oleh

Istigfar Sosial dan Kisah Penjual Roti

Istigfar Sosial dan Kisah Penjual Roti

Catatan Pinggir:
Bahtiar Parenrengi

Media sosial merupakan salah satu media yang berkembang paling pesat saat ini. Perkembangannya bisa dilihat dalam survei, sekitar 70% dari pengguna internet diseluruh dunia, juga aktif dalam media sosial, seperti Facebook dan Twitter.

Untuk di Indonesia, kompas.com menulis bahwa lebih dari separuh penduduk di Indonesia telah “melek” media sosial. Ini adalah temuan riset daro We Are Social, perusahaan media sosial asal Inggris, bersama dengan Hootsuite.

Dalam laporan “Digital Around The World 2019”, terungkap bahwa dari total 268,2 juta penduduk di Indonesia, 150 juta di antaranya telah menggunakan media sosial. Dengan demikian, angka penetrasinya sekitar 56 persen.

Tingginya penggunaan medsos tersebut tentu memberi dampak yang tak sedikit pula.
Banyak kasus yang mencuat dan berakhir di bui.

Tentu ini menjadi pedang bermata dua. Karena disamping manfaatnya juga memiliki efek negatif yang tak sedikit pula.

Sehingga jangan heran, kita bisa melihat penggunanya saling sindir, saling ejek, saling hujat dan aneka tampilan yang melewati etika dan agama.

Penggunaan media sosial telah menyebabkan segudang masalah, antara lain pergeseran budaya dari budaya tradisional menjadi budaya digital. Generasi yang tumbuh dalam budaya digital memiliki kecenderungan bersifat menyendiri (desosialisasi).

***
Sebagai pedang bermata dua, harusnya kita lebih berhati-hati dalam bermedsos. Mawas diri tentu harus terjaga, jika tidak mau menjadi pesakitan.

disisi lain, media sosial juga memiliki banyak manfaat. Pesan-pesan moral bisa tersampaikan dengan syahdu. Ajakan silaturrahmi bisa terbangun kembali, serta bisa promo jualan yang keuntungannya tidak sedikit.

Contoh yang bisa kita liat baru-baru ini, YouTuber Ferdian Paleka belakangan ini ramai diperbincangkan karena aksi tak terpuji, membagikan sembako berisi sampah kepada dua waria. Karena perbuatannya dianggap meresahkan, kini dia ditangkap oleh Kepolisian Daerah Jawa Barat.

Mungkin terinsfirasi dengan gaya ngeprank ini, seorang gadis warga Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan melakukan aksi prank.
Aksinya pun langsung ramai dibincangkan di media sosial.

Aksi wanita ini cukup berani karena mengaku terindikasi virus covid 19, saat datang di Rumah Sakit Hapsah dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tenriawaru Kabupaten Bone.

Media online bonepos.com menuliskan bahwa wanita tersebut diantar oleh temannya karena mengaku sesak napas setelah melakukan kontak dengan kakeknya yang positif Covid-19 di Papua. Aksi tersebut ternyata hanyalah aksi prank.

Lain lagi dengan Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono. Budi juga sempat viral di media sosial karena hanya bergaji 5,9 juta lebih. Budi kian viral saat di wawancara oleh pengacara kondang, Hotman Paris.

Dalam pengakuannya, beliau memang hanya menerima gaji sebanyak itu. Hal lain adalah ketuka pengalaman berharga dia rasakan, mati suri. Dalam proses itu, dia merasakan siksaan yang hebat, dan saat itulah diminta oleh seorang anak kecil untuk ber- Istigfar. Pengalaman itulah, sehingga memilih menjadi seorang muallaf.

Istigfar menjadi penentu arah hidup Budhi Sarwono. Dengan pesan Istigfar saat mati suri menjadikannya memilih masuk Islam.

***
Istiġfār adalah tindakan meminta maaf atau memohon ampunan kepada  Allah yang dilakukan oleh umat Islam.

Hal ini merupakan perbuatan yang dianjurkan dan penting di dalam ajaran Islam.
Astaghfirullah, itu berarti “Saya memohon ampunan kepada Allah”. Menyerahkan diri untuk diampuni kesalahan yang diperbuat.

Istigfar ini pulalah yang diamalkan oleh seorang si tukang roti, hingga membuatnya hidup bahagia, tenang dan hidupnya berkecukupan.

Seperti yang ditulis dalam sumber : manakib imam Ahmad. Bahwa Imam Ahmad dipertemukan dengan salah seorang pembuat/ penjual roti saat dirinya menjadi musafir.

Imam Ahmad bin Hanbal ra (murid Imam Syafi’i) dikenal juga sebagai Imam Hanbali, saat akhir hidupnya melakukan perjalanan ke Irak.

Imam Hambali harus menginap dirumah penjual roti, karena dilarang salah seorang marbot saat akan bermalam di Masjid.

Dikediaman penjual roti inilah, Imam Hambali melihat sesuatu amalan yang tidak biasanya. Penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau imam Ahmad ngajak ngomong, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, Astaghfirullah. Saat meletakkan garam astaghfirullah, memecahkan telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Selalu mengucap istighfar.

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu bertanya “sudah berapa lama kamu lakukan ini?”. Orang itu menjawab “sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan”. Imam Ahmad bertanya : “apa hasil dari perbuatanmu ini?”, orang itu menjawab “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta ya Allah…., langsung diterima”. (memang Nabi saw pernah bersabda :”siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya). Lalu orang itu melanjutkan “semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan”.

Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya “apa itu?”. Kata orang itu “saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad”. seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu”..(penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad).

Kekuatan Istigfar adalah kekuatan tobat. Kekuatan pembersih agar iman selalu terpelihara. Istigfar menjadi pelicin agar doa-doa kita diijabah.

Tentu inilah yang menjadi dasar amalan si tukang roti untuk selalu beristigfar. Ini menjadi contoh bagi kita semua dalam beraktifitas, termasuk ber-medsos.

Alangkah indahnya, disetiap gerakan tangan untuk menulis cuitan kita melafaskan Astagfirullah. Tentu ini langkah mewujudkan harapan kita, mewujudkan doa-doa kita dengan jalan keridhaan Allah. Kita butuh kesadaran bersama dalam bermedsos, “gerakan Istigfar Sosial”, sehingga pelaku medsos menjadi pelaku yang santun dan damai.

Semoga kita bisa ngaca diri, sadar diri dan mawas diri. Diri yang selalu ngaca, otomatis akan tau kekurangan sendiri. Tentu akan sadar dan mawas diri dalam bertindak. Dapatkah terwujud? Tentu kembali kepada kita semua.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed