yang dinilai kontroversi, sehingga memancing emosi pemain.

“Itu spontan karena anak-anak ditekan oleh wasit, dengan pemukulan yang terjadi bukan dilakukan dengan direncanakan atau sengaja,” kata Susik.

Susik meminta supaya komisi yang menangani perwasitan mengevaluasi wasit yang memimpin laga tersebut. Sebab, laga tersebut dinilai tidak adil.

“Di babak pertama sudah mulai tidak fair, mulai sejak gol menit 25 dari situlah wasit sudah mulai tidak fair. Kita melihat streamingnya seperti apa, beberapa kali pelanggaran yang harus di tiup di pemain kami. Dari situ kami sabar, tetap junjung tinggi sportifitas, dan akhirnya ada beberapa benturan-benturan yang seharusnya tidak terjadi,” kata Susik.

Susik berharap Persatuan Seluruh Sepakbola Indonesia (PSSI) melakukan investigasi secara mendalam terkait persoalan tersebut.

Ia juga meminta Erick Thohir selaku ketua umum untuk tidak melihat sepenggal-penggal video laga tersebut.

“Jangan dilihat penggalan. Berpikirlah secara nasional, karena ini tim junior yang mana akan bermain juga jika kelak dipanggil indonesia. Jangan membuat citra sepakbola semakin jelek, saya pikir kalau berlisensi nasional itu bisa profesional akan tetapi dengan tadi malam no,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI), Erick Thohir, mengecam keras laga kontroversi antara Aceh melawan Sulawesi Tengah pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024, yang diwarnai pemukulan wasit, Eko Agus Sugih Harto.

“PSSI menegaskan sanksi terberat mengancam pemain dan wasit yang terlibat dalam peristiwa. Memalukan. Sangat memalukan. PSSI akan mengusut tuntas peristiwa ini dan akan menjatuhkan sanksi terberat,” kata Erick Thohir, dalam keterangan tertulis, Ahad, 15 September 2024.

Erick memastikan pihaknya akan melakukan investigasi mendalam, mulai dari kepemimpinan wasit yang dinilai penuh kejanggalan.

Di samping itu reaksi yang sangat tidak sportif pemain juga dipastikan berbuah sanksi terberat.

“Pastinya akan dilakukan investigasi mendalam. Indikasi pertandingan yang tidak fair menjadi materi serius yang ditelaah. Pun halnya reaksi pemain yang dipastikan berbuah sanksi yang sangat berat,” ujar Erick.

Erick mengatakan sanksi larangan seumur hidup pun mengancam wasit dan pihak-pihak lain jika terbukti mengatur hasil laga.

Namun ia menegaskan bahwa tak ada justifikasi bagi pemain untuk melakukan aksi pemukulan.

“Ini adalah tindakan kriminal yang punya konsekuensi hukum. Skandal soal keputusan wasit jadi hal lain yang juga punya konsekuensi hukum jika memang ternyata terindikasi diatur oleh oknum tertentu,” ucap Erick.

Erick menilai peristiwa ini mencoreng kehormatan sepakbola Indonesia yang mulai menunjukkan titik cerah. Demi marwah dan tidak untuk mencegah peristiwa serupa tak terulang, Erick menjamin hukuman yang diberikan menjadi salah satu hukuman paling berat.

“Tidak ada toleransi bagi pihak yang telah dengan sengaja melanggar komitmen fair play. Sanksi bukan sekadar hukuman melainkan statement dari sepak bola Indonesia yang tidak mentolerir sedikitpun praktik di luar fair play,” tegas Erick.***

 

Oleh : Maulana Maududi (Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Central Analisa Strategis – DPP CAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *