Kelangkaan BBM Terus Terjadi di Wakatobi, Pemda Dinilai Tak Mampu Berikan Solusi

oleh -

TOPIKterkini.com, WAKATOBI – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) berupa premium dan solar disetiap Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus terjadi sejak tahun 2018 lalu.

Sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi kelangkaan BBM tersebut, kelompok massa yang tergabung dalam Barisan Orator Masyarakat Kepulauan Buton (BOM kepton) melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Wakatobi pada Senin (10/6/2019). Massa menilai Pemerintah daerah (Pemda) setempat tidak mampu memberikan solusi terbaik yang berpihak kepada masyarakat nelayan selaku para pengguna BBM.

La Ode Muhammad Syai Roziq Arifin selaku Jenderal lapangan (Jenlap) dalam aksi tersebut meminta Pemda Wakatobi harus tegas dalam menyikapi persoalan kelangkaan BBM.

“Ini adalah Aksi jilid 4 yang kami lakukan terkait dengan masalah BBM dan apabila tuntutan kami saat ini tidak di indahkan secepatnya, maka akan ada aksi berjilid selanjutnya sampai masalah ini selesai,” ungkapnya.

Dikatakannya, hasil investigasi yang dilakukan BOM Kepton beberapa waktu lalu, Depot Pertamina Kota Baubau diketahui telah menyalurkan BBM jenis Premium kurang lebih berkisar 500 ton (500.000 Liter) dalam setiap pendistriusian. Sementara itu, penyaluran BBM jenis Solar untuk Kabupaten Wakatobi berkisar kurang lebih 250 ton (250.000 Liter) yang diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat luas di Kabupaten Wakatobi.

“Sangat disayangkan dan sangat mengherankan, kita sudah memiliki 4 APMS di pulau Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi dan merupakan penyuplai terbanyak, tapi kelangkaan BBM masih saja terjadi di masing-masing APMS. Hal ini di duga kuat adanya para mafia pelaku kejahatan terhadap BBM, sehingga turut menyengsarakan masyarakat Wakatobi,” ucap Roziq.

Salah satu tuntutan yang disuarakan massa aksi, Pemerintah Kabupaten Wakatobi diminta untuk mengevaluasi kembali seluruh kegiatan APMS di daerah tersebut, termasuk APMS PT. Fajar mekar dan APMS lainnya yang ada di Kabupaten Wakatobi. Selain itu, Pemda Wakatobi juga diminta untuk segera mencabut seluruh izin pemberian BBM bersubsidi bagi para APMS nakal.

Massa BOM Kepton juga sangat menyayangkan kinerja Kepala Dinas Perindag Wakatobi yang pernah menyatakan sikap dihadapan masyarakat nelayan pada aksi jilid 3, bulan Desember 2018 lalu terkait masalah BBM.

Diungkapkan pula oleh Roziq, Kepala Dinas Perindag Wakatobi beberapa waktu lalu telah menyatakan sikap, untuk membentuk tim terpadu guna melakukan upaya penyelesaian terhadap kelangkaan BBM yang terjadi hingga saat ini.

“Dia berkata, berikan saya waktu satu minggu untuk bekerja dan ketika saya tidak mampu menyelesaikan masalah ini saya akan mundur dari jabatan saya. Namun Kepala Dinas Perindag hanya berbicara omong kosong dan hasilnya nol. Bupati harus copot Kadis Perindag karena dinilai telah membohongi dan memperbodohi masyarakat Wakatobi,” ujar Roziq menirukan perkataan Kepala Dinas Perindag.

Sebagai bentuk respon dan tanggapan atas aksi tersebut, Bupati dan Sekda Wakatobi menerima proses hearing bersama masyarakat yang tergabung dalam barisan BOM kepton. Pemda juga diminta untuk mengevaluasi seluruh kegiatan APMS, serta memberikan sanksi tegas terhadap APMS nakal di Kabupaten Wakatobi.

Dari hasil komunikasi sebelumnya, pihak Pertamina Depot Kota Baubau pernah menyampaikan, bahwa stok BBM di Wakatobi tidak akan habis meskipun masyarakat menggunakannya untuk mandi. Pernyataan tersebut mengandung maksud bahwa stok BBM yang didistribusikan di Kabupaten Wakatobi sudah lebih dari cukup. Namun sangat disayangkan hal tersebut masih berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, hingga saat ini masih sering terjadi kelangkaan BBM di Wakatobi.

“Apabila kelangkaan BBM masih terus terjadi serta tidak ada titik penyelesaian, maka kami selaku agen sosial kontrol kebijakan publik tidak pernah gentar dan terus berjuang untuk menyuarakan persoalan ini, agar masyarakat luas khususnya para nelayan sebagai pengguna BBM tidak terus jadi korban,” kata Roziq melalui sambungan telepon selulernya, Rabu malam (12/6/2019). (**)

Laporan Jurnalis Kepton: Anton

Loading...