oleh

Mengutip obrolan @Riri Riza, tentang film Makassar

TOPIKTERKINI.COM – MAKASSAR: Dalam pendapatku, sebenarnya istilah film daerah atau regional itu sama saja dengan film Makassar, film Jogja atau film dari Sumatera Barat, atau bahkan film buatan Jakarta.

Menurutku ini soal ‘klasifikasi dan penggolongan’ untuk memudahkan pengkajian identitas saja, bahkan harusnya bisa menunjukkan kebanggaan identitas karena cerita yang terkait dengan karakteristik wilayah asalnya berupa kebudayaan atau latar alam lokasi yang khas.

Dalam sebuah diskusi di Festival Film international Fukuoka lalu, direktur festival yang juga adalah seorang akademisi film mengemukakan konsep bahwa masa depan sinema Asia adalah Regional Cinema. ‘

Regional Cinema is ties to regional space and state of the arts motion picture (Hariki Yasuhiro, Fukuoka IFF director).

Ada kata kata ‘space’ yang luas makna dan state of the arts motion picture : produksi film dengan kualitas estetika yang tinggi. Jadi, memang pembuat film yang harus mendorong penciptaan yang semakin berkualitas.

Film seperti Kado dan Uang Panai misalnya adalah film daerah atau film regional. Tapi banyak kemungkinan kita mengkaji perbedaan keduanyanya mulai dari politik, ekonomi maupun estetika.

Dalam konsep ‘nasional’ yang banyak diusulkan oleh orde baru, semua memang berhak disebut film Nasional. Tapi di masa sekarang film Makassar boleh juga menyebut dirinya sebagai film daerah atau regional saat ingin menyasar target pasar yang lebih spesifik misalnya.

Mungkin yang harus diperhatikan adalah jangan sampai karena tergolong film daerah kualitasnya ‘diizinkan’ untuk lebih rendah daripada film yang disebut film nasional.

Penulis: Andi Agung Iskandar/Redaksi

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed