oleh

Makam Raja-raja mandar wisata tersembunyi di sulbar

Makam Raja-raja mandar potensi wisata tersembunyi di sulbar

Selain panorama alam yang beraneka ragam, terdapat aktivitas wisata lain yang kita bisa nikmati di Sulawesi Barat. Yakni napak tilas atau ziarah ke makam-makam leluhur Suku Mandar.

Salah satunya makam Raja Balanipa pertama, di Desa Napo, Kecamatan Limboro, Polewali Mandar. Kendati terkesan seram, tapi sebenarnya plesiran ke peristirahatan terakhir para raja bisa menyenangkan karena menambah khazanah pengetahuan kita.

Jenis wisata sejarah yang sekilas tak lumrah ini sudah dilakoni sejumlah anak muda Mandar. “Walau banyak yang tanya, wisata kok ke kuburan,” kata Sri Wahyuni, lalu tergelak. Padahal di makam raja, Sri tak semata ziarah. Ia sekaligus mengenang lagi sosok para pemimpin Kerajaan Balanipa dan mempelajari sejarahnya. Misalnya soal makna motif nisan –apakah peninggalan Islam ataukah bukan, juga arah makam yang menghadapi timur maupun barat.

Kerajaan Balanipa yang dikenal dengan sebutan Arajang ri Balanipa, sangat besar di jazirah Mandar pada zamannya. Bahkan nama Mandar konon berasal dari nama sungai yang berpusat di Kerajaan Balanipa, dengan hulu di bagian Pitu Ulunna Salu. Kerajaan ini diperkirakan berdiri sekitar abad 16 atau 1511 Masehi.

Posisi Balanipa dalam Pitu Ba’bana Binanga adalah sebagai “bapak” yang sangat berperan pada masanya. Kekuasaannya meliputi Appeq Banua Kaiyyang atau empat kampung besar. Yaitu Napo, Samasundu, Todang-todang, dan Mosso.

Kendati begitu, tak banyak jejak sejarah yang ditinggalkan. Baik itu istana, pusaka atau senjata keramat, maupun koleksi kerajaan yang lain. Kita bisa mendapat cuilan sejarah Kerajaan Balanipa dari naskah La Galigo.

Namun ada juga sejarawan yang menyebut permulaan kerajaan ini sama dengan masa pemerintahan Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumappa’risi Kalonna. Raja ini memerintah pada 1511 hingga 1547 Masehi.

Sedangkan dari sumber lisan yang hidup turun-temurun, kita mengenal sosok I Manyambungi. Dia adalah raja pertama Balanipa yang juga putra Tomakaka Napo. Tokoh bergelar Todilaling itu konon pernah merantau ke Gowa dan diangkat sebagai anggota kerajaan. Bahkan ia kemudian menikahi Karaeng Surya atau I Sorai. Perempuan ini adalah putri dari Karaeng Sanrobone, cucu dari Raja Gowa.

Alternatif wisata sejarah lainnya adalah mengunjungi gugusan Pulau Tangnga Tangnga.

Destinasi wisata itu bukan cuma cantik, tapi juga punya sejarah menarik. Ini karena di sana ada makam Syekh Abdul Rahim Kamaruddin, ulama yang menyebarkan Islam di pesisir pantai Sulawesi Barat. “Paket” wisata alam sekaligus sejarah seperti ini menarik. Karena sejarah jadi terasa tak monoton, karena kita mempelajarinya di tempat yang indah.

Makam Raja-raja mandar potensi wisata tersembunyi di sulbar

Komentar

News Feed